Mengenal Gamahumat, Solusi Cerdas Pembenah Tanah dari Batubara Untuk Jaga Pangan Dikenalkan UGM Kepada Warga Klaten,
JOGJA - Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui kegiatan Rembug Sesarengan UGM bertajuk “Ngolah Ilmu, Nandur Harapan” yang digelar di Desa Sekaran, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, Rabu (29/10/2025).
Rembug Sesarengan ini menjadi wadah penting untuk mempertemukan hasil riset kampus dengan kebutuhan nyata masyarakat desa. Salah satu inovasi yang menjadi sorotan dalam acara tersebut adalah Gamahumat, pembenah tanah hasil riset tim UGM yang memanfaatkan batubara berkalori rendah sebagai bahan baku utama.
Inovasi ini dikembangkan oleh tim peneliti Fakultas Teknik UGM yang dipimpin oleh Prof. Ferian Anggara, Prof. Himawan Tri Bayu Murti Petrus, ST., ME., D.Eng. dan Cahyo Wulandari.
Acara yang dihadiri warga setempat juga mendapat dukungan pemerintah daerah. Hadir dalam kesempatan itu Staf Ahli Bupati Klaten, Joko Istanto, S.H., M.Si., dan Camat Wonosari, Sri Wahyuningsih, S.Psi.
Dalam paparannya, Prof. Himawan menjelaskan bahwa Gamahumat merupakan bentuk terobosan riset UGM dalam mengolah sumber daya tambang menjadi solusi ramah lingkungan bagi sektor pertanian.
“Melalui Gamahumat, kami ingin menunjukkan bahwa batubara tidak selalu identik dengan polusi. Justru dari bahan ini, kita bisa menghasilkan senyawa humat yang bermanfaat untuk memperbaiki struktur tanah dan mendukung produktivitas pertanian,” ujar Prof. Himawan.
Riset Gamahumat, lanjut Himawan, telah dimulai sejak tahun 2022 di bawah koordinasi Prof. Ferian Anggara. Pengembangan dilakukan dengan dukungan pendanaan dari PT Bukit Asam (PTBA) yang kemudian mengembangkan versi industrinya dengan merek dagang BA Grow.
"Produk ini menjadi contoh nyata sinergi antara kampus, industri, dan masyarakat. Dari sisa kegiatan pertambangan, kita bisa menghasilkan produk yang ramah lingkungan dan berdaya guna tinggi," terang Himawan.
Manfaat Nyata di Lahan Marginal
Himawan menambahkan bahwa Gamahumat telah diuji di berbagai wilayah dengan kondisi tanah beragam, termasuk lahan karst di Gunungkidul dan lahan pasiran di Turgo, Sleman. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan pada produktivitas tanaman.
“Pada lahan padi dengan tanah ber-pH asam, penggunaan pupuk bisa dikurangi hingga 50 persen, tetapi hasil panen tetap mencapai enam ton per hektar,” ungkapnya.
Senyawa humat dalam Gamahumat berperan sebagai soil stabilizer dan pH adjuster, yang membantu tanah menjadi lebih gembur dan menjaga unsur hara tetap tersedia. Produk ini juga mudah diaplikasikan tanpa menambah biaya tenaga kerja karena bisa digunakan bersamaan dengan jadwal pemupukan rutin.
“Kami memastikan Gamahumat bisa digunakan dalam alur kerja petani tanpa menambah tenaga atau biaya tambahan,” jelas Guru Besar Bidang Ilmu Pengolahan Bahan Mineral Fakultas Teknik UGM tersebut.
Lanjut Prof. Himawan menegaskan, melalui riset seperti Gamahumat, paradigma tentang industri tambang bisa diubah.
“Kami ingin membuktikan bahwa dari tambang pun bisa lahir solusi hijau yang mendukung ketahanan pangan nasional,” tuturnya.
Baca juga: Mutasi Sejumlah Pejabat Baru Kejati DIY, Kajati DIY I Gde Ngurah : "Jaga Integritas"
Harapan dari Desa Sekaran
Staf Ahli Bupati Klaten, Joko Istanto, mengapresiasi langkah UGM dalam mendekatkan riset dengan masyarakat.
"Kami sangat mendukung program seperti ini. Semoga Gamahumat dapat menjadi solusi untuk meningkatkan hasil pertanian dan memperbaiki kualitas tanah di wilayah Klaten,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan