Hari pertama pembukaan Kampung Ramadhan Jogokariyan, pada Rabu (18/2/2026). (Olivia Rianjani)
JOGJA - Kampung Ramadhan di Masjid Jogokariyan, Kemantren Mantrijeron, Kota Yogyakarta, tahun ini 1447 H terasa berbeda karena untuk pertama kalinya, kegiatan tahunan tersebut digelar tanpa sosok penggagasnya, almarhum Muhammad Jazir ASP. Beliau merupakan Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan sekaligus pelopor manajemen masjid modern berbasis "saldo nol rupiah" dan pemberdayaan umat.
Ketua Panitia Kampung Ramadan Masjid Jogokariyan, Muhammad Falah Akbar, mengakui ada rasa kehilangan yang mendalam atas wafatnya Ustadz Jazir.
"Tahun ini adalah Ramadan pertama tanpa beliau. Tentu saja ada sesuatu yang kurang dari kami, ada sesuatu yang hilang tanpa kehadiran beliau. Tapi insya Allah Kampung Ramadan Jogokariyan akan tetap berjalan karena beliau sudah mempersiapkan sistem penyelenggaraan dan manajemennya dengan sangat baik," ujar Falah kepada wartawan dilokasi, Rabu (18/2/2026).
Menurutnya, kepergian Ustadz Jazir menjadi duka sekaligus motivasi bagi panitia untuk melanjutkan tradisi kebaikan yang telah dirintis.
"Kami sangat kehilangan atas kepergian beliau. Semoga ini menjadi amal jariah bagi beliau dan meringankan beliau di akhirat kelak," katanya.
Falah mengenang sosok Ustadz Jazir sebagai figur yang dekat dengan jamaah, termasuk generasi muda. Ia menceritakan kebiasaan almarhum yang kerap menyapa warga usai salat Subuh.
"Biasanya setelah Subuh beliau sudah standby di angkringan. Beliau bersedia sharing dengan warga atau tamu yang datang. Saya sering dipanggil, 'Falah sini', lalu diberi wejangan-wejangan. Beliau bisa menyesuaikan bahasa dengan siapa pun, bahkan dengan anak-anak," tutur Falah.
Siapkan 3.800 Porsi per Hari
Ketua Panitia Kampung Ramadan Masjid Jogokariyan, Muhammad Falah Akbar. (Olivia Rianjani)
Pada Ramadan tahun ini, panitia menyiapkan 3.800 porsi takjil setiap hari untuk berbuka puasa. Jumlah tersebut meningkat dari tahun lalu yang sebanyak 3.500 porsi per hari.
"Alhamdulillah tahun ini ada peningkatan. Dari 3.500 porsi menjadi 3.800 porsi per hari," kata Falah.
Seperti biasanya, kata dia, panitia terbuka donasi bagi masyarakat yang ingin berkontribusi. Donasi dapat diberikan mulai dari satu porsi senilai Rp 15.000.
"Kami membuka donasi. Jamaah bisa memasukkan ke kotak infak takjil khusus di Masjid Jogokariyan, melalui QRIS yang disediakan, atau menghubungi kami lewat Instagram Masjid Jogokariyan," jelasnya.
Menurutnya, menu takjil berbeda setiap hari dan melibatkan 28 kelompok ibu-ibu PKK, dengan masing-masing kelompok beranggotakan sekitar 30 - 40 orang.
"Total mungkin ada 20-an menu. Untuk hari ini misalnya gulai ayam. Karena yang memasak 28 kelompok, jadi menunya berganti-ganti dan tidak berurutan," ungkapnya.
Proses memasak dilakukan di rumah masing-masing anggota PKK, sementara penanakkan nasi dan proses plating dilakukan di masjid sejak siang hari.
Secara keseluruhan, ia menyebut bahwa kegiatan ini melibatkan sekitar 500 - 600 orang relawan. Sekitar 50 orang di antaranya bertugas khusus mencuci piring karena panitia menggunakan piring makan, bukan kemasan sekali pakai.
"Tujuannya supaya makanan tidak dibawa pulang dan jamaah bisa ikut salat Magrib berjamaah di masjid. Kami sampai menyediakan empat kloter salat Magrib. Selain itu, penggunaan piring juga untuk mengurangi sampah," jelas Falah.
Jika takjil tidak habis, kata dia, makanan akan dibagikan kepada warga sekitar atau dihangatkan kembali untuk jamaah setelah salat Tarawih.
"Insya Allah setiap hari habis. Kalau hujan dan agak sepi, biasanya kita bagikan ke warga sekitar atau dihidangkan lagi setelah Tarawih," ucapnya.
Angkat Tema "Berkah Berjamaah"
Potret 3.800 porsi di Kampung Ramadhan Masjid Jogokariyan. (Olivia Rianjani)
Memasuki usia ke-60 tahun, Masjid Jogokariyan mengusung tema "Berkah Berjamaah" pada Ramadan kali ini.
"Kami menyadari Masjid Jogokariyan bisa seperti sekarang karena keberkahan dari berjamaah, dari persatuan dan ukhuwah, bukan hasil kerja individu," ucap Falah.
Lebih lanjut, Falah menyampaikan bahwa panitia menyiapkan beragam agenda untuk semua kalangan. Kegiatan sore difokuskan untuk anak-anak, seperti dongeng dan nonton film. Sementara malam hari diisi kajian remaja dan umum, serta kajian khusus ibu-ibu dan bapak-bapak pada Sabtu dan Ahad pagi.
Disamping itu, beberapa tokoh nasional bahkan dijadwalkan hadir diantaranya Mahfud MD dan Zainal Arifin Mochtar, serta grup musik Letto juga akan meramaikan rangkaian kegiatan Ramadan tahun ini.
"Insya Allah ada Prof. Mahfud MD, Prof. Zainal Arifin Mokhtar, kemudian Letto dan musisi lainnya. Kami juga berkolaborasi dengan Yogyakarta Hydro Clan seperti tahun-tahun sebelumnya, serta mengundang komika-komika," pungkas Falah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Dan Wawancara Langsung