Lagi, Keracunan Massal Diduga Konsumsi Lauk MBG Di Tiga Sekolah Mlati Sleman, 1 Dirujuk di RSA UGM
JOGJA - Sejumlah siswa dari tiga sekolah di wilayah Mlati, Kabupaten Sleman, DIY, mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi lauk dari penyedia makanan MBG. Berdasarkan informasi sementara, total ada 214 siswa yang dilaporkan mengalami gejala seperti mual, pusing, dan diare.
Kepala Puskesmas Mlati I, Isah Listiyani, mengungkapkan bahwa laporan pertama diterima sekitar pukul 09.00 WIB dari guru SMP Negeri 2 Mlati. Awalnya, sekitar 50 siswa mengalami keluhan sakit perut, mual, dan lemas. Namun jumlah tersebut terus bertambah.
“Kita sudah mengamankan sampel makanan juga, nanti dari Dinas Kesehatan yang akan melanjutkan. MBG-nya juga sudah diamankan,” ujar Isah keoada wartawan di Puskesmas Mlati I, Jumat (24/10/2025).
Menurut Isah, total sementara ada 84 siswa yang sempat ditangani di Puskesmas Mlati I. Para siswa berasal dari SMPN 2 Mlati, MAN 3 Sleman, dan SD Jombor Lor. Satu orang dirujuk ke RSA UGM karena mengalami gejala lebih berat.
“Hanya satu yang kita rujuk ke RSA UGM karena perlu diinfus. Yang lainnya cukup rawat jalan, diberi obat sesuai keluhan,” jelasnya.
Baca juga: Ribuan Siswa Keracunan Lauk MBG, Alasan Pakar UGM Minta Program Hentikan Sementara Programnya
Sementara itu, Plt Panewu Mlati, Arifin, menambahkan bahwa pihaknya mencatat total sementara 90 siswa yang dibawa ke fasilitas kesehatan. Sementara jumlah keseluruhan siswa yang bergejala di sekolah diperkirakan mencapai 214 orang.
“Yang kami data adalah yang dibawa ke puskesmas. Kalau yang bergejala di sekolah jumlahnya lebih banyak, sekitar dua ratusan. Tapi yang di Puskesmas Mlati I ada 90 orang,” ungkap Arifin.
Adapun rincian siswa yang dirawat, yaitu 20 siswa dari MAN 3 Sleman, 55 siswa dari SMPN 2 Mlati, dan 15 siswa dari SD Jombor Lor. Menurut Arifin, menu makanan yang dikonsumsi para siswa berasal dari penyedia yang sama, yaitu SPPG Sinduadi di Gedongan.
“Menunya sama, dari satu SPPG. Opor, tahu, acar. Kalau untuk keputusan penutupan atau evaluasi dapur, itu nanti jadi kewenangan pihak BGN. Kami sudah menyarankan terkait sanitasi dan SOP pengolahan,” terangnya.
"SPPG-nya itu dari Sinduadi, Gedongan," sambungnya.
Lanjut Arifin menyebut, kasus dugaan keracunan ini bukan yang pertama kali terjadi di wilayah Mlati. Pihaknya bersama unsur terkait telah melakukan monitoring terhadap penyedia makanan sekolah sebelumnya.
“Senin lalu kami sudah melakukan pemantauan dengan beberapa unsur terkait SPPG di Mlati, termasuk soal sanitasi dan SOP. Tapi kami hanya bisa memberikan saran, kewenangannya bukan di kami,” tandasnya.
Baca juga: Ratusan Warga Terdampak Proyek Jalan Prambanan - Lemahbang Terima Sertifikat Tanah
Saat ini, seluruh sampel makanan telah diamankan untuk diperiksa lebih lanjut oleh Dinas Kesehatan Sleman guna memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Dan Wawancara Langsung