Senin, 15 DESEMBER 2025 • 17:15 WIB

Dihadiri Menko Pratikno Dan Sultan HB X Dalam Forum Kagama : Moralitas Pemimpin Jadi Kunci di Tengah Pengetatan Fiskal dan Ancaman Bencana

Author

Kagama Regional Leaders Forum yang digelar pertama kali belum lama ini di Balai Senat UGM. (Istimewa)

JOGJA - Di tengah tekanan fiskal dan risiko bencana yang meningkat, kualitas moral dan kepemimpinan kepala daerah menjadi semakin krusial. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Prof. Dr. Pratikno, menegaskan pentingnya peran pemimpin dalam menjaga lingkungan hidup sambil mendorong pembangunan yang berkelanjutan.

"Dunia saat ini bergerak menuju target zero emission dan energi bersih. Setiap daerah harus menempatkan pembangunan hijau sebagai prioritas. Mimpi masyarakat dunia adalah kondisi alam yang masih perawan, dan itulah yang kita miliki hari ini,” ujar Pratikno dalam acara Kagama Regional Leaders Forum yang digelar pertama kali belum lama ini di Balai Senat UGM.

Pratikno menekankan bahwa Indonesia telah berkomitmen menurunkan puncak emisi pada 2030, dan partisipasi aktif dari seluruh daerah sangat dibutuhkan.

"Wilayah yang belum banyak dibangun dengan gedung pencakar langit justru memiliki peran strategis dalam mitigasi perubahan iklim di masa depan," katanya.

Ketua Kagama, Dr. (H.C.) Ir. Mochamad Basuki Hadimoeljono, menyoroti tantangan ganda yang dihadapi Indonesia saat ini: meningkatnya bencana alam dan ketatnya anggaran daerah. Kedua kondisi ini, menurut Basuki, menjadi ujian bagi kualitas kepemimpinan.

"Kreativitas seseorang dalam menghadapi masalah bukan hanya karena soalnya sulit, tetapi bagaimana kita mampu menjawab tantangan tersebut dengan tepat,” kata Basuki.

Baca juga: Banjir Bandang Beruntun di Sumatra Dinilai Cerminkan Krisis Multi-Bencana, Mantan Kepala BMKG Dwikorita Kritik Lemahnya Sistem Penanganan

Ia menambahkan bahwa kolaborasi lintas daerah menjadi kunci penyelesaian persoalan, terutama terkait bencana dan pembangunan.

"Seringkali, daerah merasa inovasinya paling baik, padahal praktik di daerah lain justru lebih progresif. Forum ini hadir untuk membuka ruang berbagi pengalaman dan memastikan inovasi kebijakan berjalan tidak sendiri,” ujarnya.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) X, menekankan bahwa kepemimpinan tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan teknis. Moral, etika, dan kejernihan batin menjadi fondasi utama dalam menghadapi tantangan fiskal, fragmentasi sosial, disrupsi geopolitik, dan tekanan ekologis.

"Seorang pemimpin yang terlalu mengandalkan kehendak pribadi tanpa memperhatikan isyarat moral akan terjebak pada kebenaran simbolik tanpa kebijaksanaan substantif,” kata Sri Sultan.

Beliau menambahkan, kepemimpinan transformatif harus berlandaskan nilai-nilai peradaban yang kokoh, menjaga integritas moral, dan mampu menata dialog publik secara inklusif.

Baca juga: Tiket Kereta Nataru dari Daop 6 Yogyakarta Terjual 50 Persen, Puncak Arus Diprediksi 28 Desember

Menurut Sultan, pemimpin yang efektif harus bisa menerjemahkan visi jangka panjang menjadi kebijakan yang fleksibel terhadap inovasi dan perubahan.

"Kerakyatan harus terus hadir, tidak boleh padam oleh kepentingan kekuasaan. Keberanian mengambil keputusan sulit secara jujur dan kolaboratif adalah kunci," tandas Ngarsa Dalem.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU