Rabu, 20 MEI 2026 • 12:55 WIB

Sempat ditemukan Suspek Hantavirus di Kulon Progo, Dinkes Kota Jogja Minta Warga Waspadai Hantavirus: Kenali Gejalanya!

Author

Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data serta Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, dr. Lana Unwanah. (Olivia Rianjani)

JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyakit hantavirus. Langkah antisipasi ini diambil menyusul adanya laporan mengenai sejumlah warga negara asing (WNA) asal Belanda di sebuah kapal pesiar yang terdeteksi terinfeksi virus tersebut.

Mepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data serta Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, dr. Lana Unwanah, menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Sebab, hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang menular dari hewan ke manusia, bukan antar-manusia.

"Hantavirus adalah salah satu penyakit zoonosis yang ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus atau curut yang terinfeksi melalui urin, kotoran, maupun air liur. Jadi bukan menular antar manusia," ujar Lana dalam jumpa pers di Balai Kota Yogyakarta, Selasa (19/5/2026).

Lana menjelaskan, penularan virus ini rawan terjadi ketika seseorang membersihkan area yang kotor dan lembap. Partikel debu yang telah terkontaminasi kotoran tikus dapat terhirup, atau virus masuk melalui kontak langsung pada kulit yang sedang terluka.

Oleh karena itu, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) sangat disarankan saat beraktivitas di lokasi-lokasi berisiko seperti gudang, loteng, atau bangunan yang sudah lama tidak berpenghuni.

"Kalau sedang membersihkan gudang atau tempat berdebu yang berpotensi ada tikus, wajib menggunakan APD seperti masker, sarung tangan, bahkan sepatu bot jika diperlukan," katanya.

Kenali Gejala dan Tingkat Fatalitas

Terkait gejala klinis, Lana memaparkan bahwa hantavirus yang ditemukan di Indonesia umumnya menyerang sistem ginjal, atau dikenal secara medis sebagai hemorrhagic fever with renal syndrome. Secara kasat mata, gejalanya sangat menyerupai penyakit leptospirosis.

"Gejalanya bisa berupa demam, gangguan ginjal, penurunan produksi urin, bahkan pada fase berat dapat menyebabkan kematian. Tingkat fatalitasnya berkisar 5 sampai 15 persen tergantung strain virus," jelasnya.

Baca juga: Dinkes Sleman Siapkan Layanan Kesehatan 24 Jam Selama Libur Lebaran, Salah Satunya Waspadai Risiko Kematian Ibu

Berdasarkan data kilas balik, Kota Yogyakarta mencatat satu kasus hantavirus sepanjang tahun 2025. Sementara untuk tahun 2026, belum ada laporan kasus yang terkonfirmasi positif. Namun di Kabupaten Kulon Progo ditemukan suspek, beruntungnya temuan itu hasilnya negatif Hantavirus.

"Kemarin sempat ramai ada rilis Kemenkes soal dua suspek di Indonesia, satu di Jakarta dan satu di DIY, tepatnya Kulonprogo. Namun setelah pemeriksaan PCR hasilnya negatif," ungkap Lana.

Meski begitu, Dinkes Kota Yogyakarta sempat melakukan pemantauan ketat terhadap satu pasien suspek yang menunjukkan gejala menyerupai leptospirosis di wilayah Lempuyangwangi. Dari kasus ini, Lana mengingatkan pentingnya keterbukaan pasien mengenai riwayat kesehatannya.

"Kasus terakhir baru panas dua hari saat masuk rumah sakit. Tapi setelah ditelusuri epidemiolog puskesmas, sebenarnya sudah lima hari merasa tidak enak badan. Ini pentingnya masyarakat mengenali perubahan gejala sejak awal," tuturnya.

Langkah Pencegahan

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Yogyakarta, drg. Aan Iswanti, turut menegaskan bahwa seluruh fasilitas kesehatan di Kota Yogyakarta itu telah disiagakan penuh jika sewaktu-waktu ditemukan kasus yang membutuhkan penanganan medis tingkat lanjut.

"Kalau dibutuhkan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi, sudah kami siapkan mulai dari Rumah Sakit Pratama, RSUD Kota Yogyakarta, hingga RSUP Dr. Sardjito, termasuk layanan psikolog dan dokter anak," jelas Aan.

Baca juga: Geger Hantavirus Terdeteksi di 9 Provinsi di RI Termasuk Jogja, Dinkes Kota Jogja Buka Suara

Oleh karena itu, Dinkes kembali meminta masyarakat untuk lebih proaktif dalam menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal masing-masing, terutama dalam menekan populasi tikus yang menjadi vektor utama penyebaran virus.

"Lakukan disinfeksi secara berkala, jaga kebersihan gudang, area lembap, dan sumber air. Kalau ada gejala seperti demam disertai gangguan urin atau sesak napas setelah terpapar lingkungan berisiko, segera periksa ke fasilitas kesehatan," pungkas Aan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU