Cerita Perjuangan Ulin, Mahasiswa UGM Gagal Tiga Kali Tak Halangi Raih Beasiswa Prestisius ke Jepang
JOGJA - Perjuangan panjang Ulin Nuha Syahnarendra, mahasiswa Program Studi Bahasa Jepang untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional, Sekolah Vokasi (SV) Universitas Gadjah Mada (UGM), akhirnya membuahkan hasil manis. Setelah sempat gagal tiga kali dalam percobaan sebelumnya, Ulin berhasil terpilih sebagai penerima beasiswa Japanese Studies Non-Degree dari Kementerian Pendidikan, Budaya, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Jepang (Monbukagakusho/MEXT). Beasiswa prestisius tersebut akan membawanya menempuh studi di Kyoto University of Education, Jepang, selama satu tahun, mulai Oktober 2025 hingga September 2026.
Tak mudah bagi Ulin untuk mencapai titik ini. Mahasiswa asal Kalasan, Sleman itu mengaku harus menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal pembiayaan pendidikan. Apalagi, kedua saudaranya juga sedang menempuh kuliah.
“Rasa senang, haru, lega bercampur jadi satu. Dikarenakan saya sudah gagal tiga kali sebelumnya. Akhirnya perjuangan saya yang tidak pantang menyerah terbalaskan, suatu perasaan yang sulit untuk dijelaskan,” ujarnya, pada Minggu (17/8/2025).
Baca juga: MM FEB UGM Raih Akreditasi Internasional AACSB dan Predikat Unggul LAMEMBA
Ulin mengaku sudah mengenal beasiswa MEXT sejak duduk di bangku SMA, berkat informasi dari keluarganya. Sejak tahun 2022, ia sudah mencoba mendaftar untuk program S1 penuh di Jepang melalui jalur yang sama, namun belum berhasil.
“Persiapan matang adalah kuncinya. Karena saya sudah pernah mengikuti semua jenis ujiannya di tahun-tahun sebelumnya, saya jadi tahu apa saja yang harus diperbaiki. Saya bersiap lebih awal daripada peserta lain, belajar lebih banyak,” ungkapnya.
Ulin lolos melalui jalur seleksi nasional yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Jepang di Indonesia. Ia menjadi satu-satunya mahasiswa dari Prodi Bahasa Jepang SV UGM yang berhasil melewati tahap tersebut. Baginya, keberhasilan ini bukan hanya capaian pribadi, tapi juga semacam amanah untuk memberi inspirasi kepada mahasiswa lain agar tak takut bermimpi besar.
“Saya berharap apa yang saya raih bisa menjadi penggerak dan menginspirasi mahasiswa UGM lainnya untuk semangat dan tidak takut untuk berkuliah di luar negeri. Semoga alumni-alumni UGM bisa menjadi penggerak utama Indonesia Emas 2045,” katanya.
Lebih lanjut, Ulin menjelaskan alasannya memilih Prodi Bahasa Jepang SV UGM berkaitan erat dengan pandangannya terhadap masa depan dunia kerja.
"Indonesia sebentar lagi akan memasuki masa emasnya di 2045, ditandai dengan melimpahnya tenaga kerja. Perlu skills khusus untuk tetap eksis di masa yang ketat persaingan kerja tersebut. Salah satunya dengan menargetkan kerja langsung ke Jepang,” ujarnya.
Ia pun memberi pesan kepada para calon pendaftar beasiswa MEXT agar tidak menyerah jika belum berhasil dalam satu atau dua percobaan.
"Beasiswa ini bukanlah beasiswa yang mudah karena penyelenggaranya langsung dari kementerian di Jepang. Perlu pengorbanan waktu, tenaga, bahkan modal untuk sampai garis finish. Seandainya gagal, masih ada tahun selanjutnya. Jangan mudah menyerah, suatu saat pasti perjuangan kalian akan terbalaskan,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Keterangan Pers