2,2 Miliar Penduduk Dunia Hadapi Krisis Air, Indonesia Terancam Gagal Capai Target 2045, Begini Kata Retno Marsudi dan Rektor UGM Ova
JOGJA - Dunia tengah menghadapi krisis air global yang kian mengkhawatirkan akibat berbagai tekanan seperti pertumbuhan penduduk, perubahan penggunaan lahan, hingga dampak nyata dari perubahan iklim. Hal ini disampaikan Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Kemitraan Air dan Sanitasi, Retno Lestari Priansari Marsudi, dalam Focus Group Discussion (FGD) dan seminar bertema Water Security di Universitas Gadjah Mada (UGM), belum lama ini.
Retno mengungkapkan bahwa saat ini lebih dari 2,2 miliar orang di dunia, atau sekitar satu dari empat penduduk, tidak memiliki akses terhadap air bersih yang aman. Bahkan, lebih dari 3,5 miliar orang belum memiliki sanitasi yang layak.
"Ini bukan sekadar angka. Ini menyangkut kehidupan manusia. Air adalah kebutuhan dasar, tapi jutaan orang masih kesulitan mendapatkannya,” ujar Retno dalam acara yang digelar di Ruang Multimedia, Gedung Pusat UGM, belum lama ini.
Baca juga: Retno Marsudi Pada Penutupan Pionir UGM : Indonesia Sedang Tidak Baik-Baik Saja
Menurut data PBB yang ia kutip, bencana terkait air seperti banjir, kekeringan, dan pencemaran menyebabkan kerugian ekonomi global sebesar 550 miliar dolar AS setiap tahunnya. Lebih dari 95 persen kerusakan infrastruktur dunia juga disebabkan oleh bencana-bencana tersebut.
"Kita menghadapi tiga tantangan besar terkait air yakni terlalu banyak (banjir), terlalu sedikit (kekeringan), dan terlalu tercemar (pencemaran),” jelasnya.
Di tingkat nasional, lanjut mantan Menteri Luar Negeri RI itu, tantangan serupa juga membayangi. Kebutuhan air di Indonesia diperkirakan meningkat hingga 31 persen pada tahun 2045. Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini bisa menghambat upaya mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
“Kalau tidak diantisipasi, krisis air ini bisa mengganggu target besar bangsa kita. Ini bukan isu teknis semata, tapi menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat,” tegasnya.
Sebagai solusi, Retno mendorong pemanfaatan teknologi serta efisiensi penggunaan air dalam kehidupan sehari-hari, pertanian, dan industri. Ia juga menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia (SDM) di sektor air, mengingat sebagian besar tenaga ahli air dunia kini mendekati usia pensiun.
“Kita perlu lebih banyak ahli di bidang ini. Universitas seperti UGM memiliki peran strategis untuk melahirkan inovasi dan SDM baru yang kompeten,” tandas Retno.
Baca juga: Cerita Perjuangan Ulin, Mahasiswa UGM Gagal Tiga Kali Tak Halangi Raih Beasiswa Prestisius ke Jepang
Sementara itu, Rektor UGM Prof. Ova Emilia menyatakan bahwa air adalah unsur utama dalam kehidupan manusia dan bangsa Indonesia tidak luput dari berbagai persoalan yang berkaitan dengannya, mulai dari banjir, longsor, hingga kekeringan yang berdampak pada pertanian dan kesejahteraan masyarakat.
"Sebagai seorang dokter, saya paham betul bahwa sekitar 80 persen tubuh manusia terdiri dari air. Jadi, air harus menjadi perhatian utama. Melalui forum ini, UGM berkomitmen memperkuat jejaring akademik serta berkontribusi jangka panjang dalam isu ketahanan air baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Keterangan Pers
