Bantu Komunikasi Anak Celebral Palsy Dan Speech Delay, Empat Mahasiswa UGM Ini Ciptakan Aplikasi "Kata Kita" Dilengkapi Fitur AR
JOGJA - Sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menciptakan inovasi teknologi edukatif berupa aplikasi “Kata Kita”, sebuah permainan digital interaktif yang dirancang khusus untuk membantu anak-anak penyandang cerebral palsy dan speech delay berlatih berbicara dengan cara yang menyenangkan.
Tim pengembang terdiri dari Muhammad Zufar Syafiq dan Muhammad Haidar Syafiq dari Fakultas Teknik Informatika, Kesha dari Fakultas Psikologi, serta Nabila Samna Haki (Abing) dari Fakultas Ilmu Budaya UGM. Mereka bekerja sama dengan Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP) Yogyakarta dimana komunitas yang menaungi orang tua dan anak-anak penyandang cerebral palsy.
Zufar menuturkan, ide pembuatan aplikasi ini muncul setelah timnya melakukan observasi langsung ke komunitas WKCP. Hasilnya, mereka menemukan mayoritas anak dengan cerebral palsy mengalami kesulitan berbicara.
“Sekitar 75 persen anak cerebral palsy belum bisa berbicara sama sekali, sementara sisanya mengalami keterlambatan bicara ringan hingga sedang,” ujar Zufar kepada wartawan, Jumat (10/10/2025).
Menurutnya, banyak keluarga kesulitan mengakses terapi wicara karena keterbatasan biaya dan mobilitas. Selain itu, media terapi konvensional yang ada dinilai masih monoton dan kurang menarik bagi anak-anak.
“Kami ingin menghadirkan media yang bisa membantu terapi bicara, tapi dengan cara yang lebih interaktif dan menyenangkan bagi anak,” ucapnya.
Melalui Kata Kita, anak-anak akan diajak berpetualang bersama karakter utama bernama Budi, seorang anak dengan keterlambatan bicara. Dalam permainan, Budi harus mengumpulkan “buku resep” di berbagai level seperti kebun, peternakan, atau dapur untuk mengembalikan kemampuannya berbicara.
Setiap “buku” berisi tantangan pengucapan kata sederhana, misalnya “apel” atau “bawang”. Aplikasi kemudian mendeteksi suara anak dan menilai ketepatan pengucapannya secara otomatis.
“Kalau anak salah mengucap, tidak ada penalti atau teguran keras. Sebaliknya, muncul pesan afirmatif seperti ‘Wah, kamu sudah hebat!’ supaya mereka tetap semangat,” jelas Zufar.
Rekan lainnya, Muhammad Haidar Syafiq, turut menyampaikan bahwa pendekatan positif ini, kata dia, penting karena banyak anak dengan keterbatasan bicara cenderung sensitif terhadap nada negatif atau kritik langsung.
Tak hanya itu, Kata Kita juga dilengkapi fitur Augmented Reality (AR) berupa kartu interaktif.
Setelah menyelesaikan satu level permainan, anak akan mendapatkan kartu yang bisa dipindai menggunakan kamera, menampilkan gambar 3D hewan atau benda yang baru mereka pelajari.
“Fitur AR membuat proses belajar tidak membosankan. Anak bisa melihat objek muncul di layar setelah berhasil mengucapkan kata tertentu,” ujar Haidar.
Selain aspek permainan, aplikasi ini juga terintegrasi dengan website pemantauan untuk orang tua. Melalui dasbor, orang tua dapat melihat perkembangan anak secara detail mulai dari kata yang sudah dikuasai, tingkat akurasi pengucapan, hingga progres belajar dari waktu ke waktu.
Sistem analisis di website tersebut, lanjut Zufar, bahkan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) Google Gemini untuk merangkum hasil latihan dan memberikan insight bagi orang tua.
“Kami tidak bermaksud menggantikan peran terapis wicara, tapi aplikasi ini bisa menjadi sarana pendukung terapi di rumah,” kata Zufar.
Sebelum resmi dirilis, Kata Kita telah melalui proses validasi oleh Ikatan Terapis Wicara Indonesia (Ikat Dwi) DIY dan dosen pembimbing dari Fakultas Psikologi UGM, Elga Ndriana.
Respons awal dari para orang tua pengguna juga terbilang positif. Banyak di antara mereka yang antusias mendampingi anaknya bermain dan berlatih melalui aplikasi ini.
“Dari data website, terlihat banyak orang tua yang membuka aplikasi di luar sesi pelatihan. Itu artinya mereka merasa terbantu,” tutur Zufar.
Ke depan, tim pengembang berharap Kata Kita dapat terus dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak profesional terapi wicara dan menjangkau pengguna di seluruh Indonesia.
“Kami ingin anak-anak bisa belajar bicara tanpa tekanan, dengan cara yang menyenangkan dan melibatkan orang tua secara langsung,” pungkas Zufar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung