Jumat, 28 NOVEMBER 2025 • 18:35 WIB

Soroti Konflik Percopotan Ketua PBNU Hingga Tudingan Zionis, NU DIY Desak Segera Diselesaikan : “Jangan Sampai Enggak Ada Program Kerakyatan"

Author

Konferensi pers Musyawarah Besar (Mubes) Warga Nahdliyin Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jumat (28/11/2025). (Olivia Rianjani)

JOGJA - Musyawarah Besar (Mubes) Warga Nahdliyin Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memberikan respons terkait kisruh yang tengah terjadi di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Konflik yang memanas belakangan ini, termasuk desakan pencopotan Ketua PBNU dan tudingan dukungan terhadap Zionis karena kunjungan ke Israel, menjadi perhatian serius warga NU di DIY.

Sekretaris Mubes Nahdliyin DIY, Zuhdi Abdurrahman, mengatakan bahwa kekhawatiran utama warga NU DIY bukan pada isu-isu nasional atau internasional, melainkan dampaknya terhadap masyarakat di akar rumput.

"Kita itu cuma khawatir kisruh ini enggak selesai kemudian tidak ada program kerakyatan. Kalau dari kita semua itu kembali ke kiainya dan masyarakat itu loh. Jadi apapun latar belakangnya terserah mereka yang di Jakarta tapi harus segera selesai. Karena kita tidak mau digiring ke arah blok barat atau blok timur. Kalau nanti kita kayak gitu ya nambah keruh,” ujar Zuhdi dalam konferensi persnya, Jumat (28/11/2025).

Ia menyatakan bahwa perhatian warga NU DIY lebih pada kesejahteraan rakyat jelata daripada persoalan politik yang berkembang di Jakarta.

"Jadi apapun yang latar belakang yang disana terjadi segera selesaikan jalannya ya itu tadi. Nah kita ngurus yang jelata-jelata inilah. Karena itu lebih real daripada kita soal ngomong Jakarta saya kira itu,” tegasnya.

Sementara itu, Penasehat Mubes Nahdliyin DIY, Nur Khalik Ridwan, menyoroti persoalan internal PBNU antara Syuriah dan Tanfidziyah. Menurutnya, konflik ini seharusnya dapat diselesaikan secara sederhana melalui komunikasi dan tabayun antar pihak terkait.

"Yang soal apa sih yang terjadi antara Syuriah dan Tanfidziyah ya kan sudah maklum lebih-lebih kami itu kan kebutuhan komunikasi yang seharusnya. Dan itu jauh dari gambaran kepemimpinan ulama. Artinya maksud saya sesuatu yang sangat sederhana bisa diselesaikan oleh beliau-beliau itu,” jelas Nur Khalik.

Menurutnya, warga NU DIY berharap otoritas baik di Suriyah maupun Tanfidziyah dapat mengurai persoalan yang selama ini menjadi kelemahan kepemimpinan mereka, termasuk isu-isu yang dituduhkan.

"Kalaupun itu bisa selesai dengan bayangan ketika buntu ya kami tidak lantas berpikir seperti yang tersebar di media, bahwa ini akan diajukan di luar tahkim internal. Misalnya akan dijadikan telik perdataan Naudzubillah,” tutur Nur Khalik.

Baca juga: Himbauan KAI Daop 6 Yogya Ingatkan Pengguna Lebih Waspada Jaga Barang Bawaan, Buntut Kasus Kehilangan Tumblr “Tuku” oleh Penumpang KRL

Lebih lanjut, ia menyebut peran para kiai di kultural maupun nonkultural sangat penting sebagai penengah untuk menyelesaikan konflik tersebut.

"Yang paling mungkin kami bayangkan itu, kami berharap juga pada kiai-kiai di kultural dan di luar kultural baik di Jawa Tengah dan di beberapa tempat itu, kami yakin beliau-beliau lebih mencintai NU daripada kami-kami ya kan turun tangan untuk menengah ini untuk mengenai kedua belah pihak ini. Entah solusi apapun yang keluar, entah percepatan muktamar ataupun kemudian ada kesepakatan-kesepakatan untuk islah kembali dalam berbagai catatan mereka, itu kami tidak ikut campuri lah,” jelas Nur Khalik.

Baca juga: Dies Natalis Ke-67, UPNV Yogya Gelar Jogja Heritage Fun Run 2025 Kategori 5K Dan 10K Desember Mendagang, Ajak Peserta Menyusuri Ikon Bersejarah

Ia menambahkan, mekanisme kultural dan peran pesantren besar diyakini akan menjadi jembatan untuk menjembatani otoritas Suriyah dan Tanfidziyah, tanpa harus terlibat dalam konflik politik di Jakarta.

"Makanya kan kemarin Rais A'am pulang ke Surabaya dari pertemuan Suriyah metemu dengan ketua umum satu pesawat langsung ke Lirboyo, berharap mungkin bayangan kami walaupun kita tidak dapat bocorannya pertemuan ketua umum dengan para pengasuh Lirboyo itu, tapi kelihatan arahnya. Berharap bahwa pada pinisepuh di pesantren-pesantren besar itu menjadi penengah untuk menjembatani antara otoritas Suriah dan di kelembagaan Di Tanfidziyah," pungkas Nur Kholik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Konferensi Pers

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU