JOGJA - Massa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar aksi demonstrasi di Pertigaan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, pada Selasa (2/9/2025) sore. Aksi ini menjadi bagian dari gelombang unjuk rasa nasional yang menyoroti kemunduran demokrasi dan matinya ruang-ruang sipil di Indonesia.
Berdasarkan pantauan, massa aksi mulai berdatangan sekitar pukul 15.30 WIB. Kebanyakan peserta aksi mengenakan jas almamater biru khas PMII dan membawa bendera organisasi berwarna kuning. Setelah berjalan dari arah selatan, mereka membentuk lingkaran di tengah Pertigaan UIN Sunan Kalijaga dan secara bergantian menyampaikan orasi serta 11 poin tuntutan kepada pemerintah.
Aksi ini dikawal oleh Jaga Warga setempat. Sekretaris Jaga Warga Padukuhan Papringan, Dalono, mengatakan kehadiran mereka semata-mata untuk menjaga ketertiban lingkungan.
“Kami hanya ingin memastikan situasi di sekitar padukuhan tetap aman dan kondusif. Mahasiswa menyampaikan aspirasi, dan itu adalah hak mereka,” ujar Dalono kepada wartawan dilokasi.
Baca juga: Hasto Wardoyo Beberkan Langkah Pemkot Yogya Atasi Kebocoran Data Digital
Sementara itu, Ketua PC PMII DIY, Ilyasa Alvin Abadi, dalam orasinya menyatakan bahwa aksi ini adalah bentuk keprihatinan mendalam terhadap arah demokrasi Indonesia yang semakin mundur.
“Reformasi yang diperjuangkan mahasiswa 25 tahun lalu sedang dikhianati. Demokrasi dikerdilkan, ruang sipil dipersempit, dan kekuasaan makin terkonsentrasi. Ini bukan lagi soal politik praktis, tapi soal menyelamatkan masa depan bangsa,” tegas Ilyasa.
Berikut 11 tuntutan utam yang disampaikan PMII DIY, antara lain:
Ilyasa juga menyoroti peran mahasiswa sebagai penerus perjuangan rakyat. Menurutnya, gerakan hari ini bukan sekadar nostalgia atas reformasi 1998, melainkan keharusan sejarah.
"Mahasiswa bukan musuh negara. Justru kami penjaga nurani bangsa. Ketika kekuasaan melenceng dan rakyat makin terpinggirkan, maka mahasiswa harus kembali berdiri di garis depan,” tegasnya.
Jaga warga mengamankan aksi di Perempatan UIN Yogyakarta. (Istimewa)
Meski massa membakar sejumlah ban dilokasi, aksi PMII DIY ini berlangsung tertib hingga menjelang maghrib. Beberapa poster dan spanduk bertuliskan “Reformasi Dikhianati”, “Tolak Otoritarianisme”, serta “Negara Milik Rakyat, Bukan Korporat” dibentangkan di tengah jalan.
"Aksi ini bukan akhir, melainkan awal dari rangkaian gerakan lanjutan jika tuntutan mereka tidak digubris oleh pemerintah pusat maupun legislatif," tandas Ilyasa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Dan Wawancara Langsung