Senin, 04 MEI 2026 • 18:15 WIB

Beda dari yang Lain, Ratusan Jemaah Haji Gunungkidul Kompak Kenakan "Berbau" Budaya

Author

Ketua Rombongan, Saban Nuroni. (Istimewa)

JOGJA - Pemandangan yang tak biasa terlihat di Embarkasi Yogyakarta saat pemberangkatan jemaah haji asal Kabupaten Gunungkidul. Sebanyak 101 jemaah laki-laki yang tergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Muslimat NU Darul Qur'an Gunungkidul tampil mencolok dengan mengenakan blangkon sebagai penutup kepala.

Ketua Rombongan, Saban Nuroni, menjelaskan bahwa penggunaan blangkon ini awalnya merupakan strategi praktis agar jemaah tidak mudah terpisah di tengah kerumunan besar saat berada di Mekkah dan Madinah.

"Awalnya adalah kita ketika dalam kerumunan besar di Mekkah dan juga di Medinah. Ini kan ingin cepat menemukan jamaah kita. Maka kemudian dicetuskanlah suatu pakaian yang disitu mudah menemukan. Yang ditemukanlah blangkon. Itu awalnya seperti itu," ujarnya saat ditemui di Embarkasi YIA, Senin (4/5/2026).

Selain sebagai penanda visual, Saban menambahkan bahwa blangkon memiliki filosofi mendalam dan nilai praktis dalam ibadah. Menurutnya, blangkon tersebut memiliki 17 lipatan (wirud) yang melambangkan 17 rakaat salat lima waktu. Dari sisi fikih pun, blangkon dianggap mempermudah jemaah saat sujud.

"Karena dari sisi fikih ternyata ketika kita pakai blangkon salah satu anggota badan yang wajib ada di sajadah itu kan dahi. Itu kita tidak perlu repot-repot karena otomatis ketika kita sholat dahi kita langsung terkena dengan sajadah," jelasnya.

Saban memastikan jemaah akan tetap mengenakan blangkon tersebut selama di Tanah Suci, terutama saat menghadapi acara-acara besar. Berdasarkan pengakuannya, para jemaah justru merasa senang dan nyaman.

"Alhamdulillah malah senang karena nyaman anget dan praktis sekaligus menjadi mudah menemukan kembali. Sekaligus menerapkan kaedah fikih. Jadi menjaga hal lama yang baik begitu lah ya," tuturnya.

Baca juga: Geger Keracunan Massal di Mlati Sleman Usai Santap Ayam Goreng Pada Acara Pamitan Haji

Salah satu jemaah haji, Muhammad Gunawan. Ia menyebut penggunaan blangkon ini sudah menjadi kesepakatan rombongan sebagai identitas warga Indonesia yang kaya akan budaya.

"Biar serentak dengan temennya. Karena itu kan identitas lain dari yang lain gitu, ini sudah kesepakatan. Nyaman dan bangga. Sudah disiapkan untuk berangkat haji ini," kata Gunawan.

Ia berharap identitas lokal ini dapat ditunjukkan secara positif selama beribadah.

"Ya bisa, bangga lah bangga kalau kita itu warga Indonesia yang penuh dengan budaya," tuturnya singkat.

Menanggapi fenomena unik ini, Ketua PPIH Embarkasi Yogyakarta, Jauhar Mustofa, memberikan lampu hijau. Ia menilai inisiatif jemaah asal Gunungkidul merupakan bentuk inovasi dan pelestarian warisan budaya yang tidak melanggar aturan imigrasi maupun penerbangan.

"Boleh sih, nggak apa-apa. Jadi Gunungkidul ini memang unik. Sudah lama Gunungkidul itu memang unik, mereka punya inisiatif sendiri menggunakan blangkon. Secara aturan nggak ada sih, artinya dibolehkan di pesawat juga dibolehkan, imigrasi pun dibolehkan di Arab Saudi pun dibolehkan," ungkap Jauhar.

Namun, Jauhar mengingatkan bahwa ada batas-batas syariat yang harus dipatuhi, terutama saat jemaah mengenakan pakaian ihram untuk melaksanakan tawaf atau wukuf.

"Kecuali nanti kalau pas tawaf, pas pakai ikram kan nggak boleh, jadi pakai ikram itu peci pun nggak boleh, blangkon juga nggak boleh. Tetapi di hari-hari biasa itu boleh. Pakai ikram itu ada beberapa larangan 12 larangan yang harus ditinggalkan saat memakai ikram. Termasuk diantaranya memakai blangkon," jelasnya.

Kendati demikian, Jauhar memastikan seluruh jemaah telah mendapatkan edukasi melalui manasik haji mengenai kapan diperbolehkan dan dilarangnya penggunaan penutup kepala.

Baca juga: Sahid Tour Lepas 492 Jamaah Haji Khusus 2026, Manasik Dipusatkan di Jogja Mulai Besok

Untuk tahun ini, Kabupaten Gunungkidul memberangkatkan total 360 jemaah. Khusus untuk kloter sepuluh, seluruhnya merupakan jemaah asal Gunungkidul yang berhasil mengisi satu kloter penuh secara mandiri.

"Gunungkidul ada 360. Jadi ini full Gunungkidul semua ini. Jadi dari kloter sepuluh ini full Gunungkidul semua, Alhamdulillah. Hari ini tahun ini Kulon Progo dan Gunungkidul bisa menggunakan satu kloter penuh," pungkas Jauhar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU