Ayahanda Almarhum Arya Daru Ungkap Alasannya Baru Speak Up Kematian Putranya : "Kami Kehilangan Anak Satu-Satunya, Istri Saya Sakit Keras"
JOGJA - Setelah sekian waktu memilih diam, keluarga Arya Daru Pangayunan akhirnya angkat bicara terkait kepergian mendadak diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI tersebut. Dalam konferensi pers yang digelar di salah satu kafe di Yogyakarta, Sabtu sore (23/8/2025), ayahanda Arya Daru, Subaryono, yang merupakan pensiunan ASN dosen Fakultas Geodesi UGM, hadir didampingi dua kuasa hukumnya.
Suasana haru menyelimuti ruang konferensi ketika Subaryono menceritakan perjalanan hidup putra semata wayangnya, Arya Daru Pangayunan. Dikatakan Subaryono, Arya adalah anak yang sangat dinantikan setelah tiga kali keguguran yang dialami sang istri, Sulastri.
"Arya adalah anak tunggal kami. Namanya punya makna mendalam. Arya berarti laki-laki, Daru itu bintang kemujuran, dan Pangayunan adalah ayunan, tempat kami menimangnya dengan harapan," kenang Subaryono dengan suara bergetar.
Arya Daru lahir sehat melalui proses sesar. Ia tumbuh besar di lingkungan akademis di Seturan, Sleman, Yogyakarta dimana sebuah kompleks perumahan dosen Fakultas di Universitas Gadjah Mada (UGM). Sejak kecil, Arya hidup di antara para intelektual, termasuk ayahnya yang kala itu tengah menempuh studi pascasarjana di Kanada.
"Setelah menyelesaikan pendidikan di SMP Negeri 8 Yogyakarta dan SMA Muhammadiyah 1, Arya memilih lintasan yang tidak biasa, meskipun diterima di jurusan IPA, ia lebih tertarik ke ilmu sosial. Ia sempat mengikuti program pertukaran mahasiswa se-Asia Tenggara yang memperluas pandangannya terhadap keberagaman budaya," kenangnya lagi.
Tahun 2011, Arya Daru menikah dengan istrinya yakni Meta Ayu tak lama setelah wisuda. Demi menghidupi keluarga kecilnya yang saat itu tengah menanti kelahiran putri pertama, Arya sempat bekerja sebagai tutor bahasa Inggris dan melamar pekerjaan di Myanmar.
"Di sana dia bertemu dengan diplomat senior, dr. Sigit, yang kemudian mengangkatnya sebagai asisten," katanya.
Tahun 2014, Arya Daru resmi menjadi ASN di Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI. Sejak saat itu, kariernya terus menanjak. Ia sempat ditugaskan di Timor Leste, lalu ditempatkan di Direktorat Perlindungan WNI di pusat.
"Dia sering tidak tidur demi bantu WNI yang mengalami musibah, mulai dari ABK yang meninggal di kapal asing, sampai TKI yang trauma dan depresi, semua dia bantu dengan tulus. Bahkan saat harus ke Arab Saudi, ia menjadi ketua tim psikologi terapi untuk TKW," ungkap sang ayah.
Baca juga: Misteri Meninggalnya Diplomat Kemenlu Arya Daru, Kuasa Hukum Beberkan Fakta Lain Dari Istri Almarhum
Tiga tahun terakhir, Arya Daru mengincar promosi dan akhirnya mendapatkan penempatan diplomatik ke Finlandia, ini sebuah penugasan yang membahagiakan keluarga besar. Semua administrasi sudah disiapkan, termasuk paspor dinas untuk ayah, ibu, dan mertua, sebagaimana tradisi Kemenlu. Namun, kebahagiaan itu tiba-tiba runtuh. Arya dinyatakan meninggal dunia secara mendadak, dan keluarga terpukul.
"Begitu mendengar kabar itu, cucu kami langsung berkata "ayah PHP (tidak jadi ke Finlandia). Kalimat itu menghantam kami seperti badai. Itu yang pertama keluar dari cucunya sendiri," ucap Subaryono dengan mata berkaca-kaca.
Alasan Baru Buka Suara
Terkait mengapa keluarga baru berbicara sekarang, Subaryono menjelaskan bahwa mereka masih dalam keadaan syok berat. Istrinya, Sulastri, pada 2024 didiagnosis kanker kolon dan menjalani operasi besar. Setelah proses pemasangan alat bantu (colostomy), pemulihan baru saja selesai bulan ini. Namun kabar kematian Arya justru datang saat masa pemulihan tersebut, membuat kondisi istrinya kembali drop.
"Kami hanya berdua. Dan sekarang kami tidak hanya kehilangan Arya, tapi juga harapan dan masa depan kami yang sudah kami gantungkan padanya," ucapnya menahan tangis.
Selama berdiam diri sebelum akhirnya speak up, Subaryono merasa bahwa banyak persepsi yang keliru dan rumor yang beredar justru memperburuk situasi psikologis keluarga mereka. Pada akhirnya, mereka memilih diam karena duka mendalam dan ingin menjaga ketenangan proses hukum serta kesehatan keluarga.
"Kami bukan diam karena tidak peduli. Tapi karena berduka. Kami ingin menjaga istri saya dan cucu saya. Bahkan karena kejadian ini kami konsultasi ke psikologi. Tapi sekarang, sudah waktunya kami bersuara," jelas Subaryono.
Kendati demikian, Subaryono menegaskan bahwa Arya adalah pribadi yang mandiri, tidak manja, dan sangat bertanggung jawab. Sebagai anak tunggal, ia tidak pernah menggantungkan diri pada orang tua, bahkan sejak muda sudah berani hidup jauh demi tugas dan keluarganya.
"Meski Arya itu anak tunggal, dia tidak pernah takut gelap, berjalan sendiri, bahkan berjuang sendiri bertanggung jawab keluarganya. Arya juga tidak pernah punya masalah baik kami selaku orang tua, dan teman - temannya. Dia (Arya) selalu mengabarkan kondisinya melalui sambungan telepon bahkan video call. Jadi di keluarga, kami sangat membahagiakan, tapi malah tiba-tiba terhempas dengan cara seperti ini," pungkas Subaryono.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Konferensi Pers