JOGJA - Perilaku konsumtif dan kurangnya kontrol porsi makan di kalangan Generasi Z dinilai berkontribusi terhadap meningkatnya food waste, khususnya nasi sebagai makanan pokok. Hal ini diungkapkan dalam hasil penelitian disertasi mahasiswa Program Doktor Ilmu Ketahanan Nasional Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Shinta Dewi Novitasari.
Dalam disertasinya yang berjudul “Dampak Perilaku Generasi Z Menghasilkan Sampah Makanan (Food Waste) Berbasis Komoditas Beras Terhadap Ketahanan Pangan di Kabupaten Bantul,” Shinta mengungkapkan bahwa usia 13–28 tahun atau generasi muda saat ini masih menjadikan nasi sebagai makanan utama. Namun sayangnya, lemahnya kontrol terhadap porsi makan menyebabkan banyaknya sisa nasi yang terbuang.
"Perilaku membuang makanan, khususnya nasi, yang dilakukan generasi muda menunjukkan adanya ketidakseriusan dalam mengelola konsumsi pangan secara berkelanjutan," kata Shinta dalam keterangannya, Rabu (24/9/2025).
Ia menegaskan bahwa masalah food waste tak bisa dipandang sepele karena berdampak langsung terhadap ketahanan pangan nasional. Menurutnya, ketahanan pangan tidak hanya berkutat pada sisi produksi dan distribusi, tetapi juga dari aspek konsumsi.
"Food waste generasi muda memiliki dampak terhadap menurunnya efektivitas penggunaan pangan. Ini penting untuk segera diatasi dengan pendekatan perilaku," ujarnya.
Dari hasil penelitiannya, Shinta mengusulkan beberapa solusi, mulai dari integrasi literasi pangan ke dalam kurikulum sekolah, kampanye edukasi melalui media sosial, hingga penguatan bank makanan komunitas di tingkat RT/RW.
Ia juga merumuskan strategi pengurangan food waste melalui dua pendekatan utama, yakni mitigasi dan navigasi. Strategi mitigasi bersifat jangka pendek seperti edukasi atau kampanye, sementara strategi navigasi menekankan pada solusi jangka panjang melalui kebijakan daerah yang adaptif.
Baca juga: Layani 2 X 24 Jam, Walikota Yogya Hasto Uji Coba Layanan Jemput Sampah "TRC Mas JOS"
"Intervensi berbasis perilaku menjadi penting, terutama penguatan kontrol perilaku Generasi Z, sebagai prioritas dalam kebijakan pangan daerah," tegasnya.
Lebih lanjut, Shinta memaparkan bahwa generasi muda memiliki potensi besar sebagai penggerak konsumsi berkelanjutan. Oleh karena itu, ia mengembangkan sebuah model pendekatan baru bernama Behavioral-Based Food Security Model, yang menempatkan perilaku konsumsi Generasi Z sebagai variabel utama dalam penguatan ketahanan pangan.
"Model ini bisa menjadi referensi bagi pemerintah daerah dalam merancang kebijakan berbasis bukti untuk menjawab tantangan pangan di masa depan," jelasnya.
Baca juga: Semarak 18 Kelompok Tani Kapanewon Se-Gunungkidul Peringati Hari Tani Nasional 2025
Penelitian Shinta tak hanya menjadi disertasi semata. Ia juga telah mempublikasikan artikel ilmiahnya di jurnal internasional terindeks Scopus Q3, Food Research, dengan judul “The Effect of Food Waste Behavior among Generation Z on Sustainable Food Security.”
Ujian tertutup disertasi Shinta dipimpin oleh Dekan Sekolah Pascasarjana UGM, Prof. Dr. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN.Eng., dengan tim promotor Prof. Dr. Ir. Djagal Wiseso Marseno, M.Agr., serta co-promotor Dr. Ir. Didik Purwadi, M.Ec. Adapun tim penguji terdiri dari sejumlah akademisi seperti Dr. Sudrajat, S.Si., M.P.; Prof. Dr. Jamhari, S.P., M.P.; Prof. Dr. Armaidy Armawi, M.Si.; dan Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail