Selasa, 07 APRIL 2026 • 15:45 WIB

FKG UGM Kukuhkan Tiga Guru Besar, Soroti Ketimpangan Layanan Gigi

Author

Pengukuhan guru besar Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Gadjah Mada (UGM). (Istimewa)

JOGJA - Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi mengukuhkan tiga guru besar baru pada Selasa (7/4) di Balai Senat, Gedung Pusat UGM. Pengukuhan ini melengkapi jajaran profesor aktif di fakultas dan menyoroti berbagai bidang mulai dari teknologi biomedika, biomaterial polimer, hingga kebijakan layanan kesehatan gigi di Indonesia.

Ketiga guru besar yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. drg. Archadian Nuryanti, M.Kes., Prof. Dr. drg. Dyah Irnawati, M.S., dan Prof. Dr. drg. Julita Hendrartini, M.Kes., FISDPH., FISPD.

Transformasi Kedokteran Gigi Preventif lewat Teknologi Biomedika

Archadian Nuryanti dikukuhkan sebagai guru besar di bidang Teknologi Biomedika Kedokteran Gigi. Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Perspektif Teknologi Biomedika dalam Menjaga Kehidupan melalui Kedokteran Gigi Preventif”, ia menekankan pergeseran dari perawatan berbasis penyakit gigi (tooth-centered care) menjadi pemeliharaan kesehatan berkelanjutan (life-centered care).

"Beberapa transformasi kedokteran gigi preventif melalui teknologi biomedika meliputi diagnostik preventif berbasis saliva, mikrobioma oral, juga imaging digital dan AI. Selain itu, teknologi intervensi biomedika termasuk ultrasonik presisi rendah trauma, agen bioaktif, dan herbal berbasis bukti. Tidak kalah penting, teknologi preventif berbasis perilaku dan lingkungan, seperti smart devices (IoT oral care), menjadikan pencegahan bagian dari gaya hidup," ujarnya.

Archadian juga menyinggung penggunaan jamu tradisional yang masih populer dan mulai dikembangkan secara klinis, seiring dengan perkembangan AI. Ia menekankan batasan inovasi dan kesiapan tenaga medis.

"Pesan saya juga tindakan preventif untuk menjaga kesehatan ada dalam 3G, gerak, gelak, dan gaya," ucapnya.

Baca juga: Buka IUP Gelombang II, UGM Tawarkan Double Degree Hingga Jaminan Karier Internasional

Polimer Cerdas Mengubah Material Kedokteran Gigi

Di bidang Ilmu Biomaterial Polimer Kedokteran Gigi, Dyah Irnawati membawakan orasi bertajuk “Perjalanan Biomaterial Polimer Kedokteran Gigi: Dari Polimer Konvensional sampai Polimer Cerdas”. Ia mengulas evolusi polimer mulai dari karet alam, polimetil metakrilat (PMMA), hingga bisfenol A glisidil metakrilat (bis-GMA), yang kini digunakan di berbagai cabang kedokteran gigi seperti silikon soft liners, resin, dan pengisi saluran akar.

Lanjut Dyah menyoroti perkembangan polimer cerdas, dimana ia ia menyebut kini polimer tidak lagi material statis, melainkan dinamis. Menurutnya, perkembangan ini menandakan polimer mampu beradaptasi menuju biomaterial cerdas.

"Contohnya polimer antimikroba, shape memory polymers yang sensitif terhadap suhu, cahaya, hingga gaya mekanis, material responsif terhadap pH, polimer self-healing, dan peptida antimikroba cerdas," jelasnya.

Mengatasi Ketimpangan Layanan Gigi dan Mulut

Sementara itu, Julita Hendrartini mengangkat isu Kebijakan, Manajemen, dan Pembiayaan Kedokteran Gigi dengan orasi “Mengatasi Ketimpangan Pelayanan Gigi dan Mulut di Indonesia”. Ia menyebutkan implementasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tidak otomatis menjamin akses nyata ke layanan gigi. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI 2023), masalah gigi dan mulut mencapai 56,9 persen pada usia >3 tahun, namun hanya 11,2 persen yang mendapatkan perawatan.

Baca juga: Unik Tapi Nyata, Dosen UMY dan UAD Ini Ubah Air Wudhu Jadi Nutrisi Tanaman dan Ikan Kepada Warga di Sleman

Data lain menunjukkan distribusi dokter gigi yang belum merata yakni jumlah dokter gigi di Indonesia tahun 2023 ada 23.834 dan spesialis 3.243.

"Tidak seirama, 22,4 persen Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) tidak memiliki dokter gigi. Produksi dokter gigi sekitar 3.500 - 4.000 per tahun, namun masalah utama bukan jumlah lulusan, melainkan distribusi dan retensi tenaga kesehatan gigi. Penempatan cenderung berkumpul di perkotaan," ungkap Julita.

Oleh karena itu, Julita mengusulkan reformasi distribusi SDM dokter gigi, termasuk mapping kebutuhan lokasi, insentif untuk daerah 3T, serta pengembangan dashboard kesehatan gigi untuk mendeteksi early warning in equity.

"Ketimpangan ini merupakan konsekuensi interaksi dari banyak faktor. Menambah jumlah lulusan tidak otomatis menyelesaikan akses daerah terpencil jika kebijakan insentif tidak berubah, infrastruktur minim, dan jalur karier tidak jelas," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU