Sabtu, 23 AGUSTUS 2025 • 15:45 WIB

Alasan Pakar UGM Respon Positif Indonesia Siapkan Peta Nasional Terumbu Karang dan Lamun, yang Akan diluncurkan Akhir 2025

Author

Potret didalam laut di Indonesia (Istimewa (via e-mail))

JOGJA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah merampungkan penyusunan peta nasional ekosistem terumbu karang dan padang lamun yang ditargetkan rampung dan diluncurkan pada akhir tahun 2025. Peta ini bakal menjadi pijakan penting dalam pengambilan keputusan strategis, mulai dari pengelolaan sumber daya laut, mitigasi perubahan iklim, hingga valuasi ekonomi karbon biru di Indonesia.

Pakar pemetaan padang lamun dari Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Pramaditya Wicaksono, menyambut positif inisiatif ini. Ia menilai kehadiran peta terintegrasi secara nasional sangat krusial untuk memperkuat data dalam berbagai kebijakan kelautan, termasuk perhitungan serapan karbon dalam Nationally Determined Contribution (NDC), ocean accounting, hingga perizinan pembangunan di wilayah laut.

Saat ini, data lamun nasional kita masih sangat terbatas. Luasan yang tervalidasi baru sekitar 290 ribu hektare, padahal potensinya jauh lebih besar,” ujar Pramaditya saat ditemui di Kampus UGM, Sabtu (23/8/2025).

Menurutnya, tantangan terbesar dalam pemetaan ini adalah luasnya wilayah Indonesia yang mustahil dijangkau hanya dengan survei lapangan. Oleh karena itu, pendekatan teknologi seperti penginderaan jauh, citra satelit, dan remote sensing menjadi sangat penting.

Baca juga: Pernyataan Tegas Rektor UGM Prof Ova Soal Kisruh Ijazah Jokowi : "Beliau Memang Alumni"

Tak kalah penting, integrasi dengan data lapangan melalui pendekatan citizen science juga diperlukan untuk meningkatkan akurasi.

Kalau hanya mengandalkan survei langsung, kita akan tertinggal jauh. Kita perlu menggabungkan teknologi dan partisipasi masyarakat,” jelasnya.

Selain tantangan teknis, menurut Pramaditya juga menyoroti persoalan koordinasi antar lembaga yang selama ini belum optimal. Banyak data ekosistem laut tersebar di berbagai instansi, namun belum terintegrasi dan dimanfaatkan secara maksimal.

Melalui proyek ini, seluruh pemangku kepentingan mulai dari universitas, kementerian, pemerintah daerah, hingga NGO dikumpulkan untuk membangun komunikasi, menyelaraskan peran, dan menetapkan standar data nasional,” jelasnya.

Baca juga: Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak benda, Begini Penjelasan Ahli Gizi UGM Apakah Ampo Dapat dikonsumsi Atau Tidak

Lanjut Pramaditya menyebut, peluncuran peta ini akan menjadi tonggak penting dalam sejarah pengelolaan laut Indonesia. Bahkan, menurutnya, sejumlah negara besar pun belum memiliki peta ekosistem lamun dan terumbu karang yang terintegrasi secara nasional.

Ini akan menjadi prestasi besar, bukan hanya bagi Indonesia, tapi juga sebagai kontribusi global dalam menjaga ekosistem karbon biru,” ujarnya.

"Semoga target peluncuran di akhir 2025 bisa tercapai, dan peta nasional ini dapat memperkuat posisi Indonesia dalam aksi mitigasi perubahan iklim serta mendukung pembangunan kelautan yang berkelanjutan," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Keterangan Pers

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU