Alasan Jembatan Pandansimo Berganti Nama Menjadi Jembatan Kabanaran, Humas Pemda DIY : " Nama Dipilih Sultan HB X"
JOGJA - Jembatan Pandansimo yang menghubungkan Kabupaten Kulonprogo di Kapanewon Galur, Kalurahan Banaran, dan Kabupaten Bantul di Kapanewon Srandakan, Kalurahan Poncosari, resmi berganti nama menjadi Jembatan Kabanaran yang telah diresmikan langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto dilokasi pada Rabu (19/11) siang kemarin. Perubahan nama ini sempat menimbulkan heboh dan pro-kontra di media sosial.
Pranata Hubungan Masyarakat Ahli Madya Pemda DIY, Ditya Nanaryo Aji, menjelaskan bahwa keputusan ini memiliki alasan historis yang kuat.
"Jembatan ini berada di kawasan historis lokasi markas perjuangan Pangeran Mangkubumi, atau yang kemudian dikenal sebagai Sultan Hamengku Buwono I, melawan Belanda. Nama Kabanaran diambil dari Desa Kabanaran, yang dulunya menjadi pusat markas dan kraton Pangeran Mangkubumi,” jelasnya dalam keterangan tulisnya, pada Kamis (20/11/2025).
Menurut Ditya, pemberian nama tersebut tidak hanya sekadar simbol geografis, tetapi juga memiliki nilai historis dan filosofi kepemimpinan.
"Diharapkan nilai penting perjuangan, ketangguhan, dan kebersamaan dalam mencapai cita-cita yang diperjuangkan Pangeran Mangkubumi dapat dimaknai dan dikontekstualisasikan dalam pembangunan jembatan ini," tuturnya.
Sejarah mencatat bahwa Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai Sunan Kabanaran pada 11 Desember 1749, sebelum akhirnya bergelar Sultan Hamengku Buwono I setelah Perjanjian Giyanti pada 1755.
Menurutnya, desa Kabanaran saat itu menjadi pusat pemerintahan dan pertahanan Pangeran Mangkubumi, lengkap dengan kraton, pemukiman, pasar, hingga penyelenggaraan acara-acara besar seperti Garebeg Mulud.
Namun, menyikapi pro-kontra perubahan nama itu di media sosial, Ditya menegaskan bahwa pemilihan nama Jembatan Kabanaran telah melalui pertimbangan matang dan disetujui langsung oleh Sultan HB X.
"Nama ini sudah dipilih oleh Sultan. Kami berharap masyarakat memahami konteks sejarah dan nilai yang terkandung di balik nama tersebut," tegasnya.
Oleh karena itu, pada perubahan nama ini diharapkan tidak hanya menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah, tetapi juga sebagai pengingat nilai-nilai kepemimpinan dan kebersamaan yang relevan bagi pembangunan saat ini.
"Diharapkan nilai penting tersebut terus mampu memaknai dan dikontekstualisasi dalam manifestasi pembangunan saat ini dalam wujud jembatan," pungkas Ditya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Di Grup WA