Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 17 NOVEMBER 2025 • 15:10 WIB

Sebanyak 75 Persen Penyakit Menular Bersifat Zoonosis, Pakar UGM Sebut Ini Jadi Kunci Penanganan

Sebanyak 75 Persen Penyakit Menular Bersifat Zoonosis, Pakar UGM Sebut Ini Jadi Kunci PenangananInternational Conference on Advanced Veterinary Science and Technologies for Sustainable Development (3rd ICAVESS 2025) di Gadjah Mada University Club Hotel, belum lama ini. (Istimewa)

JOGJA - Ancaman penyakit menular global semakin nyata, dengan sekitar 75 persen di antaranya bersifat zoonosis, atau menular dari hewan ke manusia. Situasi ini diperparah oleh perubahan iklim dan ketidakstabilan pangan, sehingga kolaborasi lintas disiplin menjadi kebutuhan mendesak.

Konsep One Health, yang menekankan sinergi antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, menjadi strategi utama dalam menghadapi tantangan tersebut. Hal ini disampaikan Prof. Jenny-Ann dari University of Sydney, Australia, pada International Conference on Advanced Veterinary Science and Technologies for Sustainable Development (3rd ICAVESS 2025) di Gadjah Mada University Club Hotel, belum lama ini.

"Pendekatan One Health memerlukan empat pilar utama: komunikasi, koordinasi, pembangunan kapasitas, dan kolaborasi. Kompetensi teknis seperti epidemiologi, surveilans, dan respon cepat terhadap penyakit harus disandingkan dengan kemampuan non-teknis seperti kepemimpinan, komunikasi, advokasi, dan keterlibatan masyarakat,” ujarnya.

Prof. Jenny-Ann juga menekankan bahwa kedua jenis kompetensi tersebut saling melengkapi untuk mewujudkan implementasi One Health secara efektif. Ia pun menyoroti pentingnya pembangunan kapasitas berkelanjutan tanpa bergantung pada pendanaan eksternal.

"Masa depan One Health di Asia bergantung pada integrasi kerja sama universitas, lembaga pemerintah, hingga masyarakat, untuk menciptakan tenaga profesional yang tangguh dan berorientasi pada solusi," katanya.

Senada, Dr. Hugo Federico dari World Organisation for Animal Health (WOAH) menekankan perlunya memperkuat kapasitas tenaga veteriner di kawasan Asia-Pasifik. Ia menyebut bahwa program pelatihan dan modul pembelajaran yang fokus pada isu Antimicrobial Resistance (AMR) serta kesiapsiagaan bencana.

"Kita perlu memperkuat jaringan regional, berbagi pengetahuan, dan membangun masa depan yang lebih tangguh bagi pendidikan dan layanan veteriner di Asia,” ujar Dr. Federico.

Baca juga: Alasan Pakar UGM Sebut Keputusan Pemerintah Tidak Naikkan Cukai Rokok 2026 Bersifat Jangka Pendek, Salah Satunya Kesehatan Publik Jangan Dikesampingka

Kolaborasi juga mendapat sorotan dari Dr. Khongsak Thiangtum, Presiden Southeast Asian Veterinary Schools Association (SEAVSA). Ia menilai kerja sama antar sekolah kedokteran hewan di Asia Tenggara menjadi kunci dalam menghadapi tantangan kesehatan global.

"Kolaborasi yang diwujudkan oleh berbagai pihak sangat penting dalam memperkuat pendidikan kedokteran hewan saat ini," katanya.

Dukungan lokal juga mengalir. Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pembelajaran, Prof. Dr. Wening Udasmoro, menyebut konferensi ini sebagai wujud nyata kerja sama antar akademisi, industri, dan pemerintah.

"Dengan kerja sama dari para ahli, pendidik, dan peneliti dari berbagai latar belakang, kita dapat menciptakan jalur menuju pembangunan berkelanjutan,” ungkapnya.

Baca juga: Kasus Gigitan Ular di Indonesia Meningkat, Akademisi UGM Dorong Kembangkan Serum Antibisa

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. drh. Teguh Budipitojo, menegaskan komitmen institusinya dalam memperkuat kerja sama internasional demi kemajuan ilmu kedokteran hewan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Sebanyak 75 Persen Penyakit Menular Bersifat Zoonosis, Pakar UGM Sebut Ini Jadi Kunci Penanganan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!