Rabu, 17 JUNI 2026 • 21:45 WIB

Tanpa dipungut Biaya! Pakualaman Akan Gelar Kegiatan Hadeging ke - 214 di Tengah Krisis Ekonomi, Salah Satunya Ada Sembako Murah

Author

Jumpa pers rangkaian kegiatan Hadeging ke - 214 bersama Putra Mahkota Pakulaman X, pada Rabu (17/6/2026). (Olivia Rianjani)

JOGJA - Di tengah situasi perekonomian nasional yang dinilai masih carut-marut dan belum stabil, Kadipaten Pakualaman siap menggelar rangkaian peringatan Hadeging (berdirinya) Kadipaten Pakualaman ke-214. Mengusung misi sosial dan pemberdayaan, perayaan yang berlangsung sepanjang Juni 2026 ini akan difokuskan pada kegiatan yang menyentuh langsung masyarakat bawah, mulai dari pasar pangan murah, pembinaan UMKM, hingga hiburan budaya gratis.

Putra Mahkota Pakualaman sekaligus putra pertama Sri Paduka Paku Alam X, Bendara Pangeran Haryo (BPH) Kusumo Bimantoro, tidak menampik bahwa kondisi ekonomi saat ini sedang memberikan tekanan berat bagi seluruh lapisan masyarakat.

"Di tengah-tengah ekonomi yang agak carut marut di Indonesia ini memang kita semua seluruh masyarakat merasakannya, bukan hanya masyarakat, kita pun sudah merasakan," ujar BPH Kusumo Bimantoro dalam konferensi pers di Ruang Danawara Barat, Pura Pakualaman, Yogyakarta, Rabu (17/6/2026) petang.

Namun, menurutnya kondisi tersebut justru menjadi pemantik bagi Pakualaman untuk memperkuat solidaritas sosial.

"Jadi tapi dengan adanya berpartisipasi dengan acara tadi marilah kita bersama-sama kita bisa bersosial, saling bergotong royong, saling membantu karena dengan kita saling membantu masalah-masalah yang berat pasti terasa lebih mudah," ucapnya.

Dorong Ekonomi Otentik Lewat Pasar Sewandanan

Salah satu agenda utama yang menjadi sorotan dalam perayaan tahun ini adalah Pasar Sewandanan. Mengangkat tema "Menyemai Interaksi Klasik, Membangkitkan Ekonomi Otentik", acara ini akan digelar pada 27-28 Juni 2026 di Alun-Alun Sewandanan, sisi selatan Pura Pakualaman.

BPH Kusumo Bimantoro menjelaskan bahwa pasar ini dihadirkan sebagai ruang konkret untuk membantu pemenuhan kebutuhan pokok warga dengan harga yang sangat terjangkau melalui kolaborasi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY serta Dinas Pertanian Kota Yogyakarta.

"Untuk itu memang menjawab dari acara utama ini yang kita tonjolkan karena pasar ini acara yang bersifat sosial dan acara salah satu fasilitas utama yaitu bazar pangan murah untuk memenuhi kebutuhan pokok di tengah kesulitan kita menyediakan kebutuhan pokok untuk masyarakat dengan harga yang terjangkau," jelas Putra Mahkota.

Selain itu, Pasar Sewandanan juga menjadi wadah bagi lebih dari 40 UMKM terpilih yang menjual kerajinan lokal dan kuliner zaman dulu (jadul). Menariknya, seluruh fasilitas dan akses masuk bagi masyarakat dipastikan gratis tanpa dipungut biaya apa pun.

"Jadi, kepada seluruh masyarakat kita dalam rangka memperingati Hadeging Kadipaten Pakualaman yang ke-214 pada tanggal 22 Juni besok, kita akan mengadakan Pasar Sewondanan dimana tema yang sering kita dengarkan yaitu adalah Pasar Kangen, dimana kita akan mengeluarkan kuliner-kuliner jadul, bahan-bahan dengan harga yang terjangkau dan juga kerajinan-kerajinan tangan yang unik yang kita akan persembahkan kepada masyarakat semua dengan gratis, tanpa dipungut biaya suatu apapun," ungkapnya.

Tak hanya belanja, pengunjung juga akan disuguhi berbagai aktivitas seni dan budaya interaktif di sela-sela acara pasar tersebut.

Di sela-sela acara Pasar Sewondanan akan ada seni kesenian ketoprak pada malam hari dan juga di siang hari ada jam 1 siang kita juga ada kesenian dan seni membatik.

"Kita seni membatik yang ada 5 sesi di tanggal Sabtu dan Minggu tanggal 20 dan 21 Juli," imbuh BPH Kusumo Bimantoro.

Namun, bagi masyarakat yang ingin berkunjung langsung ke area istana Pakualaman selama rangkaian acara, pihak Pakualaman memberlakukan aturan ketat demi menjaga kekhidmatan prosesi adat.

"Kalau untuk akses masuk ke dalam Pakualaman, hanya nyuwun sewu sampai Pagar Cepuri Putih itu. Dan untuk naik bangsal pun kita tidak diperbolehkan untuk naik, selain ada acara-acara adat yang sedang berlangsung," tandas Putra Mahkota.

Baca juga: Ribuan Warga Serbu Kepatihan Jogja, Antusias Salaman dengan Sultan dan Paku Alam

Putra Mahkota Pakualaman sekaligus putra pertama Sri Paduka Paku Alam X, Bendara Pangeran Haryo (BPH) Kusumo Bimantoro. (Olivia Rianjani)

​Oleh karena itu, sang Putra Mahkota kembali mengajak publik untuk saling menguatkan di tengah situasi sulit ini.

"Tapi sekali lagi, marilah kita semua saling menguatkan dan saling berpartisipasi memeriahkan acara Pasar Sewondanan ini untuk semangat kita dalam menghadapi situasi ekonomi pada negara kita pada tahun-tahun ini. Untuk itu, marilah kita menguatkan tali silaturahmi kita, kita bersama-sama bergotong royong, saling membantu satu sama lain," tuturnya.

Agenda Kesehatan Hingga Hiburan Rakyat Legendaris

Senada dengan Putra Mahkota, panitia acara, Novian, menjelaskan bahwa tahun ini ada pergeseran konsep acara akibat penyesuaian situasi. Perayaan Hadeging kali ini sengaja memisahkan antara acara masyarakat dan perlombaan guna memaksimalkan dampak sosial di tengah keterbatasan.

"Sebenarnya kalau Hadeging Kadipaten pada tahun lalu kita menggabungkan acara lomba-lomba dan acara masyarakat. Namun pada tahun ini kita memisahkan yaitu acara-acara masyarakat kita fokuskan pada tahun Masehi. Dan acara-acara lomba-lomba pada tahun Jawa yang akan diadakan di bulan November tahun ini," jelas Novian.

Ia menyampaikan, program pengabdian masyarakat tahun ini berfokus kuat pada dua sektor utama, yakni kesehatan dan ekonomi. Pada sektor kesehatan, akan terdapat dua event yang menyasar perbaikan gizi balita stunting serta pemeriksaan ibu hamil karena akses konsultasi yang selama ini dinilai masih terbatas di beberapa daerah.

"Maka dengan event ini kita dapat terjun langsung ke masyarakat biar setidaknya kita sedikit membantu masyarakat untuk lebih baik lagi," tutur Novian.

Sementara di sektor ekonomi, panitia memberikan keberpihakan penuh pada para perajin tradisional yang mulai kehilangan pasar akibat tergerus zaman.

"Tujuan kami mengadakan Pasar Sewandanan itu kan juga kita membina para UMKM, juga beberapa beberapa kerajinan-kerajinan jadul. Itu kan yang memang daya belinya itu kan memang sudah sedikit. Makanya dengan adanya pasar ini kita berusaha tetap mengupayakan pembelajaan ekonomi itu tetap terjadi baik dari kalangan elit ataupun kalangan bawah," imbuhnya.

Baca juga: Mahasiswa UGM Ungkap Tolak Ajakan ke Papua :" Kalau Gak Ada Penindasan, Buka untuk Publik dan Pers!"

Di samping misi sosial, perayaan ini juga dirancang untuk mendongkrak sektor pariwisata Yogyakarta melalui suguhan seni budaya gratis. Sederet seniman ketoprak legendaris DIY dipastikan akan mengocok perut dan menghibur pengunjung, di antaranya Yati Pesek, Marwoto Kawer, Yu Beruk, Wisben Antoro, hingga penampilan Cilik Bledheg.

Tidak kalah menarik, gelaran ini juga akan dimeriahkan oleh Festival Jathilan Klasik dengan total hadiah Rp 25 juta, serta tradisi Lampah Budaya (Mubeng Beteng) tanpa alas kaki pada Minggu pagi yang memiliki filosofi mendalam untuk menghapus sekat sosial antara abdi dalem, pejabat, dan warga biasa.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU