JOGJA - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman menyiapkan sejumlah langkah penguatan literasi setelah berbagai indikator literasi di Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami penurunan pada 2025.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, Shavitri Nurmala Dewi, mengatakan pada 2024 tingkat kegemaran membaca di DIY menempatkan Sleman pada posisi kedua.
"Untuk tingkat kegemaran membaca tahun 2024 ini di Kabupaten Sleman kita berada pada posisi kedua, posisi pertama adalah Kabupaten Gunung Kidul, kemudian Kota Yogyakarta, kita di Kabupaten Sleman, berikutnya adalah Bantul dan Kabupaten Kulon Progo," ujarnya, dalam jumpa pers, pada Kamis (5/3/2026).
Di tingkat kegemaran membaca tahun 2025, kata dia, ini yang paling tinggi adalah Kabupaten Kulon Progo, disusul Kabupaten Bantul.
"Sleman di tingkat ketiga, kemudian Kota Yogyakarta dan Kabupaten Gunung Kidul," katanya.
Menurut Shavitri, penurunan tersebut terjadi di seluruh wilayah DIY dengan angka yang cukup signifikan.
"Sementara untuk kalau dibandingkan dengan tahun 2024 karena semuanya terjadi penurunan, seluruh di DIY mengalami penurunan dan cukup signifikan juga penurunannya karena yang dari angka 80 itu ke semua ke angka 50 sekian itu," ungkapnya.
Disisi lain, indeks tingkat literasi masyarakat justru mengalami peningkatan.
"Untuk tingkat literasi masyarakat di tahun 2024 ini sudah bisa memenuhi target, pada tahun 2025 bahkan untuk tingkat literasi masyarakat sudah melampaui target cukup signifikan dari angka 54,05 kemudian mencapai 67,18," terangnya.
Sementara itu, pada indeks pembangunan literasi masyarakat, Sleman berada di peringkat ketiga pada 2024 dan turun menjadi peringkat keempat pada 2025.
"Tapi untuk tahun 2025 ternyata indeks pembangunan literasi masyarakat Sleman turun satu ke peringkat, jadi yang tadinya di peringkat tiga turun menjadi peringkat empat di tahun 2025," imbuh Shavitri.
Melihat kondisi tersebut, pihaknya melakukan konsolidasi dengan seluruh jajaran perpustakaan dan kearsipan di Sleman untuk memperkuat berbagai program literasi.
"Nah ini berdasar tiga hal angka statistik yang artinya secara angka pengukuran terkait dengan tingkat membaca, tingkat literasi dan indeks pembangunan literasi ini kemudian kami melakukan satu konsolidasi dengan teman-teman di seluruh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan bahwa kita harus melakukan satu langkah yang signifikan untuk menanggapi ukuran angka ini," ujarnya.
Ia menyebut bahwa penguatan literasi menjadi bagian dari upaya mendukung visi Bupati Sleman dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Ini menurutnya sesuai visi dari Bupati Sleman terutama visi yang pertama dan visi kelima mencerdaskan atau meningkatkan kualitas SDM dan mencerdaskan pendidikan generasi muda.
"Tentu memang pembangunan literasi itu tidak hanya kita mengejar pada naiknya angka tingkat literasi kegemaran membaca dan indeks pembangunan literasi, tetapi sebetulnya dengan kita melakukan penguatan kegiatan literasi," katanya.
Sebagai langkah konkret, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sleman menjalankan empat program penguatan utama, salah satunya penguatan perpustakaan desa atau kalurahan.
"Kami berharap bahwa perpustakaan-perpustakaan desa atau kalurahan yang ada sekarang ini kemudian dengan pionir-pionir perpustakaan kalurahan yang lain akan mengikuti," tuturnya.
Selain itu, pihaknya juga mendorong digitalisasi kearsipan yang ditargetkan rampung pada 2030.
"Kemudian juga digitalisasi kearsipan, kami rencanakan bahwa 2030 nanti kearsipan sudah ter-digitalisasi untuk seluruh perangkat daerah di Kabupaten Sleman dan institusi pendidikan," jelasnya.
Adapun program lain yang dijalankan yakni pengembangan layanan perpustakaan digital melalui program Sleman Baca atau e-Library serta Digital Literacy Corner (DLC).
"Kemudian juga Sleman Baca atau e-Library, kami memiliki program LBL literasi di rumah dan Digital Literacy Corner atau DLC yang ini adalah memberikan layanan terkait dengan perpustakaan atau e-Library," katanya.
Serta, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sleman juga memperkuat literasi berbasis komunitas melalui Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang tersebar di berbagai kapanewon.
"Pada saat ini kami juga bekerja sama dan meningkatkan peran penting dari taman bacaan masyarakat yang ada di seluruh kapanewon. Meski tidak seluruh kapanewon memiliki taman bacaan, tapi dengan organisasi taman bacaan masyarakat yang sudah ada kita memiliki 35," paparnya.
Ia berharap jumlah tersebut terus berkembang seiring meningkatnya aktivitas komunitas literasi di Sleman.
"Sebanyak 35 taman bacaan masyarakat di Sleman ini kami harap akan semakin berkembang karena komunitas literasi di Sleman berkembang cukup baik dan banyak," kata Shavitri.
Menariknya, untuk menggaet masyarakat terutama anak muda, Pemkab membuka ruang aktivitas komunitas dengan membuka Kafe Salam Literasi di depan kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan.
"Nah kami memulai dengan membuat Cafe Salam Literasi di depan kantor kami. Silakan nanti kalau di sore biasanya buka setelah isya. Kami harapkan akan jadi tempat bagi teman-teman komunitas literasi dan taman bacaan masyarakat untuk melakukan banyak kegiatan," katanya.
Selain itu, sejumlah program literasi juga terus dijalankan, seperti perpustakaan keliling Jaka Tingkir yang melayani puluhan sekolah setiap tahun.
"Selama ini ada Jaka Tingkir ini adalah perpustakaan keliling yang melayani tiap tahunnya 83 sampai 85 sekolah dengan perjanjian MOU dengan kami berlangsung selama dua tahun," jelasnya.
Namun layanan tersebut masih terbatas karena keterbatasan armada.
"Mengapa hanya 85? Karena keterbatasan armada kami. Permintaan perpustakaan keliling itu meningkat tetapi karena keterbatasan armada yang kami miliki sehingga masih kesiapannya hanya mampu sampai angka 83 sampai 85 sekolah," katanya.
Program lain yang diminati siswa adalah Cendol Manis atau Cerita Dongeng Literasi Masuk Sekolah.
"Cendol Manis ini kami mengundang pendongeng. Di Sleman ini ada beberapa pendongeng juga yang peduli pada pembinaan karakter pendidikan di SD dan SMP," imbuhnya.
Menurutnya, metode dongeng efektif untuk menanamkan nilai karakter kepada anak.
"Harapan kami dengan menghadirkan pendongeng ini terkait dengan peningkatan wawasan kebangsaan dan budi pekerti bisa masuk pada anak-anak melalui dongeng," jelasnya.
Lebih lanjut, terdapat juga program Jumat Ceria yang menyasar anak usia dini.
"Jumat Ceria ini diadakan di Lapangan Pemda setiap hari Jumat untuk segmen anak-anak PAUD dan TK," kata Shavitri.
Ia menambahkan kegiatan Jumat Ceria ini mengandalkan metode mendongeng yang dibawakan langsung oleh pustakawan.
"Disini pustakawan kami harus membaca dan mendongeng karena anak-anak PAUD dan TK lebih masuk apabila kegiatannya itu kegiatan dongeng bercerita," ujarnya.
Kunjungan Perpus Setiap Libur Meningkat
Sementara itu, jumlah kunjungan ke perpustakaan daerah rata-rata mencapai 15 hingga 20 orang per hari di luar bulan puasa.
"Apabila tidak puasa ini rata-rata dalam sehari itu sekitar 15 sampai 20 orang pasti berkunjung ke perpustakaan," katanya.
Menurut Shavitri, kunjungan biasanya meningkat saat libur sekolah.
"Kalau hari libur sekolah ini kunjungannya paling lebih banyak karena orang tua biasanya mengajak anaknya ke perpustakaan," bebernya.
Penghargaan Kepada Para Pengunjung Perpus
Disamping itu, ia juga menceritakan berbagai latar belakang pengunjung perpustakaan, mulai dari mahasiswa hingga pekerja informal. Tahun 2025, kata dia, pihaknya memberikan penghargaan kepada tiga kategori.
"Salah satunya pasangan suami istri yang dulunya pengepul barang bekas kemudian belajar tentang mesin di perpustakaan dan sekarang sudah membuka bengkel," katanya.
Ada pula pengemudi layanan antar makanan yang rajin meminjam buku.
"Dia sering datang masih menggunakan jaket profesinya dan menyampaikan kalau saya tidak punya buku rasanya hampa," tambah Shavitri.
Bahkan seorang pengamen bertato juga tercatat sebagai peminjam aktif buku.
"Kemarin saya kaget juga, pengamen bertato datang ternyata dia pinjam buku. Dia sering jadi peminjam aktif di perpustakaan ini," katanya.
Untuk mendukung pengembangan literasi itulah, Pemkab Sleman juga berencana membangun gedung perpustakaan daerah yang lebih besar.
"Kami sudah menyampaikan kepada Pak Bupati bahwa perpustakaan daerah kami sudah terlalu kecil untuk menyimpan koleksi buku yang 40 ribu judul," ujarnya.
Pada kesempatan itu juga, Shavitri menyampaikan bahwa pada tahun 2027 Kabupaten Sleman bakal memiliki gedung baru perpustakaan.
"Beliau (Bupati) menjanjikan 2027 mudah-mudahan bangunan perpustakaan daerah yang baru nanti sudah besar dimulai pembangunannya. Lokasinya di sebelah timur DPPTSP, tanahnya sudah tanah pemda dan DED juga sudah ada," katanya.
Dalam hal ini, Shavitri berharap keberadaan fasilitas baru tersebut dapat memperkuat Sleman sebagai kabupaten literasi.
"Mudah-mudahan akan terwujud Kabupaten Sleman sebagai kabupaten literasi dengan sekian puluh universitas yang ada di Sleman akan memiliki perpustakaan yang lebih baik," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung