Senin, 02 MARET 2026 • 19:05 WIB

Konflik Iran - AS - Israel, Pengamat UMY Tak Akan Picu Perang Dunia Ketiga Tapi...

Author

Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus pengkaji Timur Tengah, Prof. Dr. Sidik Jatmika, M.Si. (Istimewa)

JOGJA - Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kembali memanas, memicu kekhawatiran dunia. Namun, menurut Prof. Dr. Sidik Jatmika, M.Si., Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus pengkaji Timur Tengah dan keamanan manusia, peristiwa ini tidak bisa dilihat sebagai kejadian tunggal.

"Memahami Amerika hari ini tidak bisa dilepaskan dari masa lalunya," ujarnya, di Ruang Simulasi Sidang Hubungan Internasional UMY, Senin (2/3/2026).

Sidik menjelaskan, Amerika Serikat lahir pada 1776 sebagai negara dengan 13 koloni di Pantai Timur. Melalui ekspansi ke wilayah tengah dan barat, aneksasi Texas dan California, pembelian Alaska dari Rusia, hingga penguasaan Hawaii, Amerika membangun fondasi sebagai kekuatan nasional. Transformasi menjadi kekuatan global terjadi melalui keterlibatan dalam Perang Dunia I dan II.

Karena itu, Sidik menekankan pentingnya melihat kebijakan luar negeri Amerika secara komprehensif, termasuk di bawah kepemimpinan Donald Trump. Mengutip teori William D. Coplin, ia mengatakan bahwa pengambilan keputusan politik luar negeri dipengaruhi oleh politik domestik, kondisi ekonomi dan pertahanan, serta konteks internasional. Slogan Trump, "Make America Great Again", menurut Sidik, bukan sekadar retorika.

"Ini refleksi pandangan bahwa Amerika dianggap kehilangan sebagian kejayaannya akibat pertumbuhan pesat Tiongkok dan kebangkitan kembali Rusia. Dalam logika tersebut, Trump menilai pemerintahan sebelumnya terlalu lunak terhadap negara-negara yang dianggap menantang dominasi Amerika," katanya.

Iran, menurut Sidik, ditempatkan sebagai salah satu aktor yang batasnya harus ditegaskan.

"Serangan atau tekanan terhadap Iran bukan sekadar respons situasional, melainkan bagian dari penegasan ulang posisi Amerika sebagai kekuatan terbesar dunia," ujarnya.

Baca juga: Mendiktisaintek Brian dihadapan Akademisi UMY :" Guru Besar Diharapkan Jadi Penggerak Iptek"

Sidik pun menilai posisi geografis Amerika yang relatif aman memberinya keleluasaan untuk bertindak agresif dibandingkan negara Eropa Barat yang lebih berhati-hati karena risiko terorisme atau gelombang pengungsi.

"Amerika sudah menghitung semua risiko. Secara geografis, Amerika adalah negara yang relatif paling aman. Tidak ada kekuatan besar yang mampu menyerang wilayah utamanya secara langsung," katanya.

Meski ketegangan meningkat, Sidik yakin konflik ini tidak akan memicu Perang Dunia III.

"Ini seperti permainan catur politik. Semua langkah sudah diperhitungkan. Konflik global berskala besar baru mungkin terjadi jika Tiongkok dan Rusia terlibat secara langsung dalam konfrontasi terbuka," katanya.

Baca juga: Wilayah Tempel Jadi Saksi Peluncuran Model Pengabdian Baru Oleh UMY

Dalam jangka pendek, Sidik memprediksi dampak paling nyata adalah ketidakstabilan di Teluk Persia yang bisa mengganggu jalur perdagangan dan distribusi energi global. 

"Namun, secara geopolitik, eskalasi ini lebih merupakan fase konsolidasi hegemoni Amerika daripada awal perang dunia besar," pungkas Sidik. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Di Grup WA

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU