Kamis, 02 OKTOBER 2025 • 20:30 WIB

20 Tahun Berselang, Megawati Kembali Kunjungi Hutan Wanagama Gunungkidul, Kenang Bibit Jati "Jatimega"

Author

Megawati Soekarnoputri, kembali mengunjungi Hutan Pendidikan Wanagama, Gunungkidul, Kamis (2/10). (Istimewa (via e-mail))

JOGJA -- Presiden Kelima Republik Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pengarah BRIN, Prof. Dr. (H.C.) Hj. Megawati Soekarnoputri, kembali mengunjungi Hutan Pendidikan Wanagama, Gunungkidul, Kamis (2/10/2025). Kunjungan ini menjadi momen nostalgia setelah 20 tahun silam. Megawati sempat berkunjung dan memberikan bantuan pengembangan sumur bor untuk pemuliaan hutan jati.

Megawati disambut langsung oleh Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, didampingi jajaran pimpinan kampus, Bupati Gunungkidul, Wakil Bupati Sleman, serta para pejabat daerah lainnya. Dalam kunjungannya, Megawati menerima penjelasan mengenai sejarah dan perkembangan Wanagama sebagai kawasan hutan pendidikan dari Direktur KHDTK Wanagama, Ir. Rini Pujiarti, S.Hut., M.Agr., Ph.D., IPM.

Megawati juga menandatangani bingkai foto dokumentasi kunjungannya ke Wanagama pada tahun 2005, sebagai bentuk penghormatan atas peran masa lalunya dalam pengembangan kawasan tersebut.

Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Ir. Sigit Sunarta, S.Hut., M.P., M.Sc., Ph.D., IPU, menjelaskan bahwa salah satu warisan penting dari kunjungan Megawati dua dekade lalu adalah pengembangan varietas jati unggul yang kini dikenal dengan nama Jatimega.

Bibitnya dulu dikembangkan dengan bantuan dari Ibu Megawati. Karena itu kita beri nama Jatimega. Kini, bibit itu sudah berusia 21 tahun dan ditanam di petak 16 seluas lima hektare,” ujar Sigit.

Baca juga: Sambangi Seminar BRIN di UGM, Megawati Ingatkan Negeri Ini Milik Anak Muda

Jatimega, kata dia, merupakan jenis jati unggul yang memiliki pertumbuhan lebih cepat dibandingkan jati biasa. Jika jati konvensional membutuhkan waktu hingga 60 tahun untuk tumbuh optimal, Jatimega bisa dicapai dalam kurun waktu sekitar 20 tahun saja.

Ini tentu jadi keunggulan tersendiri dalam pengelolaan hutan, khususnya untuk pengembangan genetika tanaman kehutanan,” tambahnya.

Menurut Sigit, pesan Megawati dalam kunjungan kali ini adalah pentingnya menjaga kelestarian Hutan Wanagama sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK). Ia mengingatkan agar tidak ada penebangan pohon, sejalan dengan mandat pengelolaan yang memang lebih menitikberatkan pada edukasi dan konservasi.

Beliau berpesan agar kawasan ini tetap lestari. Tidak boleh ada penebangan, dan memang kami di UGM sejak awal tidak menebang, hanya melakukan penanaman,” tegasnya.

Baca juga: Mahasiswa UGM Ini Pecahkan Rekor MURI sebagai Orang Indonesia Termuda yang Jelajahi Antarktika

Meski demikian, hasil hutan non-kayu tetap dimanfaatkan. Wanagama sendiri terus berkembang sebagai pusat edukasi kehutanan, pelatihan, dan juga ekowisata. Beberapa fasilitas seperti gedung dan ruang pelatihan telah dibangun untuk mendukung fungsi tersebut.

Selain di Wanagama, pengembangan Jatimega juga telah meluas ke kawasan hutan lain di Jawa, seperti di Ngawi dan Blora.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU