JOGJA - Tren kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok mulai terjadi menjelang bulan suci Ramadan. Kondisi ini dinilai berpotensi menekan daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah, jika tidak segera diantisipasi secara cepat dan terkoordinasi.
Ketua Komisi B DPRD DIY, Andriana Wulandari, mengatakann bahwa kenaikan harga tersebut sudah terlihat nyata di lapangan, baik di pasar tradisional maupun warung sekitar permukiman warga.
"Setelah beberapa hari, kebetulan saya juga ibu rumah tangga, sehingga setiap hari ini saya harus belanja di warung dan juga di pasar. Ternyata akhir-akhir ini sudah mulai terlihat real di lapangan," ujarnya kepada wartawan dikantornya, Rabu (11/2/2026).
Ia mengungkapkan beberapa komoditas strategis mengalami kenaikan signifikan. Harga telur kini mencapai Rp 30 ribu per kilogram, cabai rawit Rp 90 ribu per kilogram di pasar, bahkan bisa mencapai Rp 100 ribu per kilogram di tingkat warung. Sementara itu, harga ayam berada di kisaran Rp 38 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram. Sayuran hijau juga mengalami kenaikan rata-rata sekitar Rp 500.
"Jadi harga yang kami sampaikan tadi itu real di lapangan bahwa banyak harga-harga bahkan kalau di warung-warung tetangga itu sudah mulai pada naik. Apalagi hari ini yang signifikan betul yaitu daging ayam, telur, sayur-sayuran itu memang naik," bebernya.
Lanjut Andriana mengaku rutin memantau harga secara langsung dengan berbelanja sendiri, termasuk ke Pasar Bantul untuk melihat kondisi riil di lapangan.
"Kemarin saya ke Pasar Bantul, saya beli cabai rawit satu kilo Rp 90 ribu. Tapi kalau di warung sudah per ons Rp 10 ribu. Berarti per kilonya sudah Rp100 ribu kalau di warung," katanya.
Saat itu, ia menyoroti kenaikan harga ayam dari tingkat pemotong dimana rata - rata harga satu potong ayam capai 40 kilo.
"Dari tukang potong ayam itu sudah Rp 40 ribu per kilo. Nah bagaimana sampai dipasarkan, pasti lebih tinggi lagi dari Rp 40 ribu,” ujarnya.
Menurutnya, kenaikan harga ini dipicu beberapa faktor, di antaranya kondisi iklim ekstrem yang memengaruhi panen, serta ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan.
"Menurut saya salah satunya karena kondisi iklim yang ekstrem kemarin, harga panen salah satu. Yang kedua juga menurut saya karena barangnya sedikit, permintaannya banyak," jelasnya.
Dalam hal itu, ia juga menyinggung dampak program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang dinilai ikut memengaruhi rantai pasok di lapangan.
"Barang-barang jadi langka karena banyak yang sudah masuk ke dapur-dapur. Jadi ini salah satu faktor juga. Yang biasanya setor sehari satu truk, sekarang bisa dua sampai tiga truk setiap harinya untuk mensuplai salah satunya MBG ini," ungkapnya.
Karena itu, ia mendorong Pemerintah Daerah DIY bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait dan Bulog segera mengambil langkah konkret.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung