Dilema Korban 'Api Gaib' di Rumah Warga Sleman: Nyaris 100 Kali Terbakar, Relokasi Takut Kehilangan Pelanggan, Usaha Macet
JOGJA - Teror api misterius yang melanda kediaman Mutfiana (Fia) di Padukuhan Mriyan X, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, DIY, kian mencekam. Memasuki hari ke-13 pada Kamis (4/6/2026), fenomena aneh tersebut belum juga reda dan tercatat telah membakar seisi rumah hingga hampir 100 kali.
Bukan hanya menghanguskan perabotan dan merusak struktur bangunan, "api gaib" yang muncul secara tiba-tiba ini juga melumpuhkan total urat nadi perekonomian keluarga korban. Usaha pemotongan ayam yang selama ini menjadi sumber nafkah utama mereka terpaksa gulung tikar.
"Sudah terjadi 97 kali (api muncul tiba-tiba dan membakar benda di rumah). Karena ini, usaha pemotongan ayam jadi macet," ujar Fia saat dijumpai di Kapanewon Seyegan, Kamis (4/6/2026).
Dampak dari teror ini membuat kerugian materiil yang dialami keluarga Fia membengkak drastis. Di awal kemunculan api, keluarga bahkan harus merogoh kocek pribadi untuk melakukan penanganan mandiri yang terbilang ekstrem, mulai dari membongkar lantai hingga membongkar septic tank demi melacak sumber api.
Fia memperkirakan, total kerugian yang dideritanya saat ini telah menyentuh angka puluhan juta rupiah.
"Kalau 5 hari yang lalu itu (kerugiannya) Rp 40-an juta ya, tapi kalau sampai saat ini belum ngitung lagi. Ya mungkin bertambah," ungkapnya.
Namun, kata dia, angka kerugian tersebut bahkan belum termasuk potensi pendapatan yang hilang akibat berhentinya operasional bisnis pemotongan ayam selama hampir dua pekan terakhir. Fia juga mengaku, pada awal-awal teror, ia harus menanggung sendiri seluruh biaya mitigasi darurat, termasuk pembelian alat pemadam api ringan (APAR).
"Awalnya iya ganti sendiri, isi ulang sendiri (APAR). Tapi terus setelah ada bantuan ya kita memakai bantuan tersebut," katanya.
Dilema Opsi Relokasi Pemkab Sleman
Melihat situasi rumah yang tak kunjung kondusif, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman sebenarnya telah turun tangan. Pihak pemerintah menawarkan sejumlah opsi relokasi, baik untuk tempat tinggal sementara maupun lokasi baru agar Fia bisa melanjutkan usahanya.
Kendati demikian, Fia mengaku berada dalam dilema besar. Ia khawatir jika pindah terlalu jauh, pelanggan setianya akan hilang dan ia harus merintis bisnis dari nol lagi.
Sebagai jalan tengah, pihak keluarga berencana mendirikan tenda darurat di depan ruko yang terletak tepat di samping rumah mereka yang terbakar.
"Relokasi mungkin tetap ke ruko (yang ada di samping rumah) ya. Kalau ke tempat lain kita harus bangun usaha dari nol," pungkas Fia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara Langsung