JOGJA - Universitas Gadjah Mada (UGM) menegaskan komitmennya untuk mendorong transformasi pendidikan sumber daya manusia (SDM) kehutanan agar mampu menjawab tantangan era industri hijau dan digital.
Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk "Reinventing Pendidikan Tinggi Kehutanan: Ilmu dan Desain Pendidikan Kehutanan Masa Depan", yang digelar di Auditorium Fakultas Kehutanan UGM, belum lama ini.
Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Sigit Sunarta, mengatakan bahwa dunia pendidikan kehutanan kini harus berevolusi untuk menghadapi perubahan besar akibat disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, teknologi bukan sekadar alat bantu, melainkan pengubah paradigma dalam tata kelola sumber daya alam.
“Kita tidak bisa lagi hanya menghasilkan lulusan yang kuat di ekologi atau silvikultur, tetapi juga harus adaptif, transformatif, dan peka terhadap keadilan sosial serta perkembangan teknologi informasi,” ujar Sigit.
Menurut Sigit, UGM sebagai universitas nasional bertekad menjadikan pendidikan kehutanan sebagai lokomotif pembangunan berkelanjutan menuju target net zero emission 2060.
Hutan Lestari Jadi Kunci Masa Depan
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama (PPUKS) UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, menilai bahwa krisis iklim, degradasi lahan, serta kehilangan biodiversitas menjadi tantangan besar yang harus dijawab dunia pendidikan tinggi.
"Kata kuncinya sederhana yakni hutan yang lestari. Tapi di balik dua kata itu, ada banyak persoalan mendasar yang perlu diselesaikan, terutama dalam sistem pendidikan kehutanan kita,” tegas Danang.
Sementara itu, Ketua Senat Fakultas Kehutanan UGM, Prof. San Afri Awang, menyoroti perlunya pembaruan paradigma pendidikan kehutanan di tengah perubahan sosial-ekologis yang cepat. Ia memperkenalkan konsep post-reality atau “posrealitas”, yakni kondisi ketika realitas alami mulai bercampur dengan simulasi dan dunia digital.
“Sekarang kita hidup di era di mana hutan bisa terlihat hijau di layar, padahal rusak di lapangan. Dunia kehutanan harus waspada agar tidak terjebak manipulasi data dan simulasi digital,” ungkap San Afri.
Baca juga: Alasan PSKP UGM Nilai Keterlibatan TNI dalam RUU KKS Ancam Supremasi Sipil dan Demokrasi
San Afri juga menekankan dua fondasi penting dalam pengembangan ilmu kehutanan, yakni filsafat hidup, yang menumbuhkan kesadaran hidup selaras dengan alam, dan filsafat akademik yang membangun ilmu berbasis budaya serta pengalaman ekologis lokal Indonesia.
BP2SDM KLHK Siapkan Transformasi SDM Kehutanan
Kepala BP2SDM Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indra Exploitasia, menegaskan pentingnya transformasi sistem pengembangan SDM kehutanan agar tidak lagi sekadar menjadi supporting system, tetapi menjadi bagian inti dari pengelolaan kehutanan nasional.
“Kami ingin pendidikan dan pelatihan menjadi sistem inti dalam proses bisnis kehutanan di Indonesia,” katanya.
Indra menjelaskan, BP2SDM tengah mengembangkan konsep corporate university untuk mengintegrasikan seluruh program pendidikan dan pelatihan di lingkungan KLHK serta memperkuat kemitraan dengan perguruan tinggi.
"Langkah ini diharapkan mampu melahirkan Forestry Human Excellence, dimana SDM kehutanan yang kompeten, berintegritas, inovatif, dan berorientasi pada keberlanjutan," ujar Indra.
Kolaborasi dan Rimbawan 5.0
Perwakilan Foretika (Forum Pendidikan Tinggi Kehutanan Indonesia), Soni Trison, menekankan perlunya kolaborasi antarperguruan tinggi kehutanan di Indonesia. Menurutnya, sinergi lintas kampus penting untuk menghadapi tantangan global seperti krisis iklim dan kesenjangan kapasitas antar lembaga.
“Pendidikan kehutanan jangan hanya mencetak sarjana, tapi harus melahirkan insan yang terus berkembang dan berperan dalam diplomasi lingkungan serta inovasi teknologi hijau,” ujar Soni.
Dari sisi dunia konservasi, Aditya Bayunanda, dari WWF Indonesia mengungkapkan adanya penurunan jumlah tenaga kerja di sektor kehutanan formal sejak 2015. Namun, di sisi lain, kebutuhan tenaga ahli di bidang keberlanjutan justru meningkat seiring dengan regulasi seperti POJK No. 51 Tahun 2017 tentang sustainability report.
"Ini peluang besar bagi lulusan kehutanan untuk berkiprah tidak hanya di pemerintahan, tapi juga di sektor swasta dan LSM,” jelasnya.
Menurut Aditya, dunia kehutanan kini membutuhkan Forester 5.0 rimbawan yang tidak hanya menguasai ilmu teknis, tetapi juga cakap digital, berempati sosial, dan tangkas berinovasi. Ia mendorong kampus untuk menjadi living forest, laboratorium hidup yang mengintegrasikan aspek ekologi, ekonomi, sosial, dan hukum.
"Dengan semangat kolaborasi lintas sektor, UGM dan para pemangku kepentingan berharap transformasi pendidikan kehutanan dapat melahirkan generasi rimbawan baru yang tangguh, adaptif, dan siap memimpin Indonesia menuju era industri hijau yang berkelanjutan," pungkas Aditya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dikirim Melalui E-mail