JOGJA - Suasana haru dan penuh khidmat menyelimuti Kompleks Kepatihan Yogyakarta pada Senin (25/5/2026) sore. Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, menyambut langsung kedatangan 57 biksu dari empat negara Asia Tenggara yang tengah melakukan aksi Indonesia Walk for Peace 2026 menuju puncak perayaan Waisak di Candi Borobudur.
Perjalanan spiritual yang dimulai dari Bali sejak 9 Mei 2026 ini menyimpan banyak cerita perjuangan yang menyentuh hati. Para biksu dilaporkan menempuh jarak puluhan kilometer setiap harinya dengan kondisi fisik yang diuji melintasi berbagai provinsi.
Tetap Berjalan Meski Kaki Dijahit
Ketua Panitia Indonesia Walk for Peace 2026, Dr. Tosin, mengungkapkan betapa besarnya dedikasi para biksu dalam misi perdamaian ini. Total ada 57 biksu yang terlibat, terdiri dari 43 biksu asal Thailand, 4 dari Malaysia, 3 dari Laos, dan 7 biksu dari Indonesia.
"Tiap hari mereka berjalan 30 sampai 40 kilometer. Bisa delapan sampai sepuluh jam untuk sampai tujuan. Walaupun panas, hujan, bahkan kaki lecet sampai harus dijahit tiga sampai lima jahitan, mereka tetap melanjutkan perjalanan,” ungkap Dr. Tosin.
Menariknya, meski panitia telah menyiapkan fasilitas terbaik, para biksu tersebut memilih untuk hidup dalam kesederhanaan ekstrem selama di perjalanan dan menolak akomodasi komersial.
"Mereka sangat sederhana. Kami panitia ingin memberi fasilitas terbaik, tapi mereka memilih tidur di tempat sederhana (seperti lapangan terbuka, gedung pertemuan, maupun vihara). Sangat mudah dilayani dan penuh ketulusan," tutur Dr. Tosin.
Pihaknya tak lupa menyampaikan apresiasi terdalamnya atas sambutan hangat dari pihak kraton dan Pemerintah Daerah (Pemda) DIY.
"Pertama-tama kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Sri Sultan yang telah berkenan menerima rombongan biksu untuk bergabung di Yogyakarta, kota yang penuh kedamaian dan kebahagiaan," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Indonesia Walk for Peace DIY, Tandean Harry Setio, menegaskan bahwa rute yang dilewati para biksu sengaja dirancang untuk menyebarkan pesan perdamaian dan kebhinekaan. Selama perjalanan, para biksu singgah di berbagai vihara, tempat ibadah lintas agama, hingga fasilitas publik untuk berinteraksi dengan warga lokal.
"Indonesia Walk for Peace adalah perjalanan spiritual sekaligus aksi damai untuk menyampaikan pesan toleransi, memperkuat persaudaraan antarumat beragama, dan menunjukkan semangat kebhinekaan Indonesia," terang Tandean.
Ia juga menambahkan bahwa singgahnya rombongan ini mempertegas status Yogyakarta di mata dunia.
"Yogyakarta mendapat kesempatan istimewa menjadi bagian dari perjalanan damai ini. Ini sekaligus menunjukkan DIY sebagai City of Tolerance," tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung