Minggu, 31 MEI 2026 • 21:10 WIB

Padi 'Amfibi' Gamagora 7 Diuji di Kaltim, Siap Jadi Solusi Lahan Tadah Hujan?

Author

KAGAMA Kalimantan Timur dan Pemkab Penajam Paser Utara (PPU) menggelar uji coba varietas padi unggul, Gamagora 7 di Kaltim. (Istimewa)

JOGJA - Di tengah ancaman perubahan iklim dan urgensi penguatan ketahanan pangan nasional, inovasi varietas padi adaptif kini menjadi tumpuan sektor pertanian. Menjawab tantangan tersebut, Universitas Gadjah Mada (UGM) berkolaborasi dengan Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Kalimantan Timur dan Pemkab Penajam Paser Utara (PPU) menggelar uji coba varietas padi unggul, Gamagora 7

Varietas ini dikenal unik karena memiliki kemampuan "amfibi", yakni mampu tumbuh optimal di lahan sawah basah maupun lahan tadah hujan yang cenderung kering.

Inovator di balik pengembangan Gamagora 7, Prof. Taryono, mengungkapkan bahwa varietas ini dirancang khusus untuk mendongkrak produktivitas di lahan-lahan marginal yang mengandalkan air hujan. Selain produktif, padi ini juga memiliki ketahanan tinggi terhadap hama penyakit serta kandungan gizi yang unggul.

Awalnya, tim peneliti memproyeksikan varietas ini sebagai padi genjah dengan produktivitas tinggi. Namun, dalam perjalanannya, ditemukan berbagai keunggulan lain yang melampaui target awal.

"Gamagora 7 itu produktivitasnya tinggi, umur pendek, super genjah, dan kaya gizi," ujarnya, Minggu (31/5/2025).

Namun, kehadiran varietas ini tidak terjadi dalam semalam. Prof. Taryono membeberkan bahwa perakitan Gamagora 7 memakan waktu hampir dua dekade, dimulai sejak tahun 2008 dan baru resmi dilepas ke publik pada 2023. Sebelum resmi diedarkan, varietas ini harus melewati uji multilokasi di 8 wilayah di Indonesia, mencakup Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Halmahera, hingga NTB.

"Merakit varietas itu perlu dana yang besar, perlu kesabaran, dan waktunya lama," kata Guru Besar Fakultas Pertanian UGM tersebut.

Potensi Topang Kemandirian Pangan Nasional

Secara administratif, pemerintah merilis Gamagora 7 sebagai varietas padi sawah karena memenuhi standar produktivitas yang tinggi, yakni mencapai 9,7 ton gabah kering giling (GKG) per hektar. Kendati demikian, fungsionalitas utamanya di lapangan tetap menyasar karakteristik lahan kering. Sehingga, menurutnya varietas ini sebenarnya diperkenalkan sebagai "padi tadah hujan".

"Gamagora 7 memenuhi syarat untuk dilepas sebagai padi sawah karena produktivitas dan ketahanannya," jelas Taryono.

Baca juga: Arus Balik Libur Panjang Akhir Pekan Perayaan Idul Adha 1447 H dan Hari Lahir Pancasila, Daop 6 Jogja Layani 48.169 Penumpang

Mengingat luasnya lahan tadah hujan di Indonesia, Taryono sangat optimistis varietas ini bisa menjadi pilar baru pangan nasional.

"Saya optimistis bahwa sebenarnya Gamagora 7 dapat mendukung kemandirian pangan nasional," tuturnya.

Meski begitu, ia tidak menampik adanya tantangan besar saat ini, terutama terkait keterbatasan ketersediaan benih formal dan kelanjutan dana riset untuk generasi Gamagora berikutnya. Ia berharap pihak kampus memberikan atensi lebih pada riset-riset yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat.

"Penelitian pemuliaan varietas membutuhkan dukungan fasilitas, lahan, dan pendanaan yang berkelanjutan agar inovasi pertanian kampus tidak berhenti di tengah jalan," ucapnya.

Menembus Lahan Ekstrem Kalimantan Timur

Sementara itu, Ketua KAGAMA Kalimantan Timur, Lalu Faudzul Idhi, menjelaskan alasan strategis pemilihan Penajam Paser Utara sebagai lokasi uji coba. Kaltim dinilai memiliki karakteristik pertanian yang menantang, mulai dari cuaca tropis yang fluktuatif hingga kondisi tanah yang minim unsur hara.

Bagi KAGAMA, tantangan ini justru menjadi laboratorium alami yang tepat untuk menguji ketangguhan Gamagora 7. Idhi mengibaratkan organisasi alumni ini sebagai jembatan komersialisasi hasil riset akademi ke sektor riil.

"KAGAMA sebetulnya adalah industri dari UGM yang menguji produk-produk UGM sebelum dilakukan hilirisasi. Kondisi iklim seperti itu yang membuat kami tertantang untuk mencoba apakah Gamagora 7 ini bisa ditanam," katanya.

Dalam pelaksanaannya di lapangan, KAGAMA Kaltim tidak sekadar membagikan benih, melainkan melakukan pendampingan intensif dan edukasi langsung kepada para petani. Program ini juga berjalan beriringan dengan Sekolah Inovasi Desa di PPU yang bekerja sama dengan UGM.

"Untuk membuktikan klaim "amfibi" padi ini, lahan uji coba seluas 1 hektar sengaja dibagi rata menjadi dua perlakuan ekosistem. Oleh karena itu, kemarin kita dampingi satu hektar dibagi untuk dua lahan. Kita coba dan sekarang sudah mulai tumbuh," ucap Idhi.

Melalui skema uji coba dua model lahan (basah dan tadah hujan) tersebut, performa benih terhadap serangan hama, dinamika cuaca, dan produktivitas riil akan dipantau ketat. Data riil ini nantinya akan dikirim kembali ke Jogja sebagai bahan evaluasi tim peneliti UGM.

Baca juga: Bawa Isu Transisi Migas, Tiga Mahasiswa Teknik UGM Malah Juara Debat Energi Nasional

Jika proyek percontohan di PPU ini sukses besar, KAGAMA berencana mereplikasi dan memperluas penanaman Gamagora 7 ke wilayah lain di Kaltim yang memiliki keterbatasan sumber air.

"Harapan kami tentu ini bisa berhasil, sehingga nanti dapat diperluas ke daerah-daerah lain di Kalimantan Timur, seperti di Kutai Kartanegara dan Kutai Timur," pungkas Idhi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU