Jumat, 15 MEI 2026 • 13:05 WIB

Rupiah Melemah, Harga Sapi Australia Naik, Guru Besar UGM Ingatkan Ancaman Kelangkaan Daging

Author

Pemantauan hewan kurban di Kota Yogyakarta oleh jajaran Pemkot, pada Jumat (8/5/2026). (Olivia Rianjani)

JOGJA - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak langsung terhadap kenaikan harga sapi impor asal Australia. Kondisi tersebut diperparah dengan meningkatnya harga sapi di Australia sejak akhir 2025 akibat persaingan ekspor global dan ketidakpastian geopolitik.

Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Panjono, menilai situasi tersebut menjadi alarm bagi ketahanan pangan hewani Indonesia yang hingga kini masih bergantung pada impor sapi dan daging.

Menurut Panjono, kenaikan harga sapi impor memang memberi keuntungan bagi peternak lokal karena harga sapi domestik ikut terdorong naik.

"Kalau harga sapi impor naik, bagi peternak sebagai pelaku usaha justru menguntungkan karena otomatis harga ternak sapi domestik juga akan ikut naik," ujarnya, Jumat (15/5/2026).

Ia pun mengingatkan ketahanan pangan nasional untuk komoditas daging sapi masih sangat rentan terhadap gejolak eksternal, mulai dari fluktuasi kurs rupiah, kondisi geopolitik, hingga dinamika pasar global.

Menurutnya, apabila harga sapi impor terus meningkat, volume impor berpotensi turun. Dampaknya, pemotongan sapi lokal akan meningkat demi memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut dikhawatirkan memicu penurunan populasi sapi nasional.

"Kalau impor turun, tingkat pemotongan domestik akan meningkat. Kalau terus seperti itu, populasi sapi kita bisa menurun dan pada akhirnya terjadi kelangkaan," jelasnya.

Panjono juga menyoroti target populasi sapi nasional yang ditetapkan pemerintah masih menghadapi tantangan besar. Kementerian Pertanian menargetkan populasi sapi mencapai 19,9 juta ekor pada 2026, sementara populasi pada 2025 baru sekitar 13,5 juta ekor.

Menurutnya, selisih lebih dari enam juta ekor menunjukkan perlunya langkah luar biasa untuk meningkatkan populasi ternak nasional, mulai dari percepatan program pembiakan, peningkatan produktivitas indukan, hingga pengendalian pemotongan sapi produktif.

"Artinya masih ada kekurangan lebih dari enam juta ekor. Kalau pemotongan meningkat, target itu tentu akan semakin sulit dicapai," katanya.

Selain itu, fluktuasi kurs rupiah yang tajam juga disebut menyulitkan pelaku usaha sapi potong dalam menghitung biaya pembelian, harga jual, hingga proyeksi keuntungan usaha.

Lanjut Panjono menilai, pelaku usaha sebenarnya lebih membutuhkan kestabilan nilai tukar dibanding sekadar penguatan rupiah terhadap dolar AS. Stabilitas kurs dinilai penting agar pengusaha dapat menyusun perencanaan bisnis dengan lebih akurat dan meminimalkan risiko kerugian akibat perubahan harga mendadak.

"Yang utama bagi pelaku usaha sapi potong sebenarnya bukan hanya dolar turun, tetapi nilai tukar rupiah terhadap dolar harus stabil. Kalau stabil, mereka bisa menghitung biaya dan harga jual dengan lebih pasti," tuturnya.

Ia menegaskan persoalan tingginya harga sapi impor tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu kebijakan. Pemerintah dinilai perlu menerapkan strategi jangka pendek, menengah, dan panjang secara bertahap agar pasokan daging tetap terjaga sekaligus memperkuat populasi sapi nasional.

Dalam jangka pendek, kata dia, impor sapi bakalan dan daging sapi masih dibutuhkan untuk menjaga pasokan dan menahan kenaikan harga di pasar. Di sisi lain, masyarakat juga dapat didorong memanfaatkan sumber protein alternatif seperti ayam, telur, ikan, dan tempe untuk mengurangi tekanan permintaan terhadap daging sapi.

"Di saat yang sama, masyarakat dapat didorong untuk memanfaatkan sumber protein alternatif seperti daging ayam, telur, ikan, dan tempe guna mengurangi tekanan permintaan terhadap daging sapi," ujarnya.

Baca juga: Jelang Idul Adha Kota Jogja 2026, Sapi "Raksasa" Presiden Prabowo Segera Merapat ke Bantaran Sungai Ini

Pada jangka menengah, pemerintah diminta memastikan industri penggemukan sapi atau feedlot tetap berjalan melalui kemudahan akses impor, kepastian regulasi, dan stabilitas nilai tukar rupiah.

Menurut Panjono, keberlangsungan usaha feedlot penting karena sektor tersebut berperan dalam menciptakan nilai tambah ekonomi, menyerap tenaga kerja, serta menjaga kesinambungan pasokan daging nasional.

"Kalau memang tidak turun, setidaknya nilai tukar harus stabil sehingga pelaku usaha bisa menghitung biaya usahanya dengan pasti," ungkapnya.

Sementara dalam jangka panjang, strategi yang dinilai paling realistis adalah meningkatkan populasi sapi nasional melalui program breeding secara masif serta integrasi peternakan dengan lahan perkebunan dan kehutanan.

Ia menyebut integrasi sapi dengan perkebunan sawit, kelapa, maupun hutan tanaman industri dapat menjadi solusi untuk memperkuat kemandirian sektor peternakan nasional.

"Strategi jangka panjangnya yaitu dengan meningkatkan populasi melalui program breeding serta integrasi sapi dengan perkebunan dan kehutanan. Dengan cara ini, suatu saat industri penggemukan hewan atau feedlot tidak perlu lagi bergantung pada sapi bakalan impor dari Australia," katanya.

Panjono menilai pelemahan rupiah dan ketidakpastian geopolitik global seharusnya menjadi momentum untuk mempercepat langkah menuju swasembada daging sapi nasional.

Baca juga: Mahasiswa UGM Kenalkan Wisata Gastronomi, Sajikan Sate Padang Hingga Papeda

Kendati demikian, penguatan program breeding, peningkatan populasi ternak, serta pemanfaatan lahan perkebunan dan kehutanan melalui sistem integrasi menjadi kunci untuk membangun industri peternakan yang lebih mandiri.

"Ketahanan pangan, khususnya daging sapi, hanya bisa benar-benar kuat jika kita mampu meningkatkan populasi dan mengurangi ketergantungan pada impor," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dikirim Melalui E-mail

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU