Pemkab Gelar Evaluasi Hari Ini Buntut Dugaan Keracunan Massal Rawon MBG di Tiga SMP Mlati Sleman, Lanjut Atau Tidak?
JOGJA - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman segera melakukan evaluasi menyeluruh terkait dugaan keracunan makanan yang menimpa sejumlah siswa dari tiga SMP di wilayah Kapanewon Mlati, Sleman. Insiden ini diduga berasal dari lauk rawon dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan oleh penyedia dari SPPG (Sub Penanggung Jawab Program Gizi).
Hal ini disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Sleman, Susmiarto saat ditemui usai hadiri giat bazar di Lapangan Pemda Sleman. Ia mengatakan, pihaknya akan menggelar rapat evaluasi internal pada hari ini untuk mendalami kasus tersebut.
“Hari ini nanti mau saya rapatkan. Saya nanti siang evaluasi. Saya ingin kejadian itu sebenarnya di samping di situ itu ada enggak kejadian yang kemarin sudah terjadi. Terus selama ini penanganannya bagaimana. Terus ke depannya biar tidak terulang,” ujarnya, Kamis (14/8/2025).
Terkait operasional SPPG (penyedia makan MBG), ia menyebut akan mengevaluasi keterlibatan pihak-pihak terkait, termasuk BGN selaku penanggung jawab operasional MBG di lapangan.
“Justru itu, nanti saya harus komunikasi dengan BGN. Saya tadi koordinasi dengan BGN juga, memang perlu kita evaluasi. Maka dari itu nanti kalau saya sudah punya informasi-informasi, SPPG saya undang,” katanya.
Saat ditanya apakah layanan MBG masih tetap berjalan, Sekda menyebut program masih berlangsung di lokasi lain yang tidak terdampak. Namun, untuk lokasi terdampak, ia belum mendapat laporan lengkap.
“Yang lokasi MBG yang tidak bermasalah tetap berjalan. Tapi kalau yang lokasi itu (yang terdampak keracunan) saya belum tahu. Ini baru mau rembug dengan dinas. Sekali kalau itu saya enggak tahu, karena kan itu kan yang operasional BGN yaitu SPPG. Maka dari itu nanti kalau saya sudah punya informasi-informasi nanti SPPG saya undang," jelasnya.
Sementara itu, untuk siswa yang sempat dirawat di RSUD Sleman, kata Susmiarto, sebagian masih dalam perawatan. Awalnya, terdapat laporan tujuh siswa dirawat, namun jumlahnya sempat berkembang menjadi 15 orang.
“Tadi malam itu masih ada beberapa yang dirawat. Perkembangannya nanti kami update setelah ada laporan dari Dinas Kesehatan,” katanya.
Susmiarto menambahkan Pemkab Sleman membantu para korban untuk pembiayaan pengobatan, terutama melalui BPJS. Jika ada siswa yang belum terdaftar BPJS, Pemkab akan mencarikan solusi lain.
“Kalau dia ada BPJS ya pakai BPJS. Kalau tidak, nanti kita pakai GPS (Gerakan Peduli Sosial). Tapi ke depan saya minta dapur tanggung jawab, karena ini kan pengawasan BGN,” imbuhnya.
Kendati demikian, pada evaluasi hari ini, Pemkab akan fokus pada koordinasi internal dengan dinas-dinas terkait, termasuk Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian, serta aparat wilayah dan TNI.
“Kita koordinasi tingkat Kabupaten dulu. Masalah laporan dari dinas, kemudian teman-teman yang lain, misalnya nanti panewu. Termasuk tadi saya tanya Pak Dandim,” katanya.
Lanjut Susmiarto menegaskan, insiden ini merupakan kejadian pertama yang tercatat dalam program MBG, dan pihaknya berkomitmen mencegah kasus serupa terulang.
"Belum, belum pernah ada sebelumnya. Justru ini peran kami. Misalnya Dinas Kesehatan ngawasi soal higienitas dapur, memastikan tempat pengolahan makanan minuman bersih dan sesuai SOP. Produk hewani nanti pengawasan dari Dinas Pertanian,” pumgkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung