Peluncuran KDMP di DIY, Senin (21/7/2025). (Olivia Rianjani)
JOGJA - Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto meresmikan operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) yang tersebar di berbagai wilayah tanah air. Peresmian ini sekaligus menjadi titik awal uji coba distribusi kelembagaan dan penjualan dari program yang mencakup hingga 80.000 unit koperasi, dengan 103 di antaranya ditunjuk sebagai model percontohan.
Program ini dijalankan berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembentukan Kopdes Merah Putih. Pemerintah berharap koperasi ini mampu menjadi ujung tombak dalam memperkuat ekonomi desa, meningkatkan ketahanan pangan nasional, serta menjadi solusi alternatif dari jeratan pinjaman ilegal dan praktik rentenir.
Melihat hal itu, Pakar ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Amirullah Setya Hardi, menyambut baik inisiatif tersebut. Disebutnya bahwa langkah ini sebagai strategi yang tepat dalam mengangkat potensi ekonomi pedesaan.
“Dengan anggota koperasi yang sudah mencapai sekitar 8 juta orang, ini tentu angka yang sangat signifikan untuk memperluas gerakan koperasi,” ujarnya, pada Selasa (5/8/2025).
Meski begitu, Amirullah mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan pada kuantitas koperasi, melainkan pada kemampuannya dalam mengelola usaha sesuai prinsip koperasi yang sebenarnya.
“Koperasi itu berbeda dari badan usaha lain. Fokusnya pada kesejahteraan anggota. Jadi prinsip seperti kemandirian, partisipasi aktif, dan keberlanjutan harus benar-benar diterapkan, agar koperasi tidak hanya hidup di atas kertas,” tegasnya.
Ia juga menyoroti perlunya inovasi agar Kopdes mampu bersaing dengan layanan keuangan non-formal seperti pinjaman online dan rentenir, yang selama ini lebih mudah diakses masyarakat.
“Koperasi harus mampu menjadi pilihan utama masyarakat desa yang aman, cepat, dan memberdayakan. Tidak hanya layanan keuangan, tapi juga penyediaan kebutuhan pokok seperti sembako, pupuk, hingga sarana produksi pertanian,” imbuhnya.
Amirullah berharap kehadiran Kopdes Merah Putih tidak berhenti sebagai proyek jangka pendek atau sekadar simbol politik, melainkan menjadi gerakan ekonomi yang melibatkan masyarakat desa secara aktif dan berkelanjutan.
“Jika koperasi dijalankan dengan benar, disertai partisipasi nyata dari anggota serta dukungan pemerintah dalam hal pasokan dan modal, maka dampaknya bisa langsung terasa ke kesejahteraan desa. Dalam jangka panjang, ini tentu akan memperkuat ekonomi nasional,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Keterangan Pers