JOGJA - Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat kerja sama riset internasional dengan membentuk kelompok riset bertema Tropical-Polar Interconnection Research Group. Inisiatif ini lahir sebagai respons atas meningkatnya anomali iklim global serta dampaknya terhadap bencana hidrometeorologi yang kian sering terjadi, khususnya di wilayah tropis seperti Indonesia.
Dosen Teknik Geologi UGM, Ir. Nugroho Imam Setiawan, S.T., M.T., D.Sc., yang juga menjadi salah satu penggagas, menekankan pentingnya memahami keterkaitan antara dinamika wilayah kutub dan kondisi iklim di kawasan tropis. Menurutnya, posisi Indonesia yang berada di garis khatulistiwa menjadikan negara ini sangat rentan terhadap perubahan iklim.
"Beberapa masalah kebencanaan hidrometeorologi yang nyata dirasakan memiliki kaitan erat secara langsung dan tidak langsung dengan perubahan di daerah kutub," ujarnya belum lama ini.
Imam menjelaskan, BRIN telah menyepakati kolaborasi dengan peneliti UGM serta melibatkan mitra internasional dari berbagai negara, termasuk Ukraina, Denmark, Norwegia, dan Argentina. Selain itu, kerja sama juga mencakup organisasi riset kutub selatan yang berfokus pada kajian Antarktika.
Ia menyebut, UGM memiliki sejumlah peneliti dengan pengalaman riset di wilayah kutub, meskipun bidang ini masih tergolong langka di Indonesia. Karena itu, dibutuhkan wadah konsorsium yang secara khusus mengkaji keterkaitan wilayah tropis dan kutub.
"UGM memiliki beberapa peneliti yang telah memiliki pengalaman terkait riset kutub, dimana ini masih sangat langka. Kita sebagai negara tropis perlu memiliki sebuah wadah atau konsorsium yang berfokus pada hubungan wilayah tropis dan kutub," kata Imam yang juga menjabat Kepala Program Studi Teknik Geologi UGM.
Salah satu mitra yang telah resmi bergabung adalah National Antarctic Scientific Center (NASC) Ukraina. Lembaga tersebut bahkan menawarkan dukungan peneliti serta operasional, termasuk rencana pelayaran riset menuju Chile yang dijadwalkan berlangsung pada Desember 2026.
Selain itu, delegasi UGM, BRIN, dan NASC Ukraina juga telah melakukan kunjungan ke Kawasan Konservasi Ilmiah Geodiversitas Karangsambung yang dikelola BRIN. Kegiatan tersebut mencakup observasi fasilitas penyimpanan sampel batuan, sedimen, laboratorium, serta Geosite Watu Kelir.
"Kunjungan ini menjadi momentum transfer pengetahuan, pengenalan karakteristik wilayah Indonesia, sekaligus membuka peluang kolaborasi riset yang lebih lanjut antar institusi," tutur Imam.
Ia menambahkan, inisiatif pembentukan kelompok riset ini diharapkan dapat berkembang menjadi badan khusus yang memperkuat riset dinamika wilayah Antarktika melalui skema hibah, pemanfaatan fasilitas laboratorium bersama, serta kolaborasi peneliti lintas negara.
"Pada kondisi saat ini penting sekali untuk menggas kolaborasi. Tanpa kolaborasi, aktivitas di tempat yang jauh dan belum umum akan sulit diupayakan," tegasnya.
Kendati demikian, Imam menekankan bahwa krisis iklim telah memengaruhi berbagai sektor kehidupan, sehingga riset lintas disiplin menjadi penting, mulai dari pertanian, perikanan, geografi, biologi, hingga ilmu sosial dan humaniora.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail