Selasa, 25 NOVEMBER 2025 • 13:30 WIB

Populasi Macan Tutul Jawa Diperkirakan Hanya 319 Ekor, Pakar UGM Desak Pemerintah Lakukan Penanganan Konservasi Lanskap Dan Tindak Pelaku Perburuanan

Author

Potret Macan Tutul Jawa. (Istimewa)

JOGJA - Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) kini menjadi satu-satunya kucing besar yang masih bertahan di Pulau Jawa setelah harimau jawa punah beberapa dekade lalu. Namun, statusnya sebagai predator puncak tidak serta-merta menjamin kelangsungan hidupnya. Populasinya terus menurun dan habitatnya semakin terfragmentasi hingga membuat spesies endemik ini masuk kategori Kritis (Critically Endangered) menurut IUCN.

Dosen Fakultas Biologi UGM yang juga ahli DNA forensik satwa liar, Dr. Dwi Sendi Priyono, menilai kondisi tersebut sudah masuk fase darurat konservasi. Ia menegaskan bahwa status endemik dan populasi yang sangat kecil membuat macan tutul jawa rentan terhadap berbagai gangguan, mulai dari tekanan manusia hingga persoalan genetik.

"Penurunan populasi macan tutul jawa tidak bisa lagi dipandang sebagai fenomena biasa. Statusnya yang endemik dan jumlah yang sedikit membuat spesies ini sangat rentan terhadap gangguan demografis, genetik, hingga tekanan manusia," ujarnya, Selasa (25/11/2025).

Berdasarkan estimasi terbaru, populasi macan tutul jawa tinggal sekitar 319 individu, dengan jumlah dewasa kurang dari 50 ekor. Lebih rumit lagi, keberadaannya tidak hanya berada di kawasan konservasi, tetapi juga muncul di area non-lindung, sehingga distribusinya menjadi mosaik dan sulit dipetakan secara menyeluruh.

Sendi menjelaskan bahwa pendataan populasi masih menghadapi banyak tantangan karena sifat satwa ini yang elusif. Saat ini, tim peneliti tengah melakukan Java-Wide Leopard Survey (JWLS), sebuah survei komprehensif menggunakan kamera jebak dan analisis genetik.

"Itu merupakan metode pemantauan yang komprehensif," tegasnya.

Baca juga: Dua Gajah Betina di Way Kambas Mati Dalam Sebulan, Ahli UGM Desak Terapkan Konsep "One Health" Agar Tak Terulang

Ancaman Berlapis: Habitat Hilang, Perburuan, Konflik, Hingga Wabah Penyakit Mangsa

Lebih lanjut, Sendi merinci sejumlah ancaman menekan kelangsungan macan tutul jawa, mulai dari hilangnya habitat akibat alih fungsi lahan, konflik dengan manusia, hingga perburuan ilegal. Penurunan populasi mangsa juga ikut memperburuk keadaan, terutama setelah wabah African Swine Fever (ASF) turut memangkas populasi babi hutan yang merupakan mangsa penting.

"Faktor lain adalah penurunan ketersediaan mangsa karena overhunting atau wabah penyakit pada spesies mangsa,” jelas Sendi.

Konservasi Lanskap Jadi Kunci

Menanggapi risiko kepunahan tersebut, Sendi menilai bahwa strategi konservasi paling efektif adalah pendekatan in situ dalam skala lanskap, mengingat macan tutul jawa hidup berdampingan dengan manusia. Menurutnya, perlindungan patch habitat kunci serta penguatan jaringan kawasan lindung perlu diprioritaskan. Serta, wilayah non-kawasan lindung juga harus dikelola agar tetap berfungsi sebagai habitat satwa liar. 

"Strategi konservasi in situ diutamakan, ex situ sebagai pilihan pelengkap jika diperlukan,” tegasnya.

Baca juga: Penderita Alzheimer di Indonesia Capai 4,2 Juta, Pakar UGM Kenalkan Metode "Mas OK" Cegah Alzheimer

Butuh Kolaborasi Jangka Panjang

Selain itu, Sendi menekankan bahwa perlindungan macan tutul jawa membutuhkan kerja bersama banyak pihak yakni akademisi, penegak hukum, pengelola kawasan, dan masyarakat. Tanpa kolaborasi berkelanjutan, Ia khawatir macan tutul Jawa akan kembali kehilangan predator ikonik seperti yang terjadi pada harimau Jawa dan harimau Bali.

"Karnivora terbesar Pulau Jawa ini jangan sampai punah seperti harimau jawa atau harimau bali yang kini tidak dapat lagi kita saksikan secara langsung sebagai salah satu ‘kado’ alam untuk Indonesia," pungkas Sendi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU