Senin, 01 DESEMBER 2025 • 00:00 WIB

Pakar UGM Soroti Mendesaknya Pelestarian Rafflesia Hasseltii di Hutan Sumatera

Author

Rafflesia Hasseltii di Hutan Sumatera (Istimewa)

JOGJA - Kemunculan bunga raksasa Rafflesia hasseltii kembali terdokumentasi di salah satu hutan hujan Sumatera Barat melalui penelitian kolaboratif Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Bengkulu, serta Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu. Riset yang turut didukung The University of Oxford Botanic Garden and Arboretum dan Program RIIM Ekspedisi BRIN ini kembali menegaskan krisis konservasi yang mengancam flora langka Indonesia.

Guru Besar Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Budi S. Daryono, M.Agr.Sc., menjelaskan bahwa keberadaan Rafflesia hasseltii sesungguhnya telah lama tercatat dalam literatur ilmiah. Meski demikian, temuan di lapangan tetap penting karena memperlihatkan tekanan ekologis yang semakin besar terhadap populasinya.

"Rafflesia hasseltii bukan spesies baru. Ini sudah lama terdokumentasi, termasuk dalam kajian saya. Tetapi hampir semua anggota genus Rafflesia kini berada dalam kondisi terancam akibat kerusakan habitat,” ujar Budi, Minggu (30/11/2025).

Ia menyebutkan bahwa dari 42 spesies Rafflesia yang telah ditemukan di Indonesia, mayoritas menghadapi risiko kepunahan. Sebagai tumbuhan holoparasit yang hanya dapat tumbuh pada inang Tetrastigma, Rafflesia sangat peka terhadap perubahan lingkungan.

"Fragmentasi hutan akibat perkebunan, pertambangan, dan alih fungsi lahan mempersempit ruang tumbuhnya. Naik satu sampai dua derajat saja, dia harus berjuang keras untuk bertahan,” kata Budi.

Tertinggal dalam Eksplorasi Spesies Baru

Budi juga menyoroti lambatnya eksplorasi biodiversitas di Indonesia jika dibanding negara lain di kawasan yang sama. Ia menilai Malaysia dan Filipina lebih cepat menambah daftar spesies baru lantaran memiliki pendanaan riset yang terarah dan teknologi molekuler yang lebih mapan.

"Di kita, eksplorasi sering terhambat pendanaan dan minimnya tenaga riset. Banyak populasi yang hilang sebelum sempat terdokumentasi. Potensi spesies baru pun akhirnya belum teridentifikasi,” tuturnya.

Baca juga: Meriahnya Kontes Kuda Andong di Malioboro Hari Ini, Warga Dukung Jadi Agenda Tahunan

Menurutnya, eksplorasi lapangan harus dijadikan agenda rutin, tidak hanya untuk memperbarui data persebaran tetapi juga memastikan tidak ada populasi yang hilang tanpa jejak. Ia menekankan bahwa setiap temuan harus disertai identifikasi ilmiah yang kuat, termasuk penggunaan analisis DNA.

"Penetapan nama itu harus jelas. Teknologi molekuler penting supaya kita bisa memastikan klaim spesies baru,” ujar Budi.

Konservasi In-situ dan Ex-situ

Selain itu, Budi menegaskan bahwa pelestarian habitat adalah kunci utama yakni menjaga hutan hujan tropis yang menjadi tempat hidup Tetrastigma dinilai menjadi langkah paling efektif untuk mempertahankan keberlanjutan Rafflesia.

"Keberhasilan konservasi sangat bergantung pada ekosistem yang utuh dan tidak terpecah-pecah,” ucapnya.

Namun, jika habitat alami tak lagi memungkinkan untuk dipulihkan, ia menilai konservasi ex-situ misalnya melalui kebun raya dan pusat riset perlu dilakukan.

"Kalau di lokasi asal tidak bisa dilindungi sepenuhnya, ya harus dibawa ke tempat lain untuk dikembangkan,” katanya.

Budi juga menilai bahwa keterlibatan masyarakat lokal adalah bagian penting dari pelestarian jangka panjang. Masyarakat disebutnya sebagai penjaga pertama habitat Rafflesia, sehingga edukasi mengenai nilai ekologisnya harus diperkuat.

"Rafflesia ini aset bangsa. Pemahaman tentang keunikannya harus ditanamkan sejak dini, terutama ke generasi muda,” ujarnya.

Baca juga: Kunjungi Smart Province di Yogya, Korlantas Sebut ETLE Pada Smart City Tidak Berfungsi Jika Tertib Berkendara: "Polri Tidak Bangga Lakukan Tilang"

Ia menambahkan, jika fondasi konservasi dapat dipastikan kuat, riset jangka panjang tentang Rafflesia berpotensi mengungkap manfaat lain yang selama ini belum tersentuh, termasuk kemungkinan adanya senyawa bioaktif untuk pengembangan fitofarmaka.

"Bioprospeksi itu penting, tapi jangan dibalik. Kita harus bisa melestarikan dan membudidayakan dulu sebelum bicara pemanfaatannya,” pungkas Budi. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU