Senin, 22 JUNI 2026 • 19:30 WIB

UGM Gandeng Chile Perkuat Riset Antarktika, Intip Peluang Indonesia di Kutub Selatan

Author

Kerja sama strategis dengan Pemerintah Chile melalui kunjungan Duta Besar (Dubes) Chile untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor-Leste, Mario Ignacio Artaza, ke kampus UGM, Kamis (18/6) lalu. (Istimewa)

JOGJA - Universitas Gadjah Mada (UGM) mempererat kerja sama strategis dengan Pemerintah Chile melalui kunjungan Duta Besar (Dubes) Chile untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor-Leste, Mario Ignacio Artaza, ke kampus UGM, Kamis (18/6) lalu. Pertemuan ini menandai babak baru kolaborasi riset, terutama dalam eksplorasi kawasan Antarktika dan penanganan perubahan iklim.

Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, menegaskan bahwa kemitraan ini merupakan langkah nyata UGM untuk meningkatkan kehadiran Indonesia dalam riset global.

"Harapannya, kerja sama ini dapat berkembang tidak hanya pada bidang pendidikan dan pertukaran akademik, tetapi juga pada penelitian bersama yang mendukung agenda pembangunan berkelanjutan kedua negara," ujarnya, dalam keterangan tertulis yang diterima Senin (22/6/2026).

Baca juga: Dukung Tuntutan Massa IMM, Ketua DPRD DIY Janji Bawa Aspirasi ke Senayan :"Ini Suara Kalian Bukan Tunggangan Manapun"

Salah satu fokus utama yang dibahas adalah keterlibatan Indonesia dalam Antarctic Treaty System (ATS). Menurut Danang, Antarktika bukan sekadar obyek penelitian ilmiah, melainkan wilayah strategis yang menuntut partisipasi aktif Indonesia dalam menjaga perdamaian dan kelestarian lingkungan global.

"Keterlibatan pemerintah menjadi salah satu aspek penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan kerja sama dan diplomasi ilmiah terkait Antarktika di masa mendatang," jelasnya.

Kedua pihak juga menjajaki potensi riset di bidang yang sangat relevan bagi kedua negara, yaitu vulkanologi dan mitigasi bencana. Mengingat Indonesia dan Chile sama-sama berada di jalur tektonik aktif atau Ring of Fire, Danang melihat potensi besar dalam riset sistem pemantauan gunung api, energi geotermal, hingga dampak vulkanisme bagi masyarakat.

"Bidang pertanian, ketahanan pangan, hingga kelautan juga menjadi area yang sangat terbuka untuk dikembangkan secara bersama," imbuhnya.

Dubes Chile, Mario Ignacio Artaza, menegaskan bahwa Chile siap menjadi mitra utama UGM. Ia menyoroti Kota Punta Arenas sebagai infrastruktur kunci yang sangat strategis bagi para peneliti dunia yang hendak menuju Antarktika.

"Chile menjadi mitra penting bagi Indonesia dan UGM dalam upaya meningkatkan keterlibatan pada penelitian dan aktivitas ilmiah di kawasan Antarktika," kata Mario.

Baca juga: Ekonom UGM Kritik Pengesahan UU P2SK ditengah Rupiah & IHSG Terpuruk

Kendati demikian, Mario menyebutkan, sebagai sesama negara Global South, baik Indonesia maupun Chile memiliki tanggung jawab besar dalam menjawab tantangan iklim global. Ia menjamin komitmen kedutaan untuk memfasilitasi komunikasi antara UGM dengan berbagai institusi riset elit di Chile, seperti Chilean Antarctic Institute (INACH) dan Universidad de Chile.

"Kerja sama yang dibangun dapat memberikan manfaat bagi Chile, Indonesia, serta komunitas ilmiah internasional secara lebih luas," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Di Grup WA

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU