Minggu, 17 AGUSTUS 2025 • 09:10 WIB

Retno Marsudi Pada Penutupan Pionir UGM : Indonesia Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Author

Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Isu Air sekaligus mantan Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, hadir sebagai orator dalam acara PIONIR Universitas Gadjah Mada (UGM), Sabtu (16/8/2025). (Istimewa)

JOGJA - Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Isu Air sekaligus mantan Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, hadir sebagai orator dalam acara PIONIR Universitas Gadjah Mada (UGM) yang digelar pada Sabtu (16/8/2025). Di hadapan ribuan mahasiswa baru yang dikenal dengan sebutan Gadjah Mada Muda (Gamada), Retno menyampaikan pesan mendalam soal kemanusiaan, lingkungan, dan pentingnya berkontribusi bagi bangsa.

Retno membuka kisahnya dengan kenangan masa kecil yang sederhana. Ia mengenang betapa bangganya saat diterima menjadi mahasiswa UGM, yang ia sebut sebagai titik awal dalam perjalanan hidupnya untuk berbuat bagi kemanusiaan.

Menggapai mimpi itu penting, tapi bukan satu-satunya tujuan. Membantu sesama adalah tujuan sejati. Kamu harus selalu menempatkan kemanusiaan di atas prinsipmu,” kata Retno di hadapan para Gamada.

Ia menyoroti kondisi dunia saat ini yang menurutnya tengah dilanda krisis kemanusiaan. Di berbagai penjuru dunia, katanya, nyawa manusia dipertaruhkan demi kepentingan kekuasaan. Ia juga mengangkat persoalan ketimpangan hak, terutama terhadap perempuan dan kelompok rentan.

Kesetaraan dan keadilan belum hadir secara merata. Ini tantangan bagi kalian, para pembelajar, yang punya kesempatan istimewa untuk menjadi agen perubahan,” ujarnya.

Tak hanya soal kemanusiaan, Retno juga menyoroti persoalan lingkungan yang tak kalah genting. Ia menyebut pemanasan global dan perubahan iklim telah membawa dampak serius mulai dari gagal panen, bencana alam, hingga krisis pangan dan air bersih.

Sebanyak satu dari empat orang di dunia belum bisa mengakses air minum yang aman. Ini bukan angka kecil. Sekitar 300 juta orang telah terdampak oleh kelangkaan air dan pangan,” ungkapnya.

Retno menambahkan bahwa dunia juga tengah menghadapi tantangan baru dari pesatnya perkembangan teknologi. Kecerdasan buatan dan otomatisasi memang menjanjikan pertumbuhan ekonomi global yang signifikan, namun di sisi lain mengancam banyak jenis pekerjaan.

Diperkirakan ada sekitar 400 hingga 800 juta pekerjaan yang bisa hilang pada tahun 2030 akibat otomatisasi. Kita harus bersiap, adaptif, dan mengasah keterampilan baru,” katanya. 

Meski begitu, Retno meyakinkan para mahasiswa baru bahwa di tengah tantangan, selalu ada peluang. Ia mengajak generasi muda untuk menjawab situasi ini dengan empati, solidaritas, dan kolaborasi.

"Solidaritas akan melahirkan masyarakat yang kokoh. Dan masyarakat yang kokoh adalah pondasi dari negara yang kuat,” tegasnya.

Mengakhiri pidatonya, Retno memberikan semangat kepada para mahasiswa agar tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan zaman.

Kondisi seperti ini justru membuat kita harus menjadi semakin kuat. Kita harus tahan banting dan menjadi pemenang,” tutup Retno.

Acara PIONIR UGM merupakan bagian dari rangkaian penyambutan mahasiswa baru UGM Tahun Akademik 2025/2026, yang mengusung semangat kolaborasi dan kontribusi nyata untuk Indonesia. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU