JOGJA - Dalam upaya memperkuat ketahanan pangan nasional dan mempercepat hilirisasi riset, Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui tim “Riset Kuat Pangan Hebat” menggelar talkshow bertajuk Obrolan Kecil, Harapan Besar: Indonesia Tanpa Kelaparan, belum lama ini di Gedung Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK), UGM.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Inovokasia 2025, dan menjadi wujud nyata komitmen UGM dalam menghadirkan solusi konkret terhadap tantangan ketahanan pangan serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-2 yakni tanpa kelaparan.
Hadir sebagai pembicara utama, Guru Besar Fakultas Pertanian UGM sekaligus inovator benih padi Gamagora 7 dan beras Presokazi, Prof. Dr. Ir. Taryono, M.Sc., menekankan pentingnya keberlanjutan riset hingga ke tingkat petani. Ia menegaskan bahwa hasil riset tidak boleh berhenti di laboratorium saja.
“Ketahanan pangan hanya bisa terwujud jika hasil riset hadir langsung di tengah-tengah petani, bukan sekadar jadi jurnal atau paten,” ujar Taryono.
Menurutnya, strategi pertanian intensif yang tetap ramah lingkungan harus terus dikembangkan agar masyarakat mendapatkan akses terhadap pangan yang aman, cukup, dan bergizi. Salah satu langkah konkret UGM dalam mendukung hal tersebut adalah pengembangan varietas padi unggul Gamagora 7.
Baca juga: Layani 2 X 24 Jam, Walikota Yogya Hasto Uji Coba Layanan Jemput Sampah "TRC Mas JOS"
Padi Gamagora 7 dikenal memiliki umur tanam yang lebih singkat, produktivitas tinggi, serta kandungan nutrisi yang lebih baik dibanding varietas konvensional. Dari varietas ini pula lahir produk hilirisasi berupa beras Presokazi, beras premium yang diklaim kaya zat besi (Fe) dan seng (Zn), serta memiliki kadar protein tinggi.
“Presokazi bukan sekadar beras berkualitas. Ini adalah bukti bahwa riset pangan bisa menjawab isu gizi, termasuk stunting, yang masih menjadi masalah besar di Indonesia,” jelas Taryono.
Dalam sesi tanya jawab, seorang mahasiswa asal Jawa Barat mempertanyakan kinerja varietas Gamagora 7 di daerah yang sering menghadapi persoalan hama dan kekurangan air. Menanggapi hal tersebut, Taryono mengungkapkan bahwa uji coba di beberapa wilayah Jawa Barat menunjukkan hasil yang menjanjikan.
“Padi Gamagora 7 tetap bisa tumbuh baik meski irigasi terbatas. Tapi memang, karena kualitas berasnya yang disukai konsumen, varietas ini cukup rentan terhadap gangguan hama, terutama tikus. Pendampingan teknis sangat diperlukan,” katanya.
Baca juga: 23 Kafilah MQKN DIY Pamit ke Wagub Paku Alam X, Siap Harumkan Nama Daerah di Ajang Nasional
Lebih lanjut, Taryono menyebutkan bahwa tantangan utama dalam penyebaran varietas unggul tidak hanya bersifat teknis, melainkan juga sosial dan ekonomi. Ia mengakui bahwa banyak petani masih enggan beralih dari varietas lama karena keterbatasan informasi dan modal.
"Petani butuh didampingi dan diberdayakan. Universitas punya tanggung jawab moral untuk memastikan inovasi yang mereka hasilkan benar-benar sampai dan dipahami oleh petani,” tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail