Milad UMY Ke-45, Gubernur NTB Gaungkan Tiga Prioritas Tuntaskan Kemiskinan :"Harus Jadi Program Prioritas dari yang Lain"
JOGJA - Kemiskinan dinilai sebagai akar dari berbagai persoalan sosial yang terus berulang di Indonesia. Tanpa penyelesaian yang menyentuh sumber masalah, pembangunan dinilai hanya akan bersifat tambal sulam dan tidak menghadirkan perubahan jangka panjang.
Hal itu disampaikan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Iqbal, dalam Malam Refleksi Milad ke-45 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (28/2), di Masjid K.H. Ahmad Dahlan UMY. Iqbal menegaskan, arah pembangunan daerah harus dimulai dari penetapan prioritas yang jelas dan keberanian menyentuh persoalan paling mendasar.
Ia menyebut, terdapat tiga fokus utama dalam kepemimpinannya, yakni pengentasan kemiskinan, penguatan ketahanan pangan, dan transformasi sektor pariwisata menuju pendekatan yang lebih berkualitas serta berkelanjutan.
"Saya meyakini bahwa kemiskinan adalah the mother of all social problems. Banyak persoalan sosial bermula dari situ. Selama akar ini tidak diselesaikan, kita hanya akan sibuk menangani gejalanya saja. Karena itu, kemiskinan harus benar-benar ditangani secara serius dan sistematis," ujarnya.
Menurut Iqbal, kemiskinan bukan semata persoalan rendahnya pendapatan, tetapi masalah struktural yang berdampak luas pada pendidikan, kesehatan, hingga stabilitas sosial. Ia menilai, pendekatan kebijakan yang tidak komprehensif hanya akan melahirkan solusi jangka pendek.
"Kita sering kali menyelesaikan dampaknya, bukan sumbernya. Ketika muncul persoalan stunting, perdagangan manusia, atau pernikahan dini, kita bergerak cepat. Namun, jika akar persoalannya adalah kemiskinan yang tidak disentuh secara serius, maka masalah-masalah tersebut akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda," jelasnya.
Selain itu, Iqbal menempatkan ketahanan pangan sebagai fondasi penting kemandirian daerah. Ia menekankan pentingnya pembangunan sektor pangan yang terintegrasi, khususnya melalui penguatan sinergi antara pertanian dan peternakan.
Baca juga: Konflik Iran - AS - Israel, Pengamat UMY Tak Akan Picu Perang Dunia Ketiga Tapi...
Menurutnya, integrasi tersebut membuka ruang lebih luas bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam rantai produksi sekaligus memperoleh nilai tambah ekonomi. Upaya itu, kata dia, membutuhkan dukungan investasi serta kolaborasi lintas sektor agar sistem pangan daerah semakin kokoh.
"Kita harus memastikan sistem pangan kita kuat dan terintegrasi. Tidak bisa lagi hanya bergantung pada kelompok besar atau industri tertentu. Masyarakat harus masuk dalam rantai produksi tersebut. Jika pangan kita kokoh, stabilitas sosial dan ekonomi juga akan jauh lebih terjaga," katanya.
Pada sektor pariwisata, Iqbal mendorong perubahan paradigma pembangunan. Ia menilai pendekatan yang selama ini berorientasi pada jumlah kunjungan atau quantity tourism belum tentu menghasilkan dampak ekonomi yang optimal maupun menjamin keberlanjutan lingkungan. Karena itu, ia mendorong pergeseran menuju konsep quality tourism yang lebih selektif dan berfokus pada nilai tambah.
Baca juga: Hadiri Milad UMY Ke-45, Gubernur NTB Sampaikan Pesan Ini
Oleh karena itu, ia berharap, tiga prioritas tersebut dapat menjadi fondasi pembangunan daerah yang lebih berkeadilan, berkelanjutan, dan mampu menjawab persoalan mendasar masyarakat.
"Sepuluh ribu orang yang datang dengan daya belanja tinggi bisa jauh lebih berdampak dibandingkan satu juta orang dengan kontribusi kecil. Yang kita bangun adalah kualitas, bukan sekadar angka," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Di Grup WA