Kamis, 16 APRIL 2026 • 18:15 WIB

Harga Plastik Meroket 100 Persen, Pakar UMY: Alarm Bahaya 'Cost-Push Inflation'

Author

Lonjakan harga plastik. (Istimewa)

JOGJA - Lonjakan harga plastik yang mencapai angka 100 persen sepanjang tahun 2026 bukan sekadar masalah teknis industri, melainkan sinyal adanya tekanan struktural serius dalam perekonomian nasional. Fenomena ini dipicu oleh kombinasi mematikan antara kenaikan harga minyak mentah dunia, gangguan distribusi energi, dan ketergantungan impor yang kronis.

Pakar Ekonomi Energi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Dessy Rachmawatie, M.Si., menegaskan bahwa situasi ini merupakan potret nyata dari fenomena cost-push inflation. Menurutnya, kenaikan biaya produksi di sektor hulu secara otomatis akan merembet ke berbagai sektor lainnya.

"Plastik sebagai produk turunan petrokimia sangat bergantung pada sektor energi. Ketika harga minyak dunia meningkat, biaya produksinya ikut naik. Hal ini kemudian mendorong kenaikan harga secara lebih luas, tidak hanya pada industri manufaktur, tetapi juga sektor lain yang memiliki keterkaitan," ujar Dessy, Kamis (16/4/2026).

Baca juga: Gandeng Pramuka, Tim Akademisi UMY Inisiasi Edukasi Keselamatan Jalan Raya

Dessy menyoroti ketegangan geopolitik di Timur Tengah sebagai aktor utama di balik ketidakstabilan ini. Gangguan pada titik-titik krusial perdagangan dunia membuat harga bahan baku plastik melambung tinggi tanpa terkendali.

"Kenaikan harga plastik sangat erat kaitannya dengan dinamika global, khususnya harga minyak dan gangguan rantai pasok internasional. Konflik geopolitik di Timur Tengah telah mengganggu jalur distribusi energi global, termasuk Selat Hormuz sebagai jalur utama perdagangan minyak. Dampaknya adalah terganggunya pasokan bahan baku plastik dan meningkatnya harga secara global," ungkapnya.

Selain faktor eksternal, Indonesia dinilai memiliki "penyakit dalam" berupa tingginya ketergantungan terhadap impor. Saat ini, sekitar 50 hingga 60 persen kebutuhan bahan baku plastik nasional masih harus didatangkan dari luar negeri. Menurutnya, kondisi ini membuat ekonomi domestik tidak memiliki "bantalan" yang cukup kuat ketika terjadi guncangan di pasar internasional.

"Ketergantungan pada impor bahan baku industri membuat kita sangat mudah terdampak oleh fluktuasi global. Ketika harga plastik naik hingga 30 - 100 persen, ini bukan lagi sekadar isu sektoral, melainkan sudah berimplikasi pada stabilitas ekonomi secara lebih luas, termasuk daya beli masyarakat," ucap Dessy.

Baca juga: Ekonom UGM Desak Perhatian Pemerintah Ke UMKM Imbas Kenaikan Harga Plastik Hingga Sarankan Pengganti Alternatif

Oleh karena itu, ia mengingatkan pemerintah bahwa kenaikan harga ini adalah momentum untuk melakukan pembenahan besar-besaran di sektor hulu petrokimia. Tanpa kemandirian bahan baku, Indonesia akan terus menjadi penonton sekaligus korban dari gejolak harga dunia.

"Penguatan kapasitas produksi dalam negeri adalah harga mati untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional di masa depan. Transformasi struktural diperlukan agar industri lokal lebih mandiri dan tidak lagi "batuk" setiap kali ada gejolak di kancah global," pungkas Dessy.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Di Grup WA

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU