Segudang Prestasi Anugrah Fadly Wisudawan UNY Periode Agustus 2025, Buktikan Autisme Bukan Penghalang Raih Gelar Magister
JOGJA - Perjalanan hidup Anugrah Fadly Kreato Seniman, penyandang Autism Spectrum Disorder (ASD), tak pernah mudah. Sejak bayi ia telah menghadapi tantangan besar, namun kegigihannya dalam berkarya dan belajar justru membawanya meraih gelar Magister Pendidikan Luar Biasa dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada Wisuda Agustus 2025. Pria yang akrab disapa Uga ini telah melewati masa kecil yang penuh rintangan.
Didiagnosis mengidap ASD dan gangguan tidur, ia dan keluarganya terus berjuang mencari pendidikan yang tepat. Namun jalan itu tidak selalu mulus. Mulai dari sekolah umum hingga sekolah khusus, Uga kerap menghadapi penolakan dan lingkungan belajar yang tidak ramah terhadap anak autis.
"Di masa sekolah, saya lebih banyak merasa tersisih. Tidak semua guru dan teman memahami kondisi saya," ungkap Anugrah, disapa akrab Uga itu, saat ditemui usai wisuda di UNY, pada Selasa (27/8/2025).
Beruntung, situasi semakin membaik ketika Uga diterima sebagai mahasiswa Seni Rupa di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Di kampus seni itulah ia mulai merasa diterima, bebas berekspresi, dan menemukan jati dirinya.
“Awalnya saya minder, apalagi harus berinteraksi dengan mahasiswa dari luar negeri. Tapi justru dari mereka saya belajar membuka diri,” katanya.
Setelah menyelesaikan studi sarjananya, Uga melanjutkan ke jenjang magister di UNY atas dorongan dosennya, Dr. Hajar Pamadhi. Di Program Magister Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan UNY, Uga mulai serius menggarap isu inklusi bagi anak-anak autis melalui pendekatan seni.
Selama kuliah, ia berkesempatan belajar dari akademisi internasional, termasuk Prof. David Evans dari University of Sydney, Dr. Ratchaneekorn Tongsookdee dari Thailand, dan Prof. Hideaki Tanimoto dari University of Tokyo. Dari para pakar itulah, ia semakin yakin bahwa seni bisa menjadi media terapi dan komunikasi yang efektif bagi anak autis.
Lanjut Uga menyebut, dirinya menulis tesis dengan judul “Respon Anak Autis Terhadap Kegiatan Pameran Seni Rupa I’M POSSIBLE: Ekspresikan Dirimu”. Tesis ini menjadi bukti nyata dari keyakinan tersebut. Ia meneliti dampak keterlibatan anak-anak autis dalam pameran seni rupa, tidak hanya sebagai penikmat, tetapi sebagai seniman.
“Hasilnya luar biasa. Anak-anak jadi lebih percaya diri, lebih fokus, dan mulai terbuka dalam berkomunikasi. Seni bukan hanya karya, tapi jembatan untuk mereka mengekspresikan diri,” jelasnya.
Menariknya, Uga tidak hanya meneliti dari luar, tapi juga mengalaminya secara pribadi sebagai penyandang autisme. Hal ini menjadikan penelitiannya sarat nilai empatik dan kemanusiaan.
“Bagi saya, ini bukan sekadar tugas akademik. Saya paham betul bagaimana rasanya tidak dipahami. Itulah kenapa saya ingin anak-anak autis punya ruang untuk bicara lewat seni,” tuturnya.
Gelar Magister yang ia raih dengan IPK 3,45 menjadi simbol dari perjalanan panjang dan konsistensinya melawan stigma. Uga juga mengakui peran besar Pusat Studi Disabilitas UNY yang selama ini memberikan dukungan moril, konsultasi, hingga layanan aksesibilitas yang memadai.
“Prof. Ishartiwi dan tim selalu terbuka. Saya merasa punya rumah kedua di sini,” ucapnya.
Bercita - Cita Lanjut Doktoral
Selepas wisuda Magister, Uga tidak ingin berhenti. Ia menyimpan cita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral. Misinya jelas: membuka ruang seluas-luasnya bagi anak autis agar bisa mengekspresikan diri, dihargai, dan didengar.
“Seni dan pendidikan adalah jalan pengabdian saya,” pungkas Uga.
Mewakili akademisi UNY, Dr. Sukinah, M.Pd., dosen pembimbing tesis Uga, mengaku bangga bisa mendampingi prosesnya dari awal hingga lulus.
“Anugrah adalah bukti bahwa dengan pendekatan yang tepat, mahasiswa dengan kebutuhan khusus pun bisa berprestasi,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Via Grup Media UNY