Potret Alfath Qornain Isnan Yuliad (Istimewa)
JOGJA - Debu proyek dan aroma semen bukan hal asing bagi Alfath Qornain Isnan Yuliadi. Tangan yang dulunya terbiasa merakit besi tulangan dan menggali fondasi, kini justru sibuk menggenggam belasan penghargaan bergengsi. Mahasiswa prodi D4 Teknologi Rekayasa Pelaksanaan Bangunan Sipil Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini membuktikan bahwa latar belakang ekonomi bukan penghalang untuk bersinar di kampus kerakyatan.
Perjalanan Alfath menuju kursi kuliah tidaklah mulus. Sebagai lulusan SMK asal Klaten, ia sempat menghadapi keraguan dari orang tuanya sendiri. Alasan ekonomi menjadi faktor utama mengapa ia awalnya diarahkan untuk langsung bekerja setelah lulus sekolah.
"Awalnya memang tarik ulur. Karena dari awal saya dimasukkan ke SMK supaya setelah lulus bisa langsung bantu kerja," ujar Alfath, Selasa (14/4/2026).
Namun, pemuda angkatan 2022 ini memiliki visi yang lebih besar. Sebagai anak kedua dari enam bersaudara, ia merasa pendidikan tinggi adalah kunci untuk mengangkat derajat keluarga.
"Saya bilang ke ayah, kalau saya mentok di SMK saja, kemungkinan berkembangnya lebih sulit. Saya ingin berkembang lebih jauh, saya ingin kuliah," ucapnya.
Biayai UTBK dari Upah Bangunan
Demi mewujudkan mimpinya, Alfath tak ingin membebani orang tua. Sejak kelas dua SMK, ia sudah terjun langsung ke proyek bangunan bersama ayahnya. Dengan upah sekitar Rp 50 ribu per hari, ia menyisihkan sedikit demi sedikit uang untuk biaya pendaftaran UTBK.
"Saya nggak enak minta ke bapak. Jadi saya kerja, sebagian ditabung buat UTBK, sebagian buat kebutuhan sekolah," katanya.
Perjuangannya pun sangat berat. Ia harus membagi waktu antara bekerja penuh waktu dari pagi hingga sore dan belajar di malam hari. Bahkan, ia sempat mengalami kecelakaan kerja fatal saat jatuh dari lantai dua proyek bangunan. Beruntung, insiden itu tak mematahkan semangatnya.
"Saya sempat overthinking, takut nggak bisa lanjut. Tapi alhamdulillah diberi kesempatan sampai di titik ini," tuturnya.
Beruntung kerja keras itu terbayar lunas saat pengumuman seleksi tiba. Alfath menjadi satu-satunya siswa dari sekolahnya yang berhasil menembus ketatnya persaingan masuk UGM. Ia juga mencatatkan sejarah sebagai orang pertama di keluarganya yang mencicipi bangku perkuliahan.
"Kalau di angkatan saya, jujur cuma saya. Satu-satunya dari SMK saya yang lolos," ungkap Alfath.
Momen haru terjadi saat ia menyampaikan kabar gembira tersebut kepada kakeknya.
"Saya ingat banget, saya lari nyamperin kakek saya, langsung saya peluk dan bilang, 'Saya jadi kuliah'," ucapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail