Senin, 15 DESEMBER 2025 • 15:45 WIB

Gajah Bersihkan Puing Banjir Aceh, Guru Besar UGM Sebut Langgar Kesejahteraan Satwa

Author

Potret gajah membersihkan puing banjir di Aceh. (Istimewa)

JOGJA - Pengerahan empat gajah Sumatra untuk membantu membersihkan puing-puing pascabanjir bandang di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, menuai kritik dari kalangan akademisi. Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. drh. Raden Wisnu Nurcahyo, menilai langkah tersebut berisiko terhadap kesehatan sekaligus melanggar prinsip kesejahteraan satwa.

Empat gajah bernama Abu, Mido, Ajis, dan Noni yang berasal dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh Besar, dikerahkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh untuk menyingkirkan kayu dan material berat sisa banjir bandang. Namun menurut Wisnu, kondisi lapangan pascabencana justru membahayakan gajah.

"Lingkungan pascabencana itu penuh dengan material tajam, kayu berkarat, bangkai hewan, dan sumber penyakit. Itu sangat berisiko bagi kesehatan gajah," ujarnya, Senin (15/12/2025).

Ia menegaskan bahwa penggunaan gajah dalam kerja fisik berat seperti pembersihan puing bertentangan dengan prinsip animal welfare. Wisnu menyebut, gajah dalam situasi tersebut diperlakukan layaknya alat kerja.

"Sebetulnya itu sudah menyalahi hak kesejahteraan hewan. Gajah seperti dipekerjakan, padahal mereka satwa liar yang memiliki batas kemampuan fisik dan psikologis," jelasnya.

Wisnu juga menyoroti pelanggaran terhadap lima prinsip kebebasan (Five Freedoms) kesejahteraan hewan, mulai dari kebebasan dari rasa sakit dan penyakit, ketidaknyamanan, hingga tekanan dan ketakutan. Ia menilai pengerahan gajah hanya dapat dibenarkan dalam kondisi sangat darurat.

"Kalau memang tidak ada alat berat atau lokasi tidak bisa dijangkau eskavator, itu masih bisa dipertimbangkan. Tapi faktanya gajah diturunkan dari truk. Kenapa bukan alat berat yang dibawa? Ini yang membuat kesannya tidak urgen," katanya.

Baca juga: UGM - Kagama Dorong Kebijakan Publik Berbasis Riset Lewat Policy Dialogue

Selain itu, menurutnya gajah juga rentan mengalami stres berat ketika dipaksa bekerja di lingkungan ekstrem. Wisnu menjelaskan, secara alami aktivitas gajah lebih banyak dihabiskan untuk makan, beristirahat, dan bergerak di habitatnya.

"Ketika lelah atau stres, gajah bisa menolak perintah pawang, bahkan berontak karena ingin kembali ke tempat aman seperti dekat air atau sumber pakan,” jelasnya.

Jika kondisi stres tidak tertangani dengan baik, lanjut Wisnu, gajah dapat mengalami gangguan perilaku hingga bersikap agresif, yang berpotensi membahayakan manusia maupun gajah itu sendiri.

"Kalau terus dipaksa, gajah bisa sakit, stres berkepanjangan, bahkan dalam kondisi ekstrem bisa berujung kematian," ungkapnya.

Oleh karena itu, Wisnu menegaskan agar peran gajah diarahkan pada kegiatan yang lebih aman dan edukatif, misalnya untuk mendukung pemulihan psikososial anak-anak di pengungsian.

"Kehadiran gajah bisa menjadi media edukasi lingkungan, menumbuhkan kepedulian terhadap hutan dan satwa liar, tanpa membahayakan kesejahteraan gajah," tegasnya.

Baca juga: Update Terbaru IKN Kata Kepala Otoritas Basuki di Rakernas Kagama

Menurut Wisnu, keharmonisan antara manusia, satwa liar, dan alam menjadi kunci keberlanjutan ekosistem.

"Hutan bukan hanya milik manusia, tapi milik semua makhluk. Kalau itu dijaga bersama, masyarakat sejahtera dan gajah tetap lestari,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU