JOGJA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ditargetkan dapat memperluas cakupan penerima manfaat sekaligus meningkatkan mutu pelayanan. Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menargetkan 82,9 juta penerima manfaat, dengan prioritas pada ibu hamil dan anak usia dua tahun. Menurut Dadan, program ini diharapkan menjadi salah satu upaya strategis dalam menurunkan kasus stunting di Indonesia.
Namun, di balik ambisi tersebut, muncul kekhawatiran terkait kesiapan layanan primer, integrasi sistem kesehatan, serta penguatan pengawasan keamanan pangan yang efektif.
Menanggapi hal itu, Dosen dan peneliti Prodi Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer (KKLP) FK-KMK UGM, Fitriana Murriya Ekawati, menilai program MBG yang menyasar ibu hamil dan balita usia 0-2 tahun berpotensi menjadi pintu strategis untuk memperkuat kesinambungan layanan pemenuhan gizi.
"Jika dikelola secara terintegrasi, program ini tidak hanya memperbaiki asupan gizi, tetapi juga diharapkan dapat memperkuat upaya promosi dan prevensi kesehatan, utamanya peran layanan primer sebagai koordinator utama kesehatan keluarga," ujarnya, Sabtu (23/1/2026).
Menurut dr. Fitriana, intervensi gizi pada periode 1.000 hari pertama kehidupan merupakan kunci utama dalam upaya menurunkan prevalensi stunting. Periode ini menentukan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, serta fungsi metabolik anak hingga dewasa.
"Jika anak kekurangan gizi pada fase 1.000 hari pertama, hal ini berdampak menjadi akar terjadinya persoalan kesehatan jangka panjang, mulai dari stunting, gangguan kognitif, hingga meningkatnya risiko penyakit menular di usia dewasa," katanya.
Menurutnya, perluasan program MBG yang menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia 0 - 2 tahun menunjukkan perubahan pendekatan pemerintah dalam intervensi gizi. Apalagi, sebelumnya intervensi lebih terbatas melalui pemberian makanan tambahan atau suplementasi pada kelompok tertentu, kini pemerintah berupaya memastikan kecukupan gizi secara lebih luas pada periode paling krusial dalam siklus kehidupan.
Baca juga: Kreatif! Mahasiswa Unisa Jogja Kritik Problema Program MBG Lewat Pameran
Namun, dr. Fitriana menekankan, keberhasilan intervensi sangat ditentukan oleh detail pelaksanaan di lapangan.
"Efektivitasnya sangat bergantung pada detail teknis pelaksanaannya, bagaimana program ini dapat berjalan baik, integratif, berkesinambungan, serta dapat dipadukan dengan intervensi lain seperti perbaikan sanitasi, layanan kesehatan ibu dan anak, serta praktik pengasuhan dan pemberian makan yang tepat di tingkat keluarga dan masyarakat," terangnya.
Terkait kesiapan sistem, ia menilai keterlibatan layanan kesehatan primer dalam pelaksanaan MBG saat ini masih terbatas antarwilayah. Kasus keracunan MBG yang terjadi pada 2025 menunjukkan bahwa aspek keamanan pangan masih memerlukan penguatan serius, terutama untuk melindungi kelompok rentan seperti ibu hamil dan balita.
"Penguatan kapasitas tenaga kesehatan primer dan integrasi pada surveilans keamanan pangan menjadi kunci agar kelompok rentan seperti ibu hamil dan balita benar-benar terlindungi. Nantinya perlu dipantau perkembangan dan jangka panjang kesehatannya melalui Puskesmas agar terpantau dengan baik," imbuh Fitriana.
Untuk menilai keberhasilan MBG, menurutnya penurunan angka stunting tidak cukup dijadikan satu-satunya indikator. Indikator lain yang tak kalah penting meliputi status gizi dan kesehatan ibu, penurunan anemia, peningkatan praktik ASI eksklusif dan MPASI, serta meningkatnya pemanfaatan layanan kesehatan primer oleh keluarga.
"Pendekatan ini sejalan dengan konsep pengukuran kinerja layanan kesehatan yang menekankan mutu dan keselamatan, bukan hanya output semata," tegasnya.
Kendati demikian, menurutnya MBG tidak hanya sebatas program bantuan pangan, Fitriana merekomendasikan penguatan integrasi dengan sistem kesehatan primer dan pendekatan berbasis keluarga, yang diposisikan sebagai bagian dari paket intervensi promotif dan preventif terhubung dengan layanan kesehatan ibu dan anak, edukasi gizi, serta pemantauan keluarga berisiko.
"Dengan melibatkan kader, lintas sektor penguatan kapasitas tenaga primer, serta pemanfaatan data untuk perencanaan dan pemantauan berkelanjutan merupakan langkah tepat dalam mendorong penguatan ketahanan dan sistem kesehatan primer pada keluarga. Dengan pendekatan ini, MBG dapat berkontribusi pada penguatan ketahanan keluarga dan sistem kesehatan primer yang dapat mendorong kemandirian keluarga dalam menjaga kesehatan jangka panjang," paparnya.
Baca juga: Perjuangan Perempuan Asal Blora, Tria Sofie Lulus S2 UGM di Usia 22 Tahun 6 Bulan
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa peran layanan primer perlu dipantau secara berkelanjutan mulai dari perencanaan hingga siklus pelaksanaannya pada program MBG.
"Program ini menjadi tanggung jawab bersama, sehingga pola pelaksanaan upaya pemenuhan gizi sangat perlu banyak kolaborasi lintas sektor yang mampu mendukung perluasan manfaat oleh semua pihak," pungkas Fitriana.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail