Kamis, 23 OKTOBER 2025 • 14:50 WIB

Tim Mahasiswa UGM Ini Kembangkan Eceng Gondok dan Mikroalga Jadi Obat Alami Sembuhkan Luka Diabetes, Begini Hasilnya

Author

Tim Mahasiswa UGM saat membuat Eceng Gondok dan Mikroalga untuk menjadi obat alami pada luka diabetes. (Istimewa (via e-mail))

JOGJA - Kasus Diabetes Melitus (DM) yang terus meningkat di berbagai kalangan usia membawa kekhawatiran serius, terutama terkait komplikasi yang dapat muncul, seperti ulkus diabetikum. Luka ini bukan sekadar gangguan kecil, melainkan bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani dengan tepat.

Melihat kasus tersebut, tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) ChloScaf+ menciptakan inovasi berupa scaffold hidrogel berbasis bahan alami dari eceng gondok dan mikroalga. Scaffold hidrogel ini berfungsi sebagai biomaterial yang dapat mendukung pembentukan jaringan baru pada luka.

Eceng gondok dan mikroalga yang selama ini dianggap hama dan gangguan di perairan, ternyata memiliki potensi besar sebagai bahan bernilai ekonomis dan bisa digunakan dalam berbagai industri, termasuk bidang kesehatan,” ujar Pamastadewi Pryankha Hijrianto, ketua tim dari Fakultas Biologi UGM, Kamis (23/10/2025).

Tim yang terdiri dari mahasiswa lintas fakultas ini yakni diantaranya Keanu Saputra Valenka Darmawan (Fakultas Teknologi Pertanian), Gresmawarrenes Jamuss (Fakultas Farmasi), Kamilah Kusuma Maharani (Fakultas Farmasi), dan Lidya Oktaviani (Fakultas Teknik), serta di bawah bimbingan Bapak Tyas Ikhsan Hikmawan, S.Si., M.S., Ph.D.

Menurut tim, inovasi scaffold hidrogel ini menggabungkan serat selulosa dari eceng gondok yang mudah terurai dan memiliki daya serap tinggi, dengan biomassa mikroalga Chlorella vulgaris yang kaya antioksidan dan metabolit sekunder.

"Kombinasi bahan ini memungkinkan proses penyembuhan luka diabetikum menjadi lebih cepat,” jelas Gresmawarrenes Jamuss.

Gresmawarrenes menambahkan, keunggulan lain dari scaffold ini adalah aktivitas antibakterinya yang mampu melawan bakteri penyebab infeksi pada luka, seperti Staphylococcus aureus.

"Infeksi bakteri dapat memperparah luka bahkan menyebabkan kematian jaringan, yang dalam kasus ekstrim dapat berujung pada amputasi,” ungkapnya.

Baca juga: BMKG Prediksi La Nina Melanda Indonesia Hingga Januari 2026, Dosen UGM Beberkan Dampaknya

Anggota lain, Lidya Oktaviani dari Fakultas Teknik menjelaskan, proses pembuatan scaffold juga dilakukan dengan metode ramah lingkungan.

"Serat eceng gondok diolah dengan beberapa tahap mulai dari penghilangan lapisan lilin, pemutihan, hingga asidifikasi untuk menghasilkan serat selulosa yang bersih dan halus. Mikroalga pun dipanen lalu dikeringkan menggunakan metode liofilisasi sehingga biomassa tetap berkualitas," terangnya.

Setelah bahan dasar siap, formulasi scaffold dengan variasi konsentrasi mikroalga 0,05 persen, 0,3 persen, dan 0,8 persen dilakukan.

"Pengujian kualitas dan efektivitas scaffold terus kami lakukan agar produk akhir benar-benar efektif dan aman digunakan,” jelas Keanu Saputra Valenka Darmawan dari Fakultas Teknologi Pertanian.

Baca juga: UGM Kukuhkan Dua Guru Besar Farmasi, Soroti Potensi Daun Sukun untuk Pengobatan Penyakit Jantung

Keanu menambahkan, inovasi ini juga bertujuan mengurangi ketergantungan pada bahan kimia impor, khususnya yang bersifat sintetis, dalam pembuatan alat medis.

"Kami berharap inovasi ini bisa menjadi pondasi pengembangan scaffold hidrogel ramah lingkungan di tingkat industri,” tandas Keanu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU