Kamis, 07 MEI 2026 • 18:05 WIB

Sleman Jadi Penyumbang Investasi Terbesar di DIY Triwulan 1 Tahun 2026 Capai Rp1,15 Triliun, Industri Hingga Hotel Jadi Sektor Primadona

Author

Penampilan dari musisi asal Korea Selatan, Jae Park, di panggung Prambanan Jazz Festival (PJF) ke-11. (Olivia Rianjani)

JOGJA - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman mencatat capaian realisasi investasi sebesar Rp1,15 triliun pada triwulan pertama tahun 2026. Nilai tersebut menjadikan Sleman sebagai penyumbang terbesar realisasi investasi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan kontribusi mencapai 57 persen.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sleman, Triana Wahyuningsih mengatakan capaian tersebut menjadi perhatian dalam evaluasi yang dilakukan Kementerian Investasi/BKPM pada Mei 2026.

"Pada triwulan pertama ini capaian realisasi investasi kita sebesar Rp 1,15 triliun. Pemerintah Kabupaten Sleman menjadi penyumbang pertama di DIY dengan kontribusi sebesar 57 persen dari target DIY sebesar Rp 2,014 triliun," ujarnya dalam jumpa pers, pada Kamis (7/5/2026).

Ia menjelaskan, nilai investasi tersebut berasal dari 2.637 proyek investasi. Rinciannya, Penanaman Modal Asing (PMA) sebanyak 331 proyek dengan nilai investasi Rp 512 miliar, sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp638 miliar dari 2.306 proyek.

"Dari capaian realisasi investasi ini, kita mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 3.438 orang di Kabupaten Sleman," katanya.

Menurut Triana, angka investasi tersebut menunjukkan pertumbuhan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Kalau dibandingkan triwulan pertama tahun 2025, capaian ini naik sebesar 16,60 persen. Sedangkan dibanding kuartal sebelumnya meningkat hingga 93,29 persen," katanya.

Sektor industri menjadi penyumbang terbesar realisasi investasi di Sleman, disusul sektor transportasi dan telekomunikasi, hotel dan restoran, jasa lainnya seperti ekonomi kreatif, perbankan, rumah sakit, jasa keamanan dan konsultan, serta sektor perdagangan dan reparasi.

Sementara itu, lima negara penyumbang PMA (Penanaman Modal Asing) terbesar di Sleman yakni Kepulauan Virgin Inggris, Singapura, Belanda, Australia dan Cyprus.

Baca juga: DIY Terima BKK Danais 2026 Rp 312,24 Miliar, Kota Jogja Kebagian Rp 41,3 Miliar Fokus Tangani Dua Masalah Ini

Rincinya, Kepulauan Virgin Rp 442,4 miliar, disusul Singapura Rp 35,9 miliar, Belanda Rp 19,8 miliar, Australia Rp 8,2 miliar, Cyprus Rp 4,9 miliar.

"Penyumbang terbesar PMA berasal dari Kepulauan Virgin Inggris dengan realisasi investasi sebesar Rp 442,4 miliar," beberTriana.

Selain itu, sektor perdagangan menjadi bidang usaha dengan minat investasi asing tertinggi, diikuti jasa lainnya, hotel dan restoran, konstruksi dan perumahan, serta kawasan industri dan perkantoran.

Lebih lanjut, Triana menyebut keberhasilan capaian investasi tersebut didukung transformasi digital layanan perizinan di Sleman. Saat ini seluruh proses perizinan usaha telah terintegrasi melalui sistem digital seperti OSS, CPG, Mall Pelayanan Publik Digital (MPPD), dan Sistem Perizinan Online Sleman (SINOM).

"Semua proses perizinan usaha sudah menggunakan digitalisasi. Jadi proses layanan menjadi lebih cepat dan efisien," katanya.

Hingga 30 April 2026, layanan OSS di Sleman telah melayani 109.157 UMK atau sekitar 99 persen dari total UMK di wilayah tersebut. Selain itu, Pemkab Sleman juga telah menerbitkan 6.894 Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) sejak 2021.

Triana menambahkan, Pemkab Sleman juga melakukan reformasi pelayanan perizinan untuk mempercepat proses penerbitan izin.

"Kalau dulu PBG bisa sampai 30 hari, sekarang setelah rekomendasi teknis selesai, surat keputusan bisa diterbitkan dalam waktu satu hari," ujarnya.

Baca juga: Pengganti Proyek di Danau Toba, Investasi Kereta Gantung di Prambanan Sleman Kini Masuki Tahap Izin Gubernur

Sehingga ke depan, Pemkab Sleman juga menyiapkan kawasan Prambanan sebagai salah satu potensi investasi baru, terutama setelah hadirnya exit tol dan pengembangan kawasan strategis pariwisata nasional.

"Kami sedang melakukan kajian potensi investasi di kawasan Prambanan sebagai bahan promosi kepada investor. Ini sejalan dengan pengembangan kawasan strategis pariwisata nasional dan integrasi Borobudur, Prambanan, dan Yogyakarta," pungkas Triana.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU