Rabu, 18 FEBRUARI 2026 • 13:35 WIB

Hadiri Pembukaan Semarak Ramadhan di UGM, Ustaz Wijayanto : "Jadikan Orang Tua Sebagai Wasilah Menuju Surga"

Author

Ustaz Wijayanto saat jadi pembicara pada Grand Opening Ramadhan 2026 di Grha Sabha Pramana, Selasa (17/2). (Istimewa)

JOGJA - Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H, civitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Grand Opening Ramadhan 2026 di Grha Sabha Pramana, Selasa (17/2). Kegiatan ini menjadi pembuka rangkaian program Ramadhan di kampus yang mengangkat semangat penguatan kepedulian sosial dan karakter inklusif.

Dalam orasi syiar, Ustaz Wijayanto menegaskan bahwa puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga membentuk kepekaan sosial terhadap sesama.

"Kalau kamu tidak mau disakiti, jangan menyakiti. Kalau kamu tidak ingin kelaparan, jangan biarkan orang lain kelaparan. Itulah esensi puasa, melahirkan kepedulian sosial yang nyata,” ujarnya di hadapan peserta.

Menurutnya, ajaran Islam menekankan keseimbangan antara pemenuhan fitrah manusia dan ketaatan kepada Allah SWT. Puasa, kata dia, bukanlah bentuk penyiksaan diri, melainkan sarana pendidikan jiwa.

"Islam adalah agama yang moderat. Puasa bukan untuk membunuh nafsu, tetapi mengendalikan nafsu untuk sementara. Karena itu, dilarang melakukan puasa wishal atau puasa sambung. Saat berpuasa, kita disegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur,” jelasnya.

Baca juga: Bakal Beroperasi Tahun 2032, UGM Siap Bantu Pemerintah Dukung Pengembangan PLTN Dengan Terjunkan SDM

Ia juga mengingatkan kemuliaan Ramadhan yang selalu dirindukan umat Islam. Mengutip tradisi para sahabat Nabi, ia menyebut persiapan menyambut Ramadhan dilakukan jauh hari sebelumnya.

"Para sahabat bahkan berdoa hingga enam bulan untuk dipertemukan dengan Ramadhan. Bulan ini disebut karim, bukan sekadar mulia, tetapi menghadirkan kekaguman yang luar biasa,” tuturnya.

Dalam paparannya, Wijayanto turut menyinggung peristiwa di bulan Syakban tahun kedua Hijriah yang memuat sejumlah fondasi spiritual umat, mulai dari peralihan kiblat, ketentuan nisab zakat, anjuran bershalawat, hingga perintah berbakti kepada orang tua. Ia menekankan pentingnya kesempurnaan ibadah puasa yang dibarengi kepedulian terhadap orang tua.

"Gagal orang berpuasa jika memiliki orang tua tetapi tidak menjadikannya jalan menuju surga. Jadikan orang tua sebagai wasilah menuju surga. Aneh jika seseorang berpuasa, tetapi zakatnya tidak jelas, tidak pernah bershalawat, dan tidak hormat kepada orang tua,” tegasnya.

Sementara itu, Rektor UGM, Ova Emilia, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momentum awal membangun pembaruan spiritual di lingkungan kampus.

"Grand opening ini menjadi pembuka rangkaian kegiatan Ramadhan di kampus. Ramadhan adalah titik awal pembersihan jiwa yang menguatkan karakter civitas akademika agar semakin inklusif dan berdampak,” kata Ova.

Baca juga: Semarak Ramadhan 2026 Maskam UGM : Siapkan 2000 Porsi Sahur - Buka Puasa Hingga Kehadiran Tokoh Nasional

Ia menambahkan, frasa “inklusif dan berdampak” kerap digaungkan di lingkungan kampus, namun perlu diwujudkan dalam praktik nyata sehari-hari.

"Karakter inklusif dan berdampak sering kita dengarkan dan ucapkan. Tetapi bagaimana pengejawantahannya dalam laku hidup keseharian, itulah yang perlu kita refleksikan bersama,” ujarnya.

Oleh karena itu, Ova mengajak seluruh sivitas akademika memanfaatkan bulan suci ini dengan memperbanyak ibadah dan amalan sosial yang memberi manfaat luas.

"Mari kita sambut bulan penuh ampunan ini dengan pembaruan iman dan kesadaran dalam setiap amalan serta renungan yang kita jalankan selama hampir sebulan ke depan,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU