Sosok Ibu Jadi Inspirasi, Grego Julius Ciptakan 12 Lagu Bunda Maria dihadirkan Pada Konser "Magnificat Jiwa" di Klaten
JOGJA - Khidmat menyelimuti Grha Bung Karno, Klaten, Jawa Tengah pada Rabu malam, 6 Mei 2026 malam hari. Sebanyak 2.400 penonton hadir memadati lokasi untuk menyaksikan peluncuran karya terbaru dari komposer sekaligus konduktor senior, Grego Julius, dalam perhelatan bertajuk “Magnificat Jiwa: Simfoni Kasih Bagi Bunda Maria”.
Konser tersebut menjadi momentum peluncuran 12 lagu bertema Bunda Maria yang diciptakan Grego Julius sebagai sarana doa dan ungkapan syukur umat Katolik di Bulan Maria.
"Jadi hari ini saya menampilkan 12 lagu, semuanya bertema Bunda Maria. Dua belas lagu itu saya buat karena di Katolik ini selain bulan Mei juga ada bulan Oktober sebagai bulan Maria. Jadi tidak hanya sekadar kumpulan lagu Bunda Maria, tetapi menjadi sarana untuk doa, sarana untuk bersyukur, sarana untuk berterima kasih kepada Bunda Maria," ujar Grego Julius kepada wartawan disela-sela acara.
Ia mengatakan, seluruh lagu tersebut memang dipersembahkan sebagai pengantar doa bagi umat yang ingin mendekatkan diri kepada Tuhan melalui Bunda Maria.
"Kalau dibilang istimewa, memang lagu ini saya persembahkan untuk pengantar doa. Semoga bagi mereka yang berdoa kepada Tuhan Yesus melalui Bunda Maria dengan lagu-lagu kami ini bisa terinspirasi sehingga doanya bisa tusuk, bisa meresap di hati mereka masing-masing," katanya.
Dalam konser tersebut, lagu-lagu dirangkai secara berurutan dimulai dari "Bundaku" yang dinyanyikan Andrew Syahputra, "Maria Ratu Surga" oleh Brian Prasetyoadi, "Maria Penolong Umat" oleh Agnes Yulinda, serta "Bunda Maria Sang Idola" yang dibawakan Elisha Orcarus.
Selanjutnya mengalun lagu "Ajarkan Kami Tabah" oleh Brian Prasetyoadi, "Hantarkan Aku Pada Setiamu" oleh Asriuni Pradipta, "Karena Doamu" oleh Andrew Syahputra, "Bunda Penolong Abadi" oleh Agnes Yulinda, dan "Kasihmu Tak Bertepi" yang dibawakan Elisha Orcarus.
Rangkaian senandung pujian itu kemudian ditutup melalui lagu "Bunda Tersenyum Indah" yang dibawakan secara kolaborasi oleh Asriuni Pradipta, Didik Wisudantoro, dan Mlenuk Voice.
Menurut Grego, pemilihan Klaten sebagai lokasi konser tahun ini juga memiliki pesan khusus.
Ia menyebut, sebelumnya digelar di Yogyakarta, karena itulah dirinya ingin pemerataan agar karya-karyanya dapat dinikmati lebih banyak masyarakat di berbagai daerah.
"Karena ingin meratakan supaya tidak hanya masyarakat Jogja saja, tetapi juga masyarakat Klaten. Mungkin lain kali di Solo atau di Semarang," ujarnya.
Di balik proses kreatifnya, Grego mengaku sosok Bunda Maria memiliki makna mendalam dalam hidupnya, terutama setelah sang ibu meninggal dunia.
"Jujur, waktu ibu saya masih hidup, kalau berkeluh kesah saya selalu dengan ibu saya, baik gembira, susah, kecewa dan sebagainya. Tapi setelah ibu saya meninggal, untuk sosok ibu saya mencoba bersama Bunda Maria. Ternyata membuat hati saya lega dan menjadi senang, seolah-olah ada ibu lagi," tuturnya.
Ia mengungkapkan proses penciptaan seluruh lagu tersebut memakan waktu sekitar satu tahun. Lagu-lagu itu lahir dari pengalaman pribadi dan pergulatan batin yang dituangkan menjadi doa dalam bentuk musik.
"Lagu itu tidak hanya asal saya menulis, tetapi betul-betul dari dalam hati saya sendiri. Ada pengalaman di hati saya kemudian saya tuliskan. Ada dalam keadaan kecewa, susah, gembira dan sebagainya. Nanti bisa didengarkan di semua lagu ini," ucapnya.
Menariknya, pada kesempatan itu juga, belasan lagu ini dilaunching diberbagai platfrom termasuk spotify.
"Hari ini kebetulan launching lagunya, jadi bisa diputer di Youtube atau di Spotify atau di Apple atau di media musik lainnya semuanya bisa didengarkan disitu oke semoga lagu-lagu Bunda," tandasnya.
Libatkan Pesinden
Sementara itu, penyanyi sekaligus sinden Elisha Orcarus menjadi salah satu magnet utama malam itu. Sosok yang dikenal melalui dunia wayang dan gamelan tersebut menunjukkan sisi lain kemampuannya saat membawakan lagu religi Katolik.
"Ini pengalaman pertama ikut konsernya Pak Grego. Saya sebenarnya asli sinden, tapi karena beberapa kali bertemu di podcast lalu mendapat kesempatan menyanyikan dua lagu," ujar Elisha.
Ia mengaku langsung tertarik ketika mengetahui tema lagu yang diangkat adalah tentang Bunda Maria.
"Saya suka banget karena bertemakan tentang Bunda Maria sebagai idola juga kasih Bunda Maria yang tak bertepi. Jadi saya langsung sangat tertarik karena saya juga fans Bunda Maria banget," katanya.
Elisha juga mengungkapkan tantangan terbesar selama proses kolaborasi adalah waktu produksi yang sangat cepat.
"Yang menantang adalah prosesnya cepat sekali. Sekali dikasih teks sama Pak Grego, terus baca notasi lalu langsung rekaman. Itu keren banget, prosesnya cepat tapi kualitasnya tetap bagus," ujarnya.
Meski dikenal sebagai sinden, Elisha memastikan penonton akan mendapatkan warna musik yang berbeda dalam konser tersebut.
"Nanti biar jadi kejutan ya, karena ada warna musik dan aransemen dari Pak Grego yang luar biasa. Tetap asik dan chill," katanya.
Romo Yoseph Kristanto, Pr dari Paroki Maria Assumpta Klaten, mengapresiasi konser tersebut dikemas menyatu dengan doa Rosario sebagai bagian penghormatan kepada Bunda Maria di Bulan Maria.
"Pak Grego Julius menggandeng kami dari Paroki Maria Assumpta Klaten. Saya usulkan kalau bisa diletakkan di bulan Mei karena ini bulan penghormatan kepada Bunda Maria," ujarnya.
Menurutnya, pertunjukan malam itu bukan sekadar konser musik rohani biasa.
"Yang dipentaskan malam ini adalah lagu-lagu Maria tetapi dikemas di dalam doa Rosario. Jadi di antara sepuluh Salam Maria nanti ada lagu-lagu dari Pak Grego Julius," ungkap Romo Yoseph.
Ia bahkan mengaku kagum terhadap produktivitas Grego Julius yang tetap aktif berkarya di usia 70 tahun.
"Di usia 70 tahun masih bisa mengarang. ternyata ketika malam hari suasana tenang, ide dan perasaan itu keluar, baik sedih, gembira, berharap, dan semua itu terlihat di dalam nyanyian ini," pungkas Romo Yoseph.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung
