JOGJA - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono atau dikenal AHY, menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata, melainkan juga harus memastikan pemerataan dan keseimbangan antarwilayah di Indonesia. Menurut AHY, pembangunan harus menjadi sarana memperkuat daya saing sekaligus mengurangi kesenjangan antar daerah.
Ia menekankan bahwa prinsip pembangunan harus mencakup keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, kepedulian terhadap masyarakat rentan, dan pelestarian lingkungan.
"Infrastruktur bukan sekadar fondasi pembangunan ekonomi, tetapi juga motor penggerak utama pemerataan pembangunan antar wilayah. Pembangunan tidak boleh menimbulkan ketimpangan antarwilayah,” ujar AHY dalam kuliah umum bertajuk “Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan yang Strategis untuk Pembangunan Nasional”, di Auditorium SGLC Fakultas Teknik UGM, Rabu (8/10/2025).
Dalam paparannya, AHY menyampaikan lima strategi dasar pembangunan nasional, yakni diantaranya peningkatan pendidikan yang adaptif, penguatan riset dan inovasi, pengabdian masyarakat yang berdampak langsung, pembangunan infrastruktur hijau dan tangguh bencana, serta tata kelola pemerintahan yang baik.
“Jika semua strategi ini dijalankan, kita sedang menyiapkan Indonesia yang lebih resilien, inklusif, inovatif, dan kompetitif di tingkat global,” kata AHY.
AHY juga menekankan bahwa pembangunan infrastruktur harus dipandang sebagai strategi besar menuju pemerataan, keberlanjutan, dan kesejahteraan masyarakat. Kolaborasi lintas sektor disebutnya sebagai kunci dalam menghadapi tantangan global.
“Kolaborasi antara pemerintah, kampus, dan masyarakat menjadi kunci agar Indonesia mampu menghadapi tantangan global dan memastikan masa depan yang lebih baik bagi seluruh rakyatnya,” paparnya.
Lebih lanjut, AHY menyoroti pentingnya orientasi pembangunan pada ketahanan nasional, khususnya di tengah ancaman perubahan iklim, krisis energi, pangan, dan air bersih. Ia mengingatkan, dunia menuju populasi 10 miliar jiwa pada 2050, dan hal ini menuntut negara untuk lebih tangguh dan berkelanjutan.
“Krisis pangan, energi, dan air bersih akan semakin besar. Karena itu, pembangunan infrastruktur harus berorientasi pada ketahanan, keberlanjutan, dan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Selain itu, AHY menilai bonus demografi yang dimiliki Indonesia merupakan peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, asalkan pendidikan dan keterampilan generasi muda disiapkan dengan baik.
“Kampus masa depan adalah yang mampu menjawab kebutuhan jenis pekerjaan baru dan kompetensi sumber daya manusia di abad ke-21,” ucapnya.
Sementara itu, Rektor UGM Prof. Ova Emilia menegaskan pentingnya peran universitas dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui riset dan inovasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung