JOGJA - Pesawat ATR 400 milik Indonesian Air Transport dengan rute Yogyakarta - Makassar dilaporkan hilang kontak di wilayah Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1). Pesawat ini diketahui membawa delapan kru dan tiga penumpang.
General Manager Bandara Adisucipto, Wibowo Cahyono Soekadi, menyatakan bahwa semua prosedur keberangkatan telah dilakukan sesuai standar.
"Benar pesawat Papa Kilo Hotel Tango itu yang operatornya dari Indonesian Air Transport, tadi pagi memang berangkat dari Bandara Adisucipto JOG pukul 08.08 WIB take-off-nya. Semua prosedur dari keberangkatan sampai pemeriksaan di X-ray, di SCP-nya, sudah kita lakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku di bandara," ujarnya kepada wartawan di lokasi, Sabtu (17/1/2026).
Menurut Wibowo di ruang tunggu, boarding, hingga keberangkatan menuju Makassar, jumlah kru dan penumpang tercatat sesuai data.
"Total crew-nya ada tujuh, kemudian penumpangnya ada tiga," sebutnya.
Menanggapi adanya informasi yang simpang siur mengenai tipe pesawat, Wibowo memastikan hal itu kepada Kemenhub.
"Kemenhub saja, itu aja demikian," katanya singkat.
Sementara itu, Kapolres Maros, AKBP Douglas Mahendrajaya, menyampaikan bahwa rencana akan mengawas ke perairan laut di Timur Indonesia. Namun mengalami kecelakaan dalam perjalanannya menuju Timur di atas Sulawesi Selatan.
"Ini pesawat pengawas Kementerian Kelautan dan Perikanan. Semoga semua kru dan tim pengawas selamat," tuturnya dalam keterangan tulisnya.
Berdasarkan informasi dari GM AIRNAV Makassar, Kristanto, pesawat hilang kontak sekitar pukul 13.17 WITA, diperkirakan di sekitar koordinat 04°57’08” S 119°42’54” E, daerah Maros - Pangkep. Pesawat berangkat dari Yogyakarta pukul 08.09 WIB dan terakhir tercatat kontak pukul 04.23 UTC.
Potret Pesawat ATR 400 rute Jogja - Makassar yang hilang kontak, Sabtu (17/1/2026). (Istimewa)
Diketahui, Kepala Kantor SAR Makassar (Kansar MKS) telah mengerahkan tim rescue berjumlah 15 personel beserta peralatan, termasuk mobil truk personel, rescue car, dan drone. Selain itu, MATSC berupaya menghubungi dua pesawat di belakang PK-THT, namun tidak ada yang melihat pesawat tersebut.
Dalam laporan awal kepada Basarnas, BCC mencatat kronologi sebagai berikut:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung