JOGJA - Produksi susu nasional Indonesia saat ini baru mampu memenuhi sekitar 22 - 23 persen dari total kebutuhan konsumsi nasional. Kondisi ini menjadi sorotan di tengah meningkatnya kebutuhan susu, terutama seiring rencana penguatan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproyeksikan akan mendorong kenaikan permintaan dalam beberapa tahun mendatang.
Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. drh. Aris Haryanto, M.Si. Aris Haryanto, menyebut susu memiliki peran strategis baik sebagai sumber nutrisi maupun penggerak ekonomi peternak rakyat.
"Susu adalah komponen pangan strategis dan berperan penting, baik sebagai sumber nutrisi untuk peningkatan kualitas kesehatan masyarakat maupun sebagai penggerak ekonomi rakyat. Oleh karena itu, penguatan sektor peternakan sapi perah rakyat menjadi sebuah kebutuhan yang sangat mendesak,” kata Aris dalam Lokakarya bertajuk “Sinergi Pemerintah dan Stakeholder dalam Mendukung Produktivitas Susu Lokal” di Auditorium FKH UGM, Senin (18/5/2026).
Aris mengungkapkan bahwa produksi susu nasional yang hanya mencapai 22 - 23 persen dari kebutuhan merupakan tantangan serius, terutama ketika kebutuhan diperkirakan terus meningkat.
"Sinergi lintas sektor menjadi langkah strategis dalam meningkatkan produktivitas susu lokal sekaligus memperkuat kesejahteraan peternak sapi perah, terutama untuk rakyat," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penguatan sektor peternakan sapi perah rakyat perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari peningkatan populasi ternak, produktivitas, kualitas susu, akses pembiayaan, penguatan koperasi, hingga penerapan Good Dairy Farming Practices (GDFP).
Lokakarya ini juga menjadi bagian dari evaluasi dan penguatan tindak lanjut Program FRESH (Farmer Resilience and Enhanced Sustainable Husbandry) yang bertujuan meningkatkan produksi dan kualitas susu, meningkatkan pendapatan petani, serta mengurangi emisi gas metana. Program ini telah berjalan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Sejumlah capaian Program FRESH di antaranya pemulihan pasca wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), peningkatan kapasitas peternak dan koperasi, dukungan pembiayaan ternak, pengembangan fasilitas susu pasteurisasi, inovasi teknologi reproduksi dan pakan, serta pengembangan energi biogas.
Menurutnya, program tersebut dijalankan melalui kolaborasi antara PT Sarihusada Generasi Mahardika, Danone Indonesia, PRISMA, dan Yayasan Rumah Energi.
"Capaian pada program FRESH menjadi sebuah bukti bahwa kolaborasi lintas sektor mampu memberikan dampak positif bagi peternak dan masyarakat luas," tegas Aris.
Dari pihak pemerintah, PLH Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI, drh. Boethdy Angkasa, M.Si. Boethdy Angkasa, menekankan bahwa peningkatan produktivitas susu nasional membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Menurutnya, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam meningkatkan produksi susu nasional.
"Peningkatan produktivitas susu nasional tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri. Pemerintah tentunya memerlukan sinergi industri, akademisi, koperasi, dan peternak," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail