JOGJA - Dalam rangka merayakan Lustrum XIV dan Dies Natalis ke-70, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar pertunjukan seni bertajuk Biothoprak Ande-Ande Lumuten pada belum lama ini. Bertempat di halaman fakultas, pementasan ini memadukan dongeng klasik Jawa dengan isu-isu sosial kontemporer yang sukses memikat perhatian ratusan penonton dari sivitas akademika hingga tamu undangan.
Berbeda dari ketoprak biasa, Biothoprak ini menjadi unik karena seluruh pemeran hingga kru produksi berasal dari keluarga besar Fakultas Biologi dosen, mahasiswa, alumni, hingga tenaga kependidikan dengan kolaborasi lintas fakultas. Cerita yang diangkat pun tidak hanya menyentuh sisi budaya, namun juga menyinggung persoalan aktual seperti defisit anggaran, tambang di kawasan hutan lindung, hingga kritik terhadap program MBG yang belum sepenuhnya berhasil.
“Kita ingin menyampaikan pesan moral tentang kepemimpinan dan integritas lewat cerita yang ringan namun mengena,” ujar Ganies Riza Aristya, Ketua Panitia Lustrum XIV Fakultas Biologi UGM, saat ditemui seusai acara.
“Ande-Ande Lumuten ini kami angkat karena relevan dengan kondisi saat ini bagaimana seorang pemimpin harus jujur, berani, dan menjunjung nilai moral,” imbuhnya.
Pementasan dibuka dengan latar Kerajaan Jenggala. Ketegangan mulai terasa ketika Menteri Keuangan mengusulkan efisiensi belanja negara demi mengatasi defisit, namun ditentang keras oleh Patih Brajanata yang justru menuntut kenaikan tunjangan. Intrik politik dan ambisi kekuasaan semakin terasa ketika sang patih berkhianat dan mencoba merebut tahta kerajaan dengan cara licik, termasuk meracuni jubah putra mahkota, Ande-Ande Lumuten.
Baca juga: Alasan Pemkot Yogya Tak Gelar WJNC Pada Oktober 2025
Di tengah gejolak itu, kisah asmara antara Ande-Ande Lumuten dan Klenting Kuning memberi warna tersendiri. Seperti dalam versi asli dongeng Jawa, Klenting Kuning muncul sebagai tokoh penyelamat, membawa penawar racun, sekaligus membawa harapan baru bagi kerajaan. Namun dalam versi Biothoprak, cerita ini juga menjadi sindiran tajam terhadap pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan.
Yang membuat penonton terhibur bukan hanya alur cerita yang padat konflik dan penuh pesan moral, tetapi juga penyisipan guyonan khas ketoprak serta istilah-ilmu dari dunia biologi yang membuat suasana semakin akrab dan segar.
“Seni itu bisa menjadi sarana menyampaikan kritik sosial yang elegan. Dan Biothoprak ini adalah panggung silaturahmi, bukan sekadar pertunjukan seni,” ujar Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., Ph.D., Dekan Fakultas Biologi UGM.
Baca juga: Layani 2 X 24 Jam, Walikota Yogya Hasto Uji Coba Layanan Jemput Sampah "TRC Mas JOS"
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi momen mempererat hubungan antaranggota sivitas akademika, termasuk alumni atau Kabiogama.
“Saya berharap ini bisa menjadi ruang tumbuhnya kembali semangat berkesenian di lingkungan akademik. Karena seni itu membuat hidup kita lebih indah,” pungkasnya.
Pagelaran Biothoprak Ande-Ande Lumuten menjadi salah satu agenda puncak dalam perayaan Lustrum XIV Fakultas Biologi. Selain pertunjukan, malam itu juga dimeriahkan dengan pembagian doorprize dan sajian angkringan gratis yang menambah kehangatan suasana. Perpaduan budaya, hiburan, dan refleksi sosial menjadikan acara ini tak hanya meriah, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail