Selasa, 26 AGUSTUS 2025 • 13:11 WIB

Dari Desa Menuju Podium Wisuda, Kisah Reni Asal Tempel Sleman Raih Predikat IPK Tertinggi Pada Wisuda UNY Periode Agustus 2025

Author

Reni Novia Alfiyanti, mahasiswi Program Studi Manajemen Pendidikan, meraih predikat sebagai lulusan dengan IPK tertinggi jenjang sarjana, didampingi kedua orang tuanya, ada Wisuda Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) periode Agustus 2025. (Istimewa)

JOGJA - Perjuangan tak kenal lelah mengantarkan Reni Novia Alfiyanti, mahasiswi Program Studi Manajemen Pendidikan, meraih predikat sebagai lulusan dengan IPK tertinggi jenjang sarjana pada Wisuda Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) periode Agustus 2025.

Gadis asal Margorejo, Tempel, Sleman ini mencatatkan prestasi gemilang dengan raihan IPK 3,97. Lahir dari keluarga sederhana, Reni merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Ayahnya, Haryanto, sehari-hari bekerja sebagai petani, sementara ibunya, Nur Khaniyati, adalah ibu rumah tangga. Dari merekalah Reni belajar arti ketulusan dan kerja keras.

Bagi saya, kuliah bukan sekadar cita-cita pribadi, tapi juga cara membalas semua pengorbanan orang tua. Bisa kuliah saja sudah anugerah besar,” ujar Reni saat ditemui usai prosesi wisuda, Senin (25/8/2025).

Namun, perjalanan Reni menuju bangku kuliah tidak mulus. Setelah lulus dari SMAN 1 Seyegan pada 2020, ia sempat gagal dalam seleksi masuk perguruan tinggi. Setahun penuh ia jalani masa gap year dengan penuh kegelisahan.

Saat itu rasanya putus asa, tapi saya terus berdoa dan tetap berusaha. Keluarga selalu jadi tempat saya kembali,” ucap Reni.

Tahun 2021 menjadi titik balik dirinya diterima di UNY dan memperoleh beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIPK) yang membantunya menuntaskan pendidikan tanpa beban biaya. Sejak awal, Reni menetapkan prinsip disiplin dan konsistensi dalam belajar. Ia menekankan bahwa pemahaman terhadap ilmu lebih penting daripada sekadar mengejar nilai.

Nilai itu penting, tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa mengaplikasikan ilmu dengan benar,” tuturnya.

Baca juga: Selama Periode Juli 2025, Kereta Daop 6 Yogya Capai Urutan Pertama Paling Banyak WNA, Naik 77 Persen

Selain aktif di bidang akademik, Reni juga aktif dalam berbagai kegiatan kampus. Dibuktikan dirinya tercatat sebagai bagian dari kepanitiaan BEM FIP, mengikuti program Kampus Mengajar, dan pernah magang di Badan Pendidikan dan Pelatihan DIY.

Ditengah kesibukannya itu, Reni rutin membantu anak-anak belajar di lingkungan tempat tinggalnya. Namun, perjalanan menuju gelar sarjana tidak tanpa rintangan. Saat menyusun skripsi, Reni mengalami gangguan kesehatan yang cukup serius. Ia sempat merasa goyah, bahkan hampir menyerah.

"Waktu itu benar-benar berat. Tapi saya ingat pesan ibu: jangan berhenti hanya karena sedang sakit, karena setiap perjuangan pasti ada hasilnya,” kenangnya lagi.

Baca juga: Isu Keterlambatan Ijazah Wisudawan UNY Periode Februari 2025, Surat Keterangan Lulus Jadi Solusi Sementara

Berbekal tekad dan dukungan dari keluarga serta dosen pembimbing, ia berhasil menyelesaikan studi tepat waktu dan dengan hasil terbaik. Kini, Reni memiliki cita-cita besar: melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dan berkarier di kementerian atau lembaga pendidikan. Ia berharap bisa terus berkontribusi di dunia pendidikan, khususnya untuk anak-anak di daerah.

Jangan pernah takut gagal. Meski gagal, kegagalan adalah guru terbaik. Selama kita mau berusaha, berdoa, dan konsisten, hasil terbaik akan datang pada waktunya," pesannya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU